Bagaimana Stagflasi Menekan Bank Dalam Posisi Terjepit

Jika para penabung mulai memasukkan lonjakan inflasi akibat guncangan energi ke dalam perencanaan mereka, respons yang alami adalah mencoba melindungi uang mereka dengan mencari imbal hasil yang lebih tinggi. Maka bank bisa kembali menghadapi tekanan pada biaya dana simpanan mereka yang sangat krusial. Arus keluar simpanan menjadi salah satu faktor yang mengguncang bank pada tahun 2023.

50
Laba Bank Mandiri (BMRI) Capai Rp42 T per September 2024 Ditopang Optimalisasi Bisnis

(Vibiznews-Kolom) Stagflasi adalah skenario buruk bagi siapa pun, dan sering kali terutama bagi bank. Ekonomi mungkin masih jauh dari titik itu. Namun bahkan sekadar tanda-tandanya saja sudah membuat investor perbankan gelisah.

Stagflasi adalah kondisi ekonomi langka yang ditandai dengan kombinasi pertumbuhan ekonomi stagnan (melambat), tingkat pengangguran tinggi, dan inflasi tinggi secara bersamaan. Fenomena ini sulit diatasi karena kebijakan untuk menurunkan inflasi justru dapat memperburuk pengangguran, dan sebaliknya.

Saham bank biasanya bukan tempat yang diinginkan investor jika mereka khawatir tentang stagflasi, yaitu masalah ganda berupa tingginya pengangguran dan tingginya harga. Dari sisi kredit, kinerja pinjaman konsumen seperti kartu kredit cenderung berkorelasi dengan meningkatnya kehilangan pekerjaan. Perusahaan juga bisa kesulitan membayar utang jika mereka menghadapi kenaikan biaya input.

Dan jika para penabung mulai memasukkan lonjakan inflasi akibat guncangan energi ke dalam perencanaan mereka, respons yang alami adalah mencoba melindungi uang mereka dengan mencari imbal hasil yang lebih tinggi. Maka bank bisa kembali menghadapi tekanan pada biaya dana simpanan mereka yang sangat krusial. Arus keluar simpanan menjadi salah satu faktor yang mengguncang bank pada tahun 2023.

Brent-Crude-Oil-Forecast.png

Sumber : Trading Economics

Bank sebenarnya memiliki kemampuan untuk mengimbangi tekanan itu dengan menyalurkan pinjaman atau berinvestasi pada tingkat bunga yang lebih tinggi. Namun jika Federal Reserve tidak ingin menaikkan suku bunga sebagai respons terhadap inflasi, hal tersebut menjadi jauh lebih sulit. Guncangan energi dikenal sulit ditangani oleh bank sentral. Banyak pinjaman terkait dengan suku bunga acuan dan tolok ukur lain yang dipengaruhi oleh target jangka pendek The Fed.

Di Indonesia, situasinya memiliki dinamika serupa namun dengan karakter yang berbeda karena peran Bank Indonesia sebagai otoritas moneter. Bank-bank domestik juga bisa mengimbangi tekanan dengan menaikkan bunga kredit atau mengalokasikan dana ke instrumen berimbal hasil lebih tinggi, tetapi ruang geraknya sangat dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga acuan BI (BI-Rate). Jika Bank Indonesia menahan kenaikan suku bunga demi menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah inflasi yang dipicu kenaikan harga energi (misalnya BBM), maka margin bunga bersih bank bisa tertekan karena biaya dana (deposito) naik lebih cepat daripada bunga kredit yang bisa disesuaikan. Selain itu, banyak kredit di Indonesia—terutama korporasi dan UMKM—tidak sepenuhnya fleksibel mengikuti perubahan suku bunga jangka pendek, sehingga transmisi kebijakan menjadi lebih lambat dan membuat bank harus lebih berhati-hati dalam mengelola likuiditas dan risiko kredit.

Karena itu, meningkatnya kekhawatiran bahwa lonjakan harga minyak dapat memicu bahkan stagflasi ringan telah mendorong kinerja saham bank yang tertinggal cukup signifikan. Indeks KBW Nasdaq Bank turun lebih dari 9% sejauh tahun ini, sementara S&P 500 turun sekitar 3,5%.

Dalam periode antara 1974 hingga 2024, ketika inflasi berada di atas rata-rata 10 tahunnya dan pertumbuhan produk domestik bruto berada di bawahnya, saham sektor keuangan AS mencatatkan rata-rata imbal hasil riil tahunan terburuk dibandingkan semua sektor, menurut riset dari Schroders.

Dan situasinya bisa menjadi lebih buruk lagi. Pada tahun 1970-an, sektor keuangan tertinggal dari S&P 500 dengan selisih terbesar pada 1974 dan 1975, menurut data kinerja harga nominal tahunan yang dikompilasi oleh Deutsche Bank. Itu adalah tahun-tahun ketika The Fed justru memangkas suku bunga untuk menghadapi ekonomi yang lemah, meskipun dekade tersebut dipenuhi dengan inflasi tinggi.

