Pilihan Investasi Menarik di Tengah Volatilitas Pasar Keuangan

877
Pilihan Investasi Menarik di Tengah Volatilitas Pasar Keuangan

 

(Vibiznews – Economy & Business) – Pengumuman kebijakan tarif resiprokal AS awal April 2025 untuk puluhan negara, memberikan dampak yang luar biasa bagi ekonomi global.

Meskipun kemudian pelaksanaan tarif tersebut ditunda 90 hari serta sudah beberapa negara melakukan negosiasi dengan AS, seperti Jepang, Vietnam, juga Indonesia yang termasuk di awal.

Perkembangan terakhir kabarnya dengan India sudah deal, serta China siap melakukan negosiasi dengan AS.

Namun dampaknya telah menimbulkan ketidakpastian di pasar global dan menurunnya volume perdagangan dunia.

Akibatnya, pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2025 diprakirakan akan menurun dari 3,2% menjadi 2,9% dengan penurunan terbesar terjadi di AS dan Tiongkok sejalan dengan dampak tensi dagang kedua negara tersebut.

Meskipun demikian, situasi seperti ini bisa membukakan peluang bagi Indonesia untuk mendorong investasi. Peluang dapat muncul dari diversifikasi pasar ekspor, sementara tantangan dapat timbul dari kenaikan biaya impor dan penurunan daya saing produk ekspor. Dalam kondisi seperti ini, strategi investasi yang bijak bagi investor retail cenderung fokus pada diversifikasi, perlindungan nilai, dan sektor-sektor defensif.

Berikut beberapa pilihan investasi menarik yang dapat dipertimbangkan:

1. Sektor Domestik yang Tahan Gejolak Global

Misalnya barang kebutuhan pokok, permintaan tetap stabil. Demikian juga sektor kesehatan dan telekomunikasi merupakan sektor defensif, cenderung tidak terlalu terpengaruh gejolak internasional.

Oleh karena itu, investasi yang menarik adalah yang dapat memanfaatkan peluang dan mengantisipasi tantangan tersebut, seperti investasi di sektor yang tidak terlalu bergantung pada ekspor ke Amerika Serikat, atau investasi yang fokus pada inovasi dan peningkatan efisiensi untuk mengurangi dampak tarif.

2. Obligasi Negara/Surat Utang

Obligasi pemerintah (khususnya tenor pendek dan menengah) cenderung lebih stabil dan aman saat pasar ekuitas bergejolak. Dan penting untuk diperhatikan adalah pilih negara dengan fundamental ekonomi kuat dan inflasi terkendali.

Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia merupakan salah satu instrumen yang diminati termasuk investor asing. Tidak heran jika terjadi aliran dana asing yang masuk kembali kepada Surat Berharga Negara. Berdasarkan data setelmen BI per 30 April 2025, investor asing beli neto sebesar Rp23,01 triliun di pasar SBN.

Obligasi FR & Reksa Dana Obligasi: Meskipun pasar saham AS turun signifikan, yield obligasi jangka pendek AS (<1 tahun) turun dari >4% menjadi ~3,8%. Penurunan ini juga dapat mendorong naik harga obligasi Indonesia. Namun, mengingat ketidakpastian ekonomi global, investor dapat mempertimbangkan obligasi jangka pendek yang volatilitasnya lebih rendah, seperti Obligasi FR PBS003 dan ST014-T2.

3. Emas

Emas sering kali menjadi safe haven ketika pasar saham mengalami penurunan, sementara reksa dana pendapatan tetap yang banyak berinvestasi pada obligasi, cenderung lebih stabil.

Namun sebelum memutuskan untuk melakukan investasi apa di saat seperti ini, maka investor perlu menyesuaikan dulu dengan profil risiko masing-masing investor.

Melihat inflasi yang masih menghantui dan fluktuasi pasar saham yang volatile, keputusan investasi pun makin butuh pertimbangan yang matang. Sedangkan emas, dianggap sebagai aset yang aman (safe haven). Seringkali harganya naik ketika pasar saham sedang bergejolak, seperti yang terjadi akibat kebijakan tarif.
Harganya pun berkali-kali mencetak rekor tertinggi belakangan ini.

