(Vibiznews – Commodity) Harga emas berhasil masuk ke teritori positip dan menarik minat beli dari investor dengan Federal Reserve Philladelphia mengatakan bahwa sektor manufaktur regional telah terkontraksi sejak bulan Juni. Pada hari Kamis, bank sentral regional ini mengatakan bahwa outlook bisnis manufakturnya jatuh ke – 3.3 untuk bulan Juni, turun dari angka bulan Mei di 2.6. Data ini juga meleset dari yang diperkirakan konsensus pasar yang mengatakan kenaikan sebesar 5.1.
Emas berjangka kontrak bulan Agustus naik $9.70 ke $1,844.20 per troy ons. Sementara perak berjangka Comex bulan Juli turun $0.055 ke $21.365 per ons.
Pasar saham global kebanyakan turun dalam perdagangan semalam. Indeks saham AS mengarah turun dengan solid pada saat pembukaan perdagangan sesi New York dimulai. Keengganan terhadap resiko meningkat menjelang akhir minggu ini, setelah Federal Reserve AS menaikkan tingkat bunga dengan agresif sebanyak 0.75% yang menaikkan ketakutan akan terjadi resesi di AS. Naiknya harga-harga memukul masyarakat AS dan pemulihannya akan menyakitkan juga. Kemungkinan akan terjadi resesi untuk bisa keluar dari inflasi.
Hal lain yang mengkuatirkan di pasar keuangan adalah jatuhnya nilai Yen Jepang terhadap dollar AS. Yen Jepang kehilangan sepertiga dari nilainya terhadap dollar AS selama 1,5 tahun terakhir dengan Bank of Japan tetap mempertahankan kebijakan moneter mudahnya. Melemahnya dengan tajam Yen Jepang adalah pertanda berikutnya bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan ekonomi global.
Semua hal di atas bekerja sama membatasi penurunan dari metal safe-haven seperti emas. Meskipun demikian, emas sedikit mengalami frustrasi dengan harganya tidak mengalami rally lebih banyak. Sejarah menunjukkan inflasi harga yang problematik adalah bullish bagi assets keras dan bearish di assets kertas.
“Support” terdekat menunggu di $1,825 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $1,810 dan kemudian $1,800.
“Resistance” terdekat menunggu di $1,850 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $1,875 dan kemudian $1,882.
Ricky Ferlianto/VBN/Head Research Vibiz Consulting
Editor: Asido


