(Vibiznews-Kolom) Ekspor dan impor Jepang dilaporkan terus meningkat pada bulan Maret, namun prospek perdagangan untuk beberapa bulan ke depan disebut tetap dibayangi oleh perang di Timur Tengah, menurut analisis berbagai lembaga dan institusi riset internasional.
Data pemerintah yang dirilis pada hari Rabu menunjukkan bahwa ekspor naik 11,7% secara tahunan bulan lalu, sehingga memperpanjang tren kenaikan menjadi tujuh bulan berturut-turut. Angka tersebut dilaporkan melampaui kenaikan 4,0% pada Februari serta melebihi perkiraan kenaikan 11% dalam jajak pendapat ekonom oleh penyedia data LSEG.
Impor juga disebut tumbuh 10,9%, sedikit lebih tinggi dibandingkan kenaikan 10,3% pada Februari.
Namun demikian, karena perang antara AS dan Israel melawan Iran baru dimulai pada akhir Februari, data bulan Maret dinilai belum sepenuhnya mencerminkan dampak gangguan terhadap energi dan komoditas utama lainnya yang diimpor Jepang dari Timur Tengah, sebagaimana disoroti dalam berbagai kajian pasar global.
Disebutkan bahwa Jepang bergantung pada kawasan tersebut untuk sebagian besar kebutuhan minyaknya dan dinilai sangat rentan terhadap gangguan jalur pengiriman yang terhubung dengan Selat Hormuz, yang dilaporkan menjadi jalur perairan penting dan secara efektif tertutup akibat konflik tersebut.
Dalam jangka pendek, ekonom dari Mizuho Securities Yasuhisa Irie mengatakan bahwa total tagihan impor Jepang kemungkinan akan tetap relatif datar karena keterbatasan pasokan membatasi volume, sementara memburuknya sentimen konsumen akibat tingginya harga energi menahan permintaan.
Sementara itu, ekonom dari Norinchukin Research Institute Takeshi Minami memperkirakan bahwa dampak kekurangan energi akan mulai semakin terlihat pada bulan April.
Minami menyatakan bahwa meskipun pemerintah Jepang telah mulai melepaskan cadangan minyak mentah dan mengklaim telah mengamankan jalur pengadaan alternatif yang tidak bergantung pada Selat Hormuz, blokade yang berkepanjangan kemungkinan akan menyebabkan kontraksi ekonomi yang terlihat di pasar negara berkembang dengan cadangan minyak yang lebih kecil.
Ia juga menambahkan bahwa kondisi tersebut diperkirakan akan merugikan perekonomian Jepang dalam berbagai cara, termasuk memperlambat aktivitas ekonomi dan mendorong tekanan inflasi.
Selain itu, dilaporkan bahwa gangguan terhadap aliran energi dan komoditas utama lainnya turut menggerus keuntungan perusahaan karena kelangkaan mendorong kenaikan biaya bagi perusahaan Jepang, yang pada akhirnya dapat membebani pemulihan ekonomi negara tersebut, sebagaimana menjadi perhatian dalam berbagai laporan lembaga riset global.
Disebutkan pula bahwa seiring kenaikan harga energi yang berisiko mempercepat inflasi secara keseluruhan, permintaan aset aman terhadap dolar turut menambah pelemahan yen, sehingga semakin meningkatkan tagihan impor Jepang.
Bank of Japan secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga kebijakannya di level 0,75% pada pertemuan berikutnya pada hari Selasa, sambil mencermati risiko geopolitik dalam mempertimbangkan waktu untuk kembali melakukan pengetatan kebijakan.
Menurut Mizuho Securities, dalam jangka pendek total tagihan impor Jepang diperkirakan akan tetap relatif datar karena keterbatasan pasokan membatasi volume, sementara memburuknya sentimen konsumen akibat tingginya harga energi menahan permintaan.
Sementara itu, Norinchukin Research Institute menilai bahwa dampak kekurangan energi akan mulai semakin terlihat pada bulan April. Lembaga tersebut juga menyebut bahwa meskipun pemerintah Jepang telah mulai melepaskan cadangan minyak mentah dan mengklaim telah mengamankan jalur pengadaan alternatif di luar Selat Hormuz, blokade yang berkepanjangan berpotensi memicu kontraksi ekonomi yang nyata, terutama di negara berkembang dengan cadangan minyak terbatas.
Lebih lanjut, analisis dari kedua lembaga tersebut menunjukkan bahwa gangguan terhadap aliran energi dan komoditas utama tidak hanya meningkatkan biaya bagi perusahaan Jepang, tetapi juga berisiko menekan profitabilitas korporasi dan memperlambat pemulihan ekonomi secara keseluruhan.
Selain itu, tekanan harga energi yang meningkat dinilai berpotensi mempercepat inflasi, sementara penguatan dolar sebagai aset aman turut memperlemah yen, yang pada akhirnya semakin memperbesar beban impor Jepang.
Menurut International Energy Agency (IEA), gangguan di kawasan Timur Tengah—terutama yang berkaitan dengan jalur strategis seperti Selat Hormuz—berpotensi menciptakan ketidakseimbangan pasokan global yang cepat, sehingga negara-negara importir energi seperti Jepang akan menghadapi tekanan harga yang lebih tinggi dan volatilitas yang meningkat.
Sementara itu, International Monetary Fund (IMF) dalam berbagai pembaruannya sering menekankan bahwa lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik dapat menekan pertumbuhan ekonomi global melalui dua jalur utama, yaitu inflasi yang lebih tinggi dan penurunan daya beli, yang pada akhirnya berdampak pada negara maju seperti Jepang.
Dari sisi Eropa, European Central Bank (ECB) dalam kerangka analisisnya juga kerap menyoroti bahwa shock energi eksternal dapat memperlemah aktivitas industri dan memperburuk prospek perdagangan global, terutama bagi negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi.
Selain itu, World Bank menilai bahwa gangguan berkepanjangan pada rantai pasok energi dan komoditas dapat memperlambat pemulihan ekonomi global, meningkatkan biaya produksi, serta memperbesar risiko stagflasi di sejumlah negara.
Dengan demikian, meskipun analisis awal lebih banyak berasal dari lembaga Jepang, pandangan dari lembaga global menunjukkan pola yang konsisten: konflik di Timur Tengah berpotensi menekan ekonomi Jepang melalui jalur energi, inflasi, nilai tukar, dan perdagangan internasional.