Namun saat ini, ada beberapa faktor penyeimbang yang berpotensi positif. Perusahaan perdagangan di Wall Street bisa melihat peningkatan pendapatan di meja trading mereka, didorong oleh volatilitas di pasar komoditas atau suku bunga.

Bank of America, misalnya, mengatakan pada 10 Maret bahwa sejauh ini di kuartal pertama, bisnis pasar globalnya naik dua digit rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Citigroup pada minggu yang sama mengatakan bahwa mereka memperkirakan pertumbuhan trading di kisaran belasan persen.

Kekhawatiran serupa terkait lonjakan harga minyak juga bisa berdampak pada kinerja saham bank di Indonesia, meski skalanya berbeda dibanding AS. Bank-bank domestik cenderung lebih sensitif terhadap fluktuasi harga energi karena dapat menekan daya beli masyarakat dan meningkatkan biaya operasional perusahaan, yang berpotensi menaikkan kredit macet.

Pada 2022–2023, misalnya, saham perbankan sempat mengalami volatilitas ketika harga minyak global melonjak dan inflasi mulai meningkat, meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya turun moderat dibanding indeks bank global. Hal ini menunjukkan bahwa meski stagflasi ringan belum terjadi di Indonesia, pasar sudah mulai menyoroti risiko sektor perbankan terhadap tekanan eksternal seperti energi dan inflasi.

Beberapa bankir dalam komentar terbaru juga menyebutkan bahwa permintaan terhadap pinjaman komersial tradisional mulai membaik pada awal 2026. Berdasarkan pemantauan mingguan terbaru dari The Fed, pinjaman komersial dan industri naik 5% secara tahunan, kenaikan tercepat dalam hampir tiga tahun. Memiliki lebih banyak pinjaman dapat mengimbangi margin yang lebih kecil pada setiap pinjaman.

Meski begitu, bank perlu tetap waspada terhadap risiko kredit. Ekonomi mungkin belum mendekati tingkat pengangguran yang pernah terjadi pada periode stagflasi sebelumnya. Namun ada kekhawatiran luas bahwa terdapat kantong-kantong pinjaman bermasalah, terutama di kalangan pemberi pinjaman nonbank seperti dana kredit swasta yang berfokus pada perusahaan perangkat lunak atau jenis pinjaman konsumen tertentu.

Bank terkadang menjadi pemberi pinjaman bagi dana-dana tersebut. Hingga kuartal keempat, bank-bank di AS menyalurkan sekitar 380 miliar dolar kepada perantara kredit bisnis, yang mencakup dana kredit swasta yang menghadapi permintaan penarikan dana, menurut S&P Global Market Intelligence. Mereka juga telah berkomitmen menyediakan tambahan pinjaman potensial sebesar 170 miliar dolar kepada peminjam tersebut, berdasarkan data yang dikompilasi oleh Adam Josephson, pendiri Sakonnet Research.

Bank-bank domestik kadang juga berperan sebagai pemberi pinjaman bagi lembaga keuangan nonbank atau dana investasi swasta, misalnya dana kredit korporasi atau fintech lending. Sampai kuartal terakhir, beberapa bank besar di Indonesia tercatat menyalurkan triliunan rupiah kepada perantara kredit tersebut, termasuk dana yang menghadapi tekanan likuiditas akibat permintaan penarikan nasabah, menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan laporan industri dari S&P Global Market Intelligence. Selain itu, bank-bank ini sering kali menyiapkan fasilitas tambahan sebagai cadangan pinjaman untuk mendukung likuiditas peminjam, sehingga tetap menjaga arus kredit dan stabilitas sektor keuangan di tengah risiko volatilitas pasar dan tekanan inflasi, sejalan dengan pemantauan Bank Indonesia atas kondisi moneter.

Harga minyak yang tinggi akan menghadirkan berbagai risiko bagi nasabah bank. Terutama jika diterjemahkan menjadi harga bensin atau harga barang di toko yang lebih tinggi, hal ini dapat berdampak pada kualitas kredit konsumen maupun korporasi.

Dampak lanjutan dari krisis 2023 mungkin masih bertahan cukup lama sehingga bank relatif masih berada dalam posisi yang cukup baik untuk melindungi diri dari arus keluar simpanan lebih lanjut. Salah satu caranya adalah dengan mengunci dana. Baru-baru ini terjadi penurunan jumlah bank yang menawarkan deposito berjangka satu tahun sebesar 10.000 dolar dengan bunga di atas 4%, menurut S&P Global Market Intelligence. Namun jumlah bank yang menawarkan produk serupa dengan bunga 3% atau lebih hanya sedikit menurun sejak The Fed mulai memangkas suku bunga pada 2024.

Fenomena serupa juga bisa terlihat di Indonesia, meski dalam konteks rupiah dan pasar domestik. Setelah tekanan ekonomi global pada 2023, sebagian bank di Indonesia tetap relatif kuat dalam menjaga likuiditas dan menahan arus keluar simpanan, misalnya dengan membatasi promosi deposito berjangka jangka pendek atau menyesuaikan penawaran bunga.

Namun tetap saja, jika konsumen mulai memperhatikan suku bunga simpanan seketat mereka memantau harga bahan bakar, maka masa sulit bagi bank tidak akan terhindarkan.