Pasar Keuangan Tergelincir, Tekanan Sentimen Eksternal dan Internal — Domestic Market Outlook, 27-30 April 2026

109
Vibizmedia Picture

(Vibiznews – Editor’s Note) – Pasar investasi domestik pada seminggu berlalu diwarnai dengan sejumlah isyu, di antaranya:

  • Pasar keuangan di minggu lalu tergelincir, dengan IHSG merosot 6,6% dan rupiah masih bearish 4 minggu ke rekor terendah barunya.
  • Bank Indonesia memutuskan mempertahankan BI Rate pada level 4,75%.
  • BI menilai perang di Timur Tengah makin memperburuk kondisi dan prospek perekonomian global.
  • Sentimen global saat ini tetap sekitar konflik Timur Tengah, termasuk batalnya pembicaraan diplomatik AS – Iran, perkembangan gencatan senjata, jalur Selat Hormuz, serta dinamika harga minyak mentah dunia.
  • Data ekonomi yang diperhatikan pasar pekan mendatang ini adalah rilis penanaman modal asing (PMA) pada hari Rabu nanti.

Minggu berikutnya, isyu prospek ekonomi dalam dan luar negeri, akan kembali mewarnai pergerakan pasar. Seperti apa dinamika pasar hari-hari ini? Berikut detail dari Vibiznews Domestic Market Review and Outlook 27-30 April 2026.

===

Minggu yang baru lewat IHSG di pasar modal Indonesia terpantau terkoreksi dengan merosot tajam oleh tekanan eksternal dan internal, di tengah tensi geoplotik ketidakpastian dan rapuhnya gencatan senjata perang Iran disertai beberapa insiden dari Selat Hormuz. Sejumlah saham perbankan dan lainnya yang big caps cenderung tertekan ditambah rupiah yang terus bertengger di rekor terendah barunya, yang memicu investor asing terus dalam posisi net sell besar. Sementara itu, bursa kawasan Asia pada seminggu ini umumnya mixed, sempat ditopang harapan akan munculnya deal perang, meskipun naik turun dan dinamis. Secara mingguan IHSG ditutup merosot 6,61%, atau 504,514 poin, ke level 7.129,490.

Untuk minggu berikutnya (27-30 April 2026), dengan dipotong libur Jumat, IHSG kemungkinan masih cenderung bearish walau secara lebih terbatas, dengan mencermati sentimen bursa regional sepekan depan. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance di level 7.578 dan 7.773. Sedangkan bila menemui tekanan jual di level ini, support ke level 6,917 dan bila tembus ke level 6,838.

Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan berlalu berakhir melemah di minggu keempatnya dan sempat membukukan rekor terendahnya yang baru. Rupiah beberapa kali menjadi mata uang terlemah di Asia vs dollar. Rupiah secara mingguannya berakhir melemah 90 poin atau 0,52% ke level Rp 17.275 per USD. Sementara, dollar global sempat rally ke 1,5 minggu terkuatnya lalu terkoreksi, di tengah ketidakpastian arah perang Iran yang mengangkat dollar kembali sebagai safe haven.

Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan masih uptrend dengan konsolidasi sebentar, atau kemungkinan rupiah bias terkoreksi mencetak lagi rekor terendah sepanjang sejarahnya, dalam range antara resistance di level Rp17.303 dan Rp17.350, sementara support di level Rp17.137 dan Rp17.040.

Harga obligasi rupiah Pemerintah Indonesia jangka panjang 10 tahun terpantau naik secara mingguannya, terlihat dari pergerakan turun yield obligasi dan berakhir ke level 6,715% pada akhir pekan. Sementara yields US Treasury terpantau menanjak.

===

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 21-22 April 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50%.

Keputusan ini masih konsisten dengan upaya meningkatkan efektivitas strategi penyesuaian struktur suku bunga instrumen operasi moneter dalam memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dari dampak memburuknya kondisi perekonomian global akibat perang di Timur Tengah.

Bank Indonesia menilai perang di Timur Tengah makin memperburuk kondisi dan prospek perekonomian global. Harga minyak dan komoditas dunia meningkat tinggi dan diikuti dengan disrupsi rantai pasok perdagangan antarnegara yang makin dalam.

Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 dalam kisaran 4,9–5,7%.

Hasil Survei Perbankan Bank Indonesia mengindikasikan penyaluran kredit baru pada triwulan I 2026 tetap tumbuh, meski lebih rendah dibandingkan triwulan IV 2025, sesuai dengan pola historisnya.

===

 

Fluktuasi pasar investasi di tahun ini kelihatannya terus saja bergejolak (volatile), bahkan termasuk relatif tajam. Dinamikanya tidak pernah habis. Bagi yang awam, periode seperti ini acapkali mendatangkan salah posisi dan selanjutnya kerugian. Tapi bagi trader yang professional, justru ini periode yang menarik karena berpeluang mendatangkan banyak profit.

Kata kuncinya ada dua untuk memenangkan pasar investasi ini: belajar dan rajin monitor. Keduanya bisa didapat dari vibiznews.com. Terimakasih, semoga sukses investasi Anda bertambah-tambah, pembaca setia Vibiznews!

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting