Rekomendasi Harga Minyak 30 September 2026 : Dapat Turun Dengan Pulihnya Pasokan Arab Saudi dan Cadangan Minyak AS; Cermati Data Pasokan AS dan Negosiasi AS-Iran

23

(Vibiznews – Commodity) Harga minyak mentah berakhir merosot pada hari Selasa, 29 September 2026, di tengah tanda-tanda membaiknya produksi minyak mentah di Timur Tengah.

Harga minyak mentah berjangka WTI AS berakhir merosot 3,48% pada $89,38 per barel.

Harga minyak mentah berjangka Brent berakhir merosot 1,71% pada $96,16 per barel.

Tanda-tanda peningkatan ekspor minyak dari Arab Saudi memberikan tekanan turun bagi harga. Data pelacakan yang dihimpun oleh Bloomberg menunjukkan ekspor minyak mentah Arab Saudi mencapai 5,28 juta barel per hari (bpd) pada bulan September, angka tertinggi dalam tujuh bulan terakhir. Arab Saudi juga menyatakan telah memulihkan sekitar 3,5 juta bpd dari kapasitas 7 juta bpd pada Pipa Timur-Barat (East-West Pipeline) pada hari Senin, setelah perbaikan merestorasi jalur yang sempat rusak akibat serangan pesawat nirawak (drone) awal bulan ini.

Selain itu, penguatan indeks dolar AS ke level tertinggi dalam dua bulan pada hari Selasa memberikan tekanan turun bagi harga energi.

Penurunan harga minyak mentah semakin tajam pada hari Selasa setelah pemerintahan Trump mengumumkan akan melepas hingga 40 juta barel minyak mentah dari Cadangan Minyak Strategis AS.

Penurunan signifikan harga minyak mentah tampaknya terbatas dalam waktu dekat seiring memudarnya harapan akan terobosan segera untuk mengakhiri konflik terkait Iran dan membuka kembali Selat Hormuz. Harga minyak mentah juga mendapat dukungan karena milisi Houthi yang didukung Iran di Yaman telah meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi. Kelompok pemberontak tersebut menargetkan fasilitas energi di Arab Saudi menggunakan rudal dan pesawat nirawak, sehingga memaksa beberapa fasilitas minyak menghentikan sebagian produksinya. Arab Saudi menyatakan bahwa produksi minyak mentahnya pada bulan Agustus turun menjadi 6,238 juta bpd, level terendah sejak tahun 1990.

AS dan Iran masih berselisih mengenai isu-isu utama, termasuk kendali atas Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri AS Rubio mengatakan pada hari Rabu lalu bahwa perundingan damai dengan Iran terhambat oleh para pemimpin Garda Revolusi Iran. Presiden Iran Pezeshkian menyatakan pada hari Rabu lalu bahwa Iran tidak akan mengizinkan kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz selama sanksi dan blokade AS masih diberlakukan.

Dinihari tadi telah dirilis data pasokan minyak mentah mingguan AS oleh API yang menurun. Persediaan minyak mentah AS naik sebesar 1,019 juta barel pada pekan yang berakhir tanggal 25 September, di bawah perkiraan penurunan sebesar 1,9 juta barel. Pada pekan sebelumnya, persediaan meningkat sebesar 1,79 juta barel.

Malam nanti akan dirilis data pasokan minyak mentah mingguan AS oleh EIA, yang jika terealisir menurun, akan meningkatkan harga minyak mentah.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga minyak dapat bergerak turun dengan membaiknya produksi Arab Saudi dan  pelepasan cadangan minyak dalam jumlah besar oleh AS. Namun jika kebuntuan negosiasi AS-Iran untuk pembukaan Selat Hormuz terus meningkat, akan menguatkan harga minyak. Data pasokan minyak mentah mingguan AS oleh API yang terealisir turun juga meningkatkan harga minyak. Pasar minyak juga akan mencermati rilis data pasokan minyak mentah mingguan AS oleh EIA, apakah terealisir menurun atau meningkat.

Harga minyak mentah berjangka WTI AS diperkirakan bergerak dalam kisaran Resistance $93,15-$96,93. Namun jika turun, akan bergerak dalam kisaran Support $87,19-$85,01.

Harga minyak mentah berjangka Brent diperkirakan bergerak dalam kisaran Resistance $99,11-$102,07. Namun jika turun, akan bergerak dalam kisaran Support $94,37-$92,59.