(Vibiznews – Commodity) Harga kedelai di bursa komoditi berjangka Chicago Board of Trade (CBOT) berakhir melemah pada hari Rabu, 4 November 2026, dan turun ke level terendah sebelas pekan. Penutupan Rabu adalah data terakhir yang tersedia sebelum sesi hari Kamis.
Harga kedelai berjangka kontrak Januari 2027 ditutup turun 11¾ sen pada 12,02¼ dolar AS per bushel, penurunan hari kedelapan berturut-turut.
Kontrak Maret 2027 ditutup turun 10½ sen ke 12,10¼ dolar AS per bushel, sedangkan kontrak November turun 9¾ sen ke 11,93¼ dolar AS. Kontrak Januari sempat jatuh di bawah 12,00 dolar AS untuk pertama kalinya sejak pertengahan Agustus, lalu segera pulih ke atas level tersebut. Di pasar turunan, kedelai meal kontrak Desember naik 0,60 dolar AS ke 318,60 dolar AS per short ton, sedangkan minyak kedelai Desember anjlok 175 poin ke 63,53 sen per pon akibat tekanan dari minyak mentah dan minyak sawit.
Faktor utama yang menekan harga adalah likuidasi dana spekulatif dan pasokan besar Amerika Selatan. Posisi beli bersih gabungan dana spekulatif di kompleks kedelai turun ke 367.000 kontrak, masih besar secara historis namun jauh di bawah rekor 558.000 kontrak. ADM Investor Services menyebut hasil pemilu paruh waktu AS, yang menurut mereka membuat Demokrat menguasai DPR dan Senat, memunculkan kekhawatiran pasar bahwa China dan pihak lain bisa kurang patuh pada kesepakatan dagang pertanian AS, sehingga spekulan punya alasan tambahan melepas posisi. Dari sisi pasokan, badan pertanian Brasil Conab memperkirakan panen kedelai 2026/27 sebesar 181,6 juta ton pada 49,3 juta hektare, dan StoneX menaikkan proyeksi produksi AS 2026 menjadi 4,725 miliar bushel, naik 77 juta bushel. Margin crush juga turun 8 sen menjadi 2,06½ dolar AS per bushel.
Di sisi lain, permintaan ekspor tetap solid. Spanyol membeli 167.000 ton kedelai AS untuk musim 2026/27, sehingga penjualan terlapor dalam empat hari terakhir mencapai 734.150 ton. Ekspor kedelai September menurut data Census sebesar 134 juta bushel, naik 28% dari tahun lalu, dan pembelian China diperkirakan mendekati 20 juta ton dari target 25 juta ton per tahun. Secara teknikal, DTN menilai harga kini mendekati dukungan tren jangka panjang yang berasal dari 2025, meski momentum jangka pendek masih bearish dan pasar menunggu pemicu baru. Perkiraan ekspor mingguan USDA yang dirilis Kamis berada di kisaran 35 hingga 90 juta bushel.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya harga kedelai berpotensi masih bergerak sideways dengan kecenderungan melemah, seiring likuidasi posisi dana spekulatif dan pasokan Brasil, namun area jenuh jual dan dukungan tren jangka panjang membuka peluang pantulan teknikal. Harga kontrak Januari diperkirakan akan menguji kisaran support terdekat di 12,00 hingga 11,90 dolar AS per bushel, dengan support lanjutan di sekitar 11,80 dolar AS, yaitu low Agustus. Namun, apabila data ekspor mingguan kuat dan pembelian China berlanjut, pergerakan harga berpeluang berbalik arah menuju kisaran resistance 12,14 hingga 12,20 dolar AS per bushel, dengan resistance berikutnya di 12,27 hingga 12,35 dolar AS.








