(Vibiznews – Commodity) – Harga kontrak berjangka minyak kelapa sawit mentah atau CPO acuan dunia berakhir melemah pada sesi perdagangan bursa komoditas Malaysia hari Jumat (18/9/2026). Harga komoditas andalan ini ditutup merosot ke level RM4.816 per metrik ton. Pelemahan penutupan ini terjadi setelah pergerakan harga sempat mengalami koreksi secara bertahap dari level tertingginya di kisaran RM4.940 per ton pada awal sesi perdagangan harian.
Faktor penekan utama yang membebani pergerakan harga hari ini bersumber dari perlambatan kinerja ekspor Malaysia. Laporan terbaru dari surveyor kargo mengestimasikan bahwa pengiriman produk minyak sawit Malaysia sepanjang paruh pertama bulan ini, tepatnya pada periode 1 hingga 15 September 2026, merosot tajam antara 17,8 persen hingga 25,6 persen jika dibandingkan dengan kinerja pada periode yang sama di bulan Agustus.
Merosotnya pengiriman fisik ini secara langsung memicu kecemasan di kalangan pelaku pasar terhadap potensi penumpukan pasokan domestik. Sentimen negatif tersebut semakin diperparah oleh bayang-bayang proyeksi persediaan stok CPO Malaysia yang diperkirakan akan melambung mendekati angka 3 juta ton pada akhir bulan September ini. Secara psikologis, tingginya proyeksi stok akhir bulan tersebut sangat membatasi ruang bagi pergerakan harga untuk menguat dalam jangka pendek.
Selain tantangan dari sisi fundamental pasokan, pasar minyak sawit juga mendapat tekanan dari melemahnya harga komoditas minyak nabati substitusi. Terpantau pelemahan menular ke pasar sawit setelah kontrak minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) merosot 1,02 persen. Sejalan dengan itu, di Bursa Dalian Tiongkok, minyak kedelai turun 0,34 persen dan kontrak minyak sawit domestiknya ikut terkoreksi sebesar 1,06 persen. Penurunan harga pada komoditas kompetitor ini membuat CPO kehilangan daya tarik keekonomian relatifnya di mata para pembeli global.
Melengkapi rentetan sentimen negatif penekan pasar hari ini, pelemahan harga juga terseret oleh melorotnya harga minyak mentah dunia. Terpantau harga minyak mentah jenis Brent mengalami penurunan sebesar 0,75 persen menuju kisaran US$104 per barel. Harga minyak mentah berbasis fosil yang menjadi lebih murah ini secara langsung melemahkan insentif komersial dari konversi minyak sawit mentah menjadi bahan bakar nabati atau biodiesel, sehingga turut menekan prospek permintaan dari sektor energi.