Pertanyaan paling sering muncul tahun ini adalah apakah investasi emas masih aman di tengah kebijakan Tarif Trump dan kondisi geopolitik yang memanas di Timur Tengah?

Emas tetap jadi favorit banyak orang , karena sifatnya yang stabil dan tahan terhadap gejolak. Emas menjadi investasi yang aman saat dunia tak menentu. Investasi emas di tahun 2025 tetap jadi pilihan saat ketegangan global dan kebijakan proteksionis seperti tarif tinggi terhadap barang impor mengacaukan pasar.

Kenaikan harga emas sering terjadi justru ketika saham rontok, terutama setelah beberapa sektor di AS terkena imbas dari tarif ekspor-impor.

Salah satu alasan kenapa orang memilih emas adalah perlindungan dari inflasi. Saat harga kebutuhan naik dan daya beli dolar melemah, emas masih bisa mempertahankan nilainya.

Di tahun 2025 ini, ketika pengaruh kebijakan Tarif Trump mendorong harga barang impor makin tinggi, emas bisa jadi pilihan aman.

Grafik Pergerakan Harga Emas LM Antam Jan 22 – May 2025

Grafik Pergerakan Harga Emas LM Antam Jan 22 - May 2025
Sumber: Logam Mulia

Dari grafik Januari 2022 sampai May 2025 di atas maka terlihat harga emas terus menunjukkan peningkatannya, bahkan dari sejak tahun-tahun sebelumnya.

Harga emas 24 karat Antam 1 Januari 2022 adalah Rp 945.000 per gram. Sedangkan harga emas 24 karat Antam pada hari Minggu 4 Mei 2025 adalah Rp 1.902.000 per gram. Berarti terjadi kenaikan sebesar Rp 957.000 atau 101,27%

4. Reksa Dana Pasar Uang/ Pendapatan Tetap

Instrumen ini menawarkan risiko rendah dan bisa menjadi tempat “parkir dana” sementara sampai situasi membaik. Reksa Dana Pasar Uang/Pendapatan Tetap cocok untuk investor dengan profil risiko konservatif.

Investasi reksa dana pendapatan tetap (RDPT) bisa tetap menguntungkan di saat kebijakan tarif, terutama jika inflasi rendah dan suku bunga stabil atau turun. Namun, jika inflasi tinggi dan suku bunga juga tinggi, RDPT mungkin akan mengalami dampak negatif.

Karena harga obligasi yang menjadi portofolio RDPT sangat dipengaruhi oleh suku bunga. Jika suku bunga naik, harga obligasi cenderung turun, sehingga nilai unit penyertaan RDPT bisa berkurang.

Reksa dana pendapatan tetap adalah jenis reksa dana yang sebagian besar dananya (minimal 80%) diinvestasikan dalam instrumen utang, seperti obligasi atau sukuk dengan jangka waktu satu tahun atau leblih. Dan efek ini bisa diterbitkan oleh pemerintah maupun korporasi.

RDPT memiliki tingkat risiko yang lebih tinggi dibandingkan reksa dana pasar uang, tetapi lebih rendah dibandingkan reksa dana saham. Jadi, sangat cocok untuk investor yang menghindari risiko tinggi dan menginginkan imbal hasil yang lebih baik daripada instrumen pasar uang.

5. Investasi Kripto

Investasi yang juga menarik dilakukan pada saat ini adalah Kripto terutama Bitcoin karena harganya terus melonjak pada akhir-akhir ini.

Bitcoin kini tercatat sebagai salah satu aset terbesar di dunia dengan kapitalisasi pasar mencapai US$ 1,87 triliun. Pada Rabu (23/4), nilai tersebut menempatkan Bitcoin di atas raksasa teknologi seperti Alphabet (Google) dan Amazon.

Menurut CEO Indodax, Oscar Darmawan, pencapaian ini menegaskan posisi Bitcoin sebagai aset yang semakin diakui secara global.

Sebagai informasi, kapitalisasi pasar Bitcoin pada Rabu (23/4) membuatnya menjadi aset terbesar kelima di dunia, mengungguli Google yang sebesar US$ 1,86 triliun, logam mulia perak US$ 1,85 triliun, dan Amazon US$ 1,84 triliun.

Dengan demikian, Bitcoin menjadi satu-satunya aset digital yang berhasil menembus dominasi aset konvensional seperti logam mulia dan saham perusahaan teknologi besar. (Sumber: Kontan.co.id, 25 April 2025, Bitcoin Jadi Aset Terbesar Kelima di Dunia, Lampaui Amazon dan Google).

Sebagai informasi, berdasarkan data Coinmarketcap per Jumat (25/4) pukul 08.40 WIB, harga Bitcoin tercatat sebesar US$ 93.812, naik lebih dari 10% dalam sepekan terakhir.

Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor global terhadap Bitcoin.
Bitcoin tidak hanya sebagai alat tukar, tetapi juga sebagai penyimpan nilai jangka panjang. Hal ini tercermin dari semakin banyaknya institusi keuangan yang memasukkan Bitcoin ke dalam portofolio investasi mereka.

Demikian juga halnya di Indonesia, tren positif terjadi pada investasi kripto di pasar dengan jumlah investor yang terus meningkat signifikan dan nilai transaksi yang besar. Meskipun saat ini aset kripto tidak diakui sebagai alat pembayaran yang sah.

Berdasarkan data Global Crypto Adoption Index 2025 per Desember 2024, investasi kripto di Indonesia menempati peringkat ketiga dunia. Dimana jumlah pengguna aset kripto yang membuka akun di berbagai platform dalam negeri telah mencapai 22,9 juta akun.

Pertumbuhan akun yang tinggi, dengan nilai transaksi mencapai Rp 650,6 triliun sepanjang tahun 2024. Jumlah ini mengalami lonjakan signifikan sebesar 335,9% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. (Sumber: Mochamad Januar Rizky, Hukumonline, 11 Februari 2025)

Selanjutnya, dilansir dari Vibiznews, 2 Mei 2025, Bitcoin naik lagi 1,7% menjadi $96.806,4, setelah naik setinggi $97.226,1 di awal sesi. Di sini terlihat tren positif Bitcoin di tahun 2025 ini.

Naiknya Bitcoin terdukung optiomisme perdagangan AS-Tiongkok, setelah Tiongkok melalui Kementerian Perdagangan China, memberi sinyal bahwa mereka terbuka untuk perundingan perdagangan dengan Amerika Serikat.

Komentar tersebut meningkatkan harapan untuk negosiasi perdagangan antara ekonomi terbesar di dunia, setelah mereka terlibat dalam perang dagang yang sengit pada bulan April.

Kesimpulan:

Menurut Analis Vibiz Research Center, dalam kondisi volatilitas pasar keuangan saat ini jika investor ingin berinvestasi yang bersifat lebih aman dan stabil. Maka emas , obligasi maupun reksa dana pasar uang/pendapatan tetap bisa jadi pilihan.

Namun perlu diketahui, kenaikan harga emas tidak terus menerus terjadi, pasti ada saatnya harga emas akan turun kembali.

Misalnya jika kondisi pasar keuangan lebih stabil, karena perkembangan positif negosiasi kebijakan tarif resiprokal yang lebih baik .Terutama antara AS dan Tiongkok, maka harga emas kemungkinan akan turun kembali.

Demikian juga dengan investasi kripto seperti bitcoin dalam kondisi pasar yang volatile seperti saat ini maka investasi dalam bitcoin tentu saja bisa menghasilkan keuntungan yang tinggi, sehingga banyak investor yang mulai beralih ke Bitcoin.

Namun, penulis mengingatkan pentingnya pemahaman terhadap risiko investasi di pasar kripto yang sangat fluktuatif. Karena volatilitas tinggi kripto merupakan risiko dibalik imbal hasilnya yang tinggi. Peningkatan harga kripto yang tinggi diikuti dengan penurunan yang tinggi pula.

Selain itu aset kripto rentan terhadap kejahatan siber seperti peretasan dan skema phishing. Sehingga perlu dilakukan mitigasi terhadap risiko yang dihadapi dalam investasi kripto.

Satu lagi tips mengatasi kondisi market yang volatile maka miliki portfolio yang seimbang dan sesuai dengan profil risiko investor.

Alokasi yang terdiversifikasi di berbagai kelas aset dapat membantu meminimalisasi dampak volatilitas.

Belinda Kosasih/ Partner of Banking Business Services/Vibiz Consulting