(Vibiznews – Commodity) Harga gula mentah di bursa komoditi berjangka internasional New York, berakhir turun pada hari Senin, 19 Oktober 2026.
Harga gula berjangka kontrak Maret 2027 ditutup turun 0,28 sen atau 1,34% pada 20,57 sen per pon, penutupan terendah dalam sepekan terakhir. Harga dibuka di 20,84 dan sempat naik ke 20,95, namun berbalik turun hingga menyentuh level terendah harian di 20,48. Gula putih London kontrak Desember ditutup turun 8,10 poin atau 1,46% pada 546,80 dolar AS per ton, dengan selisih harga kontrak Desember 2026 dan Maret 2027 melebar ke minus 15,90 dolar.
Faktor utama yang menekan harga adalah menipisnya dukungan beli. Aksi beli ringan yang sempat mengangkat harga ke 20,95 cepat habis dan meninggalkan kekosongan permintaan di bawahnya. Pergerakan harga masih didominasi spekulan kecil, sementara dana besar belum ikut mendorong pasar. Berdasarkan laporan Commitment of Traders terbaru, posisi beli bersih spekulatif naik 16.184 lot menjadi 228.743 lot, dengan spekulan menambah 12.400 lot posisi beli dan memangkas 3.800 lot posisi jual. Di sisi lain, produsen menambah 17.800 lot posisi jual saat harga bertahan di sekitar 21 sen, sementara pengguna akhir memangkas 1.400 lot posisi beli, yang menunjukkan tekanan jual dari pelaku fisik di level harga tinggi.
Di sisi fundamental, prospek defisit pasokan global masih menopang harga. Organisasi Gula Internasional (ISO) pada 1 September memperkirakan produksi gula global musim 2026/27 turun 1 persen secara tahunan menjadi 180,1 juta metrik ton, dengan defisit sebesar 200 ribu metrik ton, berbanding surplus 1,1 juta metrik ton pada musim 2025/26. Thai Sugar Millers Corp memproyeksikan produksi gula Thailand berpotensi anjlok 17 persen secara tahunan menjadi 10 juta metrik ton, sementara Departemen Pertanian AS memangkas estimasi produksi Brasil menjadi 42,2 juta metrik ton dan India menjadi 29,5 juta metrik ton akibat cuaca buruk. Di sisi lain, USDA masih memperkirakan stok akhir gula global 2026/27 naik 2,0% secara tahunan menjadi 44,41 juta metrik ton, sehingga ruang penguatan lanjutan relatif terbatas.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya harga gula mentah berpotensi masih bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan melemah, seiring aksi profit taking dari posisi beli spekulatif yang sudah besar, minimnya partisipasi dana besar, dan tekanan dari pelaku fisik di level harga tinggi. Harga gula mentah diperkirakan akan bergerak menguji kisaran support terdekat di 20,38 hingga 20,20. Namun, apabila gangguan panen di Brasil dan ancaman El Nino kembali memicu aksi beli teknikal, pergerakan harga berpeluang berbalik arah menuju kisaran resistance 20,85 hingga 21,14.








