(Vibiznews – Commodity) Harga minyak mentah berakhir turun pada akhir pekan hari Jumat, 18 September 2026, terpicu meredanya kekhawatiran gangguan pasokan di kawasan Timur Tengah.
Harga minyak mentah berjangka WTI AS berakhir turun 1,58% pada $100,30 per barel.
Harga minyak mentah berjangka Brent berakhir turun 1,56% pada $103,19 per barel.
Pasar memperkirakan bahwa penutupan jalur pipa utama Arab Saudi akan berdampak lebih kecil terhadap pasokan dibandingkan kekhawatiran awal.
Citra satelit menunjukkan bahwa Arab Saudi telah menyalurkan 2,8 juta barel per hari (bpd) melalui Selat Hormuz dalam enam hari terakhir, dibandingkan dengan hanya 700.000 bpd pada bulan Agustus.
Arab Saudi dilaporkan telah menjual hingga 60 juta barel minyak mentah dari pelabuhan Ras Tanura di Teluk Persia—untuk pengapalan bulan September dan Oktober ke luar selat—melalui metode transfer antar-kapal.
Laporan bahwa Aramco berencana memulihkan separuh dari kapasitas aliran harian jalur pipa tersebut juga meredakan kekhawatiran mengenai pasokan.
Meski demikian, hanya empat kapal komoditas yang terdeteksi melintasi Selat Hormuz pada hari Kamis.
Pasar fokus pada upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik AS-Iran, meskipun serangan baru oleh kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran terus menjaga ketegangan tetap tinggi.
Presiden AS Donald Trump mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Fox News bahwa ia kemungkinan terbuka untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di sela-sela Sidang Umum PBB di New York minggu ini.
Setiap kemajuan menuju negosiasi dapat mengurangi premi risiko geopolitik pada harga minyak mentah.
Namun, serangan terbaru Houthi menyoroti risiko yang dihadapi infrastruktur energi dan jalur pelayaran di kawasan tersebut.
Kelompok Houthi melancarkan serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) ke arah Riyadh pada hari Sabtu, yang mendorong Arab Saudi mengeluarkan peringatan serangan udara untuk ibu kota tersebut. Serangan itu terjadi saat kelompok tersebut meningkatkan kampanyenya melawan Arab Saudi di tengah konflik AS-Iran yang lebih luas.
Ketegangan yang kembali memanas ini telah memicu kekhawatiran akan gangguan lebih lanjut terhadap ekspor minyak Arab Saudi. Pipa Timur-Barat Arab Saudi, yang mengangkut minyak mentah dari ladang minyak di wilayah timur kerajaan menuju Laut Merah, masih terdampak oleh serangan, meskipun Riyadh telah berupaya mencari cara alternatif untuk menyalurkan minyak ke pasar internasional.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga minyak dapat bergerak turun dengan harapan pertemuan diplomatik untuk menyelesaikan konflik AS-Iran.
Harga minyak mentah berjangka WTI AS diperkirakan bergerak dalam kisaran Support $98,50-$96,70. Namun jika naik, akan bergerak dalam kisaran Resistance $102,79-$105,28.
Harga minyak mentah berjangka Brent diperkirakan bergerak dalam kisaran Support $101,74-$100,29. Namun jika naik, akan bergerak dalam kisaran Resistance $104,82-$106,45.








