Rekomendasi Harga Kakao 2 November 2026

124

(Vibiznews – Commodity) Harga kakao di bursa komoditi berjangka New York berakhir turun tipis pada akhir pekan hari Jumat, 30 Oktober 2026, dan menyentuh level terendah satu bulan, memperpanjang tren koreksi dalam dua minggu terakhir. Pelemahan dipicu kenaikan persediaan kakao di gudang ICE serta kekhawatiran atas potensi peningkatan penjualan kakao dari Brasil.

Kontrak berjangka kakao acuan Desember di bursa ICE New York ditutup turun 3 poin atau 0,05%, pada kisaran $5.453 per ton. Sementara itu, kontrak kakao Desember di bursa ICE London ditutup turun 14 poin atau 0,31%.

Sepanjang pekan lalu, harga kakao tertekan setelah real Brasil anjlok sekitar 9% menyusul kemenangan Luiz Inacio Lula da Silva dalam pemilihan presiden Brasil. Pelemahan real mendorong eksportir Brasil mempercepat penjualan karena memperoleh harga dolar yang lebih tinggi. Brasil memang jauh lebih kecil dibandingkan negara-negara Afrika Barat dan Ekuador, tetapi merupakan produsen kakao terbesar ketujuh dunia dengan pangsa sekitar 4 hingga 5 persen dari produksi global. Harga turun 1,82 persen pada hari Senin dan turun 2,17 persen pada hari Rabu, sebelum bergerak mendatar pada hari Kamis.

Tekanan dari sisi stok juga masih terasa. Inventaris kakao yang dipantau ICE naik stabil sejak awal tahun dan mencapai level tertinggi dalam 2,5 tahun terakhir, yakni 3.675.109 kantong pada 23 Oktober.

Di sisi lain, pasokan dari Pantai Gading menjadi penopang harga. Data pemerintah menunjukkan petani mengirimkan 44.241 metrik ton kakao ke pelabuhan pada pekan yang berakhir 25 Oktober, jauh di bawah 82.010 metrik ton pada pekan yang sama tahun lalu. Estimasi produksi Pantai Gading musim 2026/2027 sekitar 1,8 juta metrik ton, turun 18 persen dari sekitar 2,2 juta metrik ton pada musim sebelumnya. Badan cuaca AS (Climate Prediction Center) juga menyebut pola El Niño yang muncul di Pasifik ekuator kemungkinan menjadi salah satu yang terkuat dalam lebih dari 75 tahun terakhir, yang biasanya membawa kondisi lebih kering ke Afrika Barat dan berpotensi menurunkan hasil panen.

Dari sisi permintaan, sentimen masih beragam. Penggilingan Amerika Utara kuartal ketiga turun 2,5 persen menjadi 109.978 metrik ton, lebih lemah dari ekspektasi. Namun, penggilingan Asia kuartal ketiga melonjak rekor 29 persen menjadi 233.767 metrik ton, dan penggilingan Eropa naik 3,2 persen menjadi 348.215 metrik ton.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga kakao berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan konsolidasi di sekitar level terendah satu bulan, di tengah tarik-menarik antara tingginya stok gudang dan potensi penjualan dari Brasil, melawan pengiriman Pantai Gading yang lebih kecil dan risiko El Niño. Apabila sentimen tingginya inventaris dan tekanan jual kembali mendominasi, harga kakao berpeluang melanjutkan koreksi untuk menguji area support di kisaran 5.359 hingga 5.265 dolar AS per metrik ton. Sebaliknya, apabila kekhawatiran pasokan dan cuaca Afrika Barat kembali menjadi sorotan, harga berpeluang rebound menguji area resistance di kisaran 5.544 hingga 5.635 dolar AS per metrik ton.