Pasar Modal Bergejolak, Fondasi Ekonomi Dipertanyakan

Pasar modal yang tidak pasti bukan berarti tidak memiliki peluang, tetapi membutuhkan kesabaran dan disiplin yang lebih besar.

70
OJK-BEI Berikan Stimulus Untuk Dukung Pasar Saham Indonesia
Vibizmedia Photo

(Vibiznews-Kolom) Di tengah optimisme yang kerap diperdengarkan di ruang publik, ada perasaan lain yang pelan-pelan tumbuh di kalangan pelaku pasar: kegelisahan. Angka pertumbuhan ekonomi memang masih terlihat baik di atas kertas, indeks saham sempat mencetak rekor, dan pemerintah terus menyampaikan keyakinan bahwa fundamental ekonomi tetap kuat. Namun di balik itu semua, pasar justru bergerak ke arah yang berbeda. Modal asing keluar, nilai tukar tertekan, dan persepsi global terhadap Indonesia berubah lebih cepat daripada narasi resmi yang beredar.

Realitas seperti ini tidak selalu mudah diterima, karena selama bertahun-tahun publik terbiasa melihat ekonomi melalui angka makro yang tampak stabil. Pertumbuhan lima persen dianggap cukup, defisit anggaran masih dalam batas tertentu, dan rasio utang terhadap produk domestik bruto terlihat terkendali. Tetapi ekonomi tidak pernah berdiri hanya pada statistik agregat. Ia hidup dalam perilaku konsumsi masyarakat, dalam keberanian investor mengambil risiko, dan dalam kepercayaan terhadap arah kebijakan negara.

Salah satu sinyal paling jelas datang dari melemahnya daya beli kelas menengah. Konsumsi yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan mulai kehilangan tenaga. Tabungan masyarakat menyusut, aktivitas belanja tidak sekuat sebelumnya, bahkan indikator sosial seperti mobilitas masyarakat pada momen tertentu menunjukkan perubahan pola. Gejala-gejala ini mungkin tampak kecil jika dilihat satu per satu, tetapi ketika dirangkai, mereka membentuk gambaran yang berbeda dari narasi optimisme yang sering disampaikan.

Di sisi lain, pasar keuangan menunjukkan dinamika yang jauh lebih cepat. Indeks saham pernah melesat tinggi, menciptakan euforia bahwa Indonesia sedang berada dalam fase keemasan. Namun kenaikan tersebut ternyata tidak sepenuhnya ditopang oleh kekuatan fundamental perusahaan. Sebagian besar dorongan datang dari saham-saham dengan valuasi ekstrem dan likuiditas tipis, sementara sektor perbankan—yang biasanya menjadi cerminan kesehatan ekonomi—justru menghadapi tekanan. Ketika arus dana asing berbalik arah, indeks turun tajam dan memperlihatkan betapa rapuhnya fondasi kenaikan sebelumnya.

Fenomena ini sering memunculkan pertanyaan klasik: apakah pasar yang salah, atau justru cara kita membaca pasar yang keliru? Banyak orang dengan mudah menyalahkan investor asing setiap kali terjadi penurunan. Padahal modal tidak mengenal batas negara. Uang bergerak mengikuti peluang, bukan sentimen nasional. Sistem devisa bebas yang dianut Indonesia memang membuka ruang bagi arus dana keluar masuk dengan cepat. Ketika risiko dianggap meningkat, keputusan investor menjadi sederhana: menarik dana dan menunggu di tempat lain.

Yang menarik, perubahan persepsi global tidak selalu berasal dari satu faktor tunggal. Kombinasi kebijakan fiskal yang agresif, program belanja negara dengan nilai besar, serta arah reformasi institusi yang dianggap belum jelas membuat sebagian investor merasa berada di wilayah yang sulit diprediksi. Risiko sebenarnya masih bisa dihitung, tetapi ketidakpastian jauh lebih sulit dikelola. Dalam dunia investasi, perbedaan antara keduanya sangat besar. Risiko dapat diukur, sedangkan ketidakpastian membuat model analisis kehilangan pijakan.

Isu institusi kemudian muncul sebagai benang merah yang menjelaskan banyak hal. Regulasi yang berubah-ubah, birokrasi yang lambat, dan praktik di pasar modal yang belum sepenuhnya transparan menciptakan persepsi bahwa ekosistem investasi belum matang. Keluhan tentang saham yang digoreng bukanlah cerita baru; fenomena ini sudah muncul sejak puluhan tahun lalu. Namun ketika masalah lama bertemu dengan kondisi global yang tidak bersahabat, dampaknya terasa lebih besar.

Disinilah peran pengawasan menjadi krusial. Pasar modal yang sehat membutuhkan regulator yang mampu mendeteksi praktik curang sejak dini, bukan setelah kerugian terjadi. Tanpa integritas sistem, pasar berisiko berubah menjadi arena spekulasi jangka pendek. Volatilitas tinggi yang terjadi belakangan memperlihatkan kecenderungan tersebut. Banyak pelaku masuk dan keluar dalam hitungan jam, mengejar keuntungan kecil dengan risiko besar. Bagi investor berpengalaman, kondisi seperti ini mungkin membuka peluang. Namun bagi investor ritel yang baru belajar, volatilitas justru menjadi jebakan.

Ledakan minat generasi muda terhadap investasi saham menambah kompleksitas situasi. Di satu sisi, hal ini menunjukkan meningkatnya literasi finansial. Di sisi lain, banyak yang masuk tanpa pemahaman memadai tentang siklus ekonomi dan karakter pasar. Ketika harga turun, kepanikan muncul; ketika harga naik, keserakahan mengambil alih. Pola klasik ini terus berulang, memperkuat kesan bahwa pasar lebih dipengaruhi emosi daripada analisis fundamental.

Persoalan fiskal juga tidak bisa diabaikan. Defisit anggaran yang meningkat dan kebutuhan pembiayaan yang besar membuat investor mulai memperhatikan kemampuan negara membayar utang, bukan sekadar rasio utang terhadap PDB. Banyak orang masih menggunakan ukuran lama untuk menilai kesehatan fiskal, padahal yang lebih relevan adalah rasio layanan utang—seberapa besar kemampuan negara membayar cicilan dan bunga. Dalam lingkungan suku bunga yang relatif tinggi, tekanan terhadap fiskal bisa muncul lebih cepat dari perkiraan.

Tekanan global semakin memperumit keadaan. Ekonomi dunia yang tidak stabil, perubahan kebijakan moneter di negara maju, serta dinamika geopolitik membuat arus modal menjadi lebih sensitif. Rupiah yang terus berada di bawah tekanan menunjukkan bahwa masalahnya bukan hanya domestik, tetapi juga terkait dengan persepsi risiko regional. Namun fakta bahwa beberapa mata uang Asia mampu bertahan lebih baik memunculkan pertanyaan apakah Indonesia memiliki persoalan struktural yang lebih dalam.

Ketergantungan pada komoditas sering disebut sebagai salah satu akar masalah. Harga komoditas memang dapat memberikan dorongan jangka pendek, tetapi tidak selalu menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan. Tanpa transformasi menuju sektor manufaktur dan industri bernilai tambah tinggi, ekonomi akan terus rentan terhadap siklus global. Ketika harga komoditas turun atau permintaan dari negara besar melemah, dampaknya langsung terasa pada neraca perdagangan dan nilai tukar.

Di tengah semua tekanan ini, pemerintah tetap berusaha menjaga narasi optimisme. Setiap lembaga pemeringkat memiliki penilaian yang berbeda, dan tidak semua memberikan pandangan negatif. Namun pasar tidak hanya membaca pernyataan resmi; ia juga memperhatikan konsistensi kebijakan dan kualitas implementasi. Kepercayaan tidak dibangun dalam sehari, dan tidak bisa dipulihkan hanya dengan pernyataan bahwa fundamental masih kuat.

Situasi ini sebenarnya membuka peluang refleksi yang lebih dalam. Kritik dari luar seharusnya dilihat sebagai alarm untuk melakukan pembenahan, bukan sebagai serangan yang harus dibantah. Reformasi institusi, transparansi pasar, dan disiplin fiskal bukan sekadar tuntutan investor asing, tetapi kebutuhan jangka panjang bagi ekonomi domestik. Tanpa perubahan struktural, setiap periode pertumbuhan berisiko diikuti koreksi tajam.

Bagi investor ritel, pesan paling realistis mungkin terdengar sederhana: berhati-hati dan terus belajar. Pasar modal yang tidak pasti bukan berarti tidak memiliki peluang, tetapi membutuhkan kesabaran dan disiplin yang lebih besar. Investasi berbasis fundamental seringkali terasa membosankan karena tidak memberikan keuntungan instan, namun justru itulah pendekatan yang mampu bertahan dalam siklus panjang. Dalam kondisi volatilitas tinggi, menjaga sebagian dana tetap dalam bentuk tunai bisa menjadi strategi defensif yang bijak.

Di luar angka dan grafik, ekonomi selalu tentang manusia—tentang bagaimana kebijakan memengaruhi keputusan sehari-hari, tentang bagaimana kepercayaan dibangun atau hilang. Indonesia mungkin masih memiliki potensi besar, tetapi potensi tidak otomatis menjadi realitas. Ia membutuhkan tata kelola yang kuat, kepastian hukum, dan ruang bagi para ahli untuk memberikan pandangan kritis tanpa dianggap pesimis.

Situasi yang terlihat suram tidak selalu berarti masa depan tertutup. Justru dalam fase koreksi, kesempatan untuk melakukan perubahan sering muncul. Pasar modal mungkin masih akan bergejolak, nilai tukar bisa terus bergerak liar, dan arus modal belum tentu segera kembali. Namun jika reformasi dilakukan dengan serius, periode sulit ini bisa menjadi titik balik menuju ekonomi yang lebih matang. Sebab pada akhirnya, stabilitas tidak lahir dari euforia, melainkan dari keberanian melihat kenyataan apa adanya dan memperbaikinya secara bertahap.