Pasar Keuangan Bearish, Rupiah Sempat Rekor Terendah, Menanti GDP — Domestic Market Outlook, 2-6 November 2026

138
Vibizmedia Picture

(Vibiznews – Editor’s Note) – Pasar investasi domestik pada seminggu berlalu diwarnai dengan sejumlah isyu, di antaranya:

  • Pasar keuangan di minggu lalu tetap bearish, dengan rupiah sempat di rekor terendahnya dan IHSG dekat area sekitar pandemi yang lalu.
  • Sentimen global saat ini masih sekitar tensi geopolitik Timur Tengah dan harga minyak mentah dunia yang volatile.
  • Data ekonomi yang diperhatikan pasar pekan mendatang ini adalah rilis tingkat inflasi IHK Oktober, S&P Global Manufacturing PMI Oktober, Neraca Perdagangan September pada hari Senin nanti; data pertumbuhan GDP Q3 September di hari Kamis; serta rilis cadangan devisa Oktober pada hari Jumat nanti.

Minggu berikutnya, isyu prospek ekonomi dalam dan luar negeri, akan kembali mewarnai pergerakan pasar. Seperti apa dinamika pasar hari-hari ini? Berikut detail dari Vibiznews Domestic Market Review and Outlook 2-6 November 2026.

===

Minggu yang baru lewat IHSG di pasar modal Indonesia terpantau merosot tajam setelah rebound kuat minggu sebelumnya, kembali mendekati area sekitar 6 tahun lebih terendahnya, di antara sentimen negatif ancaman MSCI ke pasar modal Indonesia ke standalone market, yang merupakan kasta terendah bursa saham dunia, naiknya yields obligasi AS yang menarik dana dari pasar berkembang, serta masih panasnya geopolitik Timur Tengah dengan berlanjutnya serangan Houthi ke kilang minyak Saudi. Sementara itu, bursa kawasan Asia pada seminggu ini umumnya mixed dan aga konsolidatif di tengah ketidakpastian arah harga minyak mentah dunia. Secara mingguan IHSG ditutup merosot tajam 7,03%, atau 382,208 poin, ke level 6.057,050.

Untuk minggu berikutnya (2-6 November 2026), IHSG kemungkinan masih bias negatif namun akan berupaya di level support-nya, dengan mencermati sentimen bursa regional sepekan depan. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance di level 5.455 dan 5.912. Sedangkan bila menemui tekanan jual di level ini, support ke level 4,907 dan bila tembus ke level 4,881.

 

Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan berlalu bergerak volatile dan melemah tajam di minggu yang ketiga, bahkan sempat jatuh di level rekor terendah sepanjang masa Rp18.183 per USD, lalu berangsur mengurangi loss ke area 5 bulan terendahnya, di antara penguatan dollar global. Rupiah secara mingguannya berakhir melemah tajam 164 poin atau 0,91% ke level Rp18.120 per USD. Sementara, dollar global agak rangebound di bawah 7 bulan tertingginya, di antara sentimen the Fed yang tetap hawkish walau masih Menahan suku bunganya di Oktober.

Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan akan tetap uptrend, atau rupiah kemungkinan dalam bias tekanan mengarah ke rekor ternedah barunya, dalam range antara resistance di level Rp18.183 dan Rp18.220, sementara support di level Rp17.875 dan Rp17.795.

 

Harga obligasi rupiah Pemerintah Indonesia jangka panjang 10 tahun terpantau turun secara mingguannya, terlihat dari pergerakan naik yields obligasi –di minggu ketiganya– dan berakhir ke level 7,643%. Sementara yields US Treasury terpantau menurun di pekan keempatnya.

 

===

 

 

===

Anda mungkin telah menyimak derasnya dana asing yang masuk atau keluar pasar modal, termasuk pasar Indonesia, yang mendongkrak bursa atau menghempaskannya. Memang demikianlah pergerakan dana investasi global. Begitu cepatnya mengalir ke berbagai instrument investasi menembus batas-batas antar negara. Begitu cepat masuk, mampir, dan begitu cepat pula keluar atau mengalami “switching” dari satu asset ke asset lainnya, serta dari satu negara ke negara lainnya.

Itu sebabnya kita perlu mempelajari dinamika portfolio investasi, baik dari sisi jenis, jangka waktu, tingkat risiko, typical, dll. Simak terus vibiznews.com dan jadilah investor yang sukses. Salam sukses bagi Anda, pembaca setia Vibiznews!

 

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting