(Vibiznews-Kolom) Berita Resmi Statistik tanggal 1 April 2026 menyajikan perkembangan terbaru perekonomian Indonesia, dengan fokus pada perdagangan internasional, inflasi, serta dinamika sektor riil yang terjadi hingga Februari dan Maret 2026.Materi ini mencakup indikator utama ekonomi, yaitu ekspor, impor, neraca perdagangan, inflasi, nilai tukar petani, harga beras, pariwisata, produksi padi dan jagung, transportasi, serta indeks harga perdagangan besar sebagai indikator distribusi barang di dalam negeri.
Per Februari 2026, indeks harga komoditas global menunjukkan tekanan, dengan indeks energi turun -0,47% (mtm) dan -6,80% (yoy) serta sektor pertanian turun -1,41% (mtm) dan -10,41% (yoy). Sebaliknya, logam dan mineral meningkat -1,65% (mtm) namun +23,76% (yoy), mencerminkan lonjakan harga emas.PMI manufaktur Februari 2026 menunjukkan ekspansi di berbagai negara utama, yaitu India 56,9, Jepang 53,0, Tiongkok 52,1, dan Amerika Serikat 51,6, yang berarti permintaan global masih berada dalam fase pertumbuhan.
Harga batubara pada Februari 2026 meningkat 