(Vibiznews – Commodity) Setelah sempat turun ke bawah $1,800 di sekitar $1,792 harga emas mengalami kenaikan karena melemahnya dollar AS dan mencapai ketinggiannya di $1,830 dengan meningkatnya keengganan terhadap resiko di pasar, kekuatiran terhadap inflasi, ketidakpastian bank sentral dan Korea Utara yang mengadakan uji coba nuklirnya, sebelum akhirnya terkoreksi normal, kembali turun ke $1,816 per troy ons.
Outlook harga emas kelihatannya semakin baik memasuki minggu ketiga dari tahun yang baru. Dasarnya adalah ada konskwensi dari potensi kesalahan kebijakan moneter dengan Federal Reserve menjadi semakin hawkish ditengah data inflasi yang terbaru. Emas belum berhasil menembus resistance ketinggiannya belakangan ini, namun ke depannya outlook harga emas cukup bagus.
Ancaman inflasi akhirnya mendorong naik emas dengan para investor memperkirakan tekanan harga akan terus naik. Emas berjangka kontrak bulan Februari di Comex terakhir diperdagangkan di $1,816.90, naik lebih dari 1% dalam seminggu.
Dua data kunci yang membuat pasar berada pada sentimen yang “risk-off adalah inflasi dan penjualan ritel. Di AS, pada bulan Desember, inflasi berlari dengan kecepatan terpanas sejak tahun 1982. Naik 7% selama 12 bulan terakhir. Sementara, penjualan ritel turun paling banyak di dalam 10 bulan terakhir, jatuh ke 1.9%.
Selain inflasi, harga emas juga akan digerakkan oleh dollar AS dan yields obligasi AS. Dolar AS sedang mengalami tekanan jual yang berat sehingga memberikan ruang bagi kenaikan harga emas. Sementara yields obligasi AS baru saja menghentikan kenaikannya karena sudah mencapai rekor ketinggiannya.
Investor emas sedang memperhatikan kemana dollar AS akan bergerak. Setelah sempat naik dari 95.63 ke 96.13 karena risalah pertemuan FOMC AS yang hawkish, minggu ini dollar AS kembali tertekan. Pada hari Rabu, munculnya angka CPI AS yang naik ke 7% sesuai dengan yang diperkirakan, telah memicu tekanan jual yang kuat atas dollar AS. Indeks dollar AS turun 0.6% ke 95.00 dan pada minggu ini indeks dollar AS kembali ditutup di teritori negatip memperpanjang penurunan ke kerendahan selama dua bulan yang baru di 94.60, meskipun demikian, sempat meredanya minat terhadap resiko pada akhir hari Jumat minggu lalu, berhasil menaikkan indeks dollar AS sedikit ke 94.80.
Pulihnya Eropa bersamaan dengan menguatnya euro bisa memainkan peranan yang kritikal dalam menentukan arah dari dollar AS. Pemulihan ekonomi global bisa memberikan banyak potensi pertumbuhan ekonomi Eropa yang bisa melemahkan dollar AS. Cerita mengenai pertumbuhan ekonomi euro tertunda dari 2021 ke 2022.
Setelah kenaikan tingkat bunga yang akan dilakukan pada bulan Maret, maka akan dilanjutkan dengan kenaikan tingkat bunga pada bulan Juni, bersamaan dengan pengurangan neraca. Disinilah bisa terjadi potensi kesalahan kebijakan dan akan berdampak terhadap ekonomi. Satu hal yang tidak bisa dikendalikan adalah resikonya terhadap ekonomi AS. Kebijakan the Fed ini bisa membuat kurva pemulihan ekonomi menjadi terbalik satu atau dua tahun ke depan. Semua resiko ini semakin meningkat dengan berjalannya waktu.
Tahun lalu, the Fed mengatakan bahwa mereka memperkirakan pertumbuhan ekonomi yang baik dengan kenaikan tingkat bunga yang perlahan-lahan. Namun yang terjadi adalah naiknya inflasi ke 7% dan pengetatan kebijakan ekonomi yang agresif. Kemungkinan terjadinya kesalahan dalam memutuskan kebijakan moneter AS ini bisa menjadi faktor yang positip bagi metal berharga emas.
Saham bisa jadi akan membantu naiknya harga emas pada minggu ini. Ada hubungan yang tidak biasanya antara emas dengan saham di dalam perdagangan sejak terjadinya Covid. Perdagangan di masa Covid biasanya menekan harga saham dan juga harga emas. Minggu ini harga saham bisa mengalami kenaikan yang akan berdampak positip terhadap harga emas.
Setelah terus berada pada sentimen yang “risk-on”, namun pada akhir minggu minat terhadap resiko berkurang sehingga menekan turun indeks saham utama AS di bursa Wall Street, ditambah dengan buruknya performance dari information-technology yang digeneralisir secara luas.
Dow Jones turun 0.49% 36.113,62
S&P 500 turun 0.62% ke 4,623.75
Nasdaq turun 2,57% ke 15.495,62
Minggu ini, sentiment “risk-on” bisa kembali muncul setelah koreksi normal pada hari terakhir dari minggu lalu.
Sejalan dengan bursa Wall Street, bursa regional Asia juga ditutup di teritori negatip dengan pasar ketakutan akan dua hal. Pertama, tindakan the Fed yang akan menghentikan bantuan dan kedua merebaknya Omicron yang mencapai rekor tertinggi dari Covid – 19.
Hang seng turun 0,19% ke 24.383,32
Nikkei turun 1,28% ke 28.124,28
Kospi turun 1.36% ke 2.921,92
Tindakan the Fed yang akan menghentikan bantuan telah diperhitungkan di dalam harga sehingga bisa berbalik memicu kembalinya sentimen “risk-on” di pasar saham, sementara merebaknya Omicron kemungkinan tidak dianggap berbahaya bagi pasar dengan pandangan: “Omicron, meskipun semakin banyak yang tertular, namun tidak membahayakan dan justru menjadi muncul antibody yang lebih kuat dari vaksin manapun.
Bagi Amerika Serikat, minggu ini menjadi minggu yang pendek dengan pasar tutup pada hari Senin karena liburan hari Martin Luther King. Data makro ekonomi yang keluar tidak banyak diperhatikan pasar kecuali klaim pengangguran yang akan keluar pada hari Kamis. Pasar memperkirakan klaim pengangguran akan turun ke 221.000 dari minggu sebelumnya di 230.000. Selain itu data yang akan keluar adalah data perumahan termasuk Building Permits dan Housing Starts pada hari Rabu. Building Permits di perkirakan tidak berubah di 1.71 juta. Sementara Housing Starts diperkirakan sedikit turun dari 1.68 juta ke 1.65 juta. Data lainnya adalah data mengenai manufaktur, antara lain N.Y. Empire State manufacturing index pada hari Selasa yang diperkirakan turun dari 31.9 ke 25.0 dan Philadelphia Fed manufacturing index pada hari Kamis yang diperkirakan naik dari 15.4 ke 19.9.
Minggu lalu emas telah berjuang di sekitar level $1,830 karena pertarungan antara naiknya inflasi dengan naiknya yields treasury AS. Minggu ini, jika yields obligasi AS tidak berhasil naik, emas akan bisa naik antara $50 – $70. Jika emas bisa menembus resistance kuat di $1,833 dan kemudian bertahan di $1,840, maka emas bisa mengalami momentum bullishnya kembali.
“Support” terdekat menunggu di $1,811 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $1,800 dan kemudian $1,781.
“Resistance” terdekat menunggu di $1,825 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $1,833 dan kemudian $1,850.
Ricky Ferlianto/VBN/Managing Partner Vibiz Consulting
Editor: Asido


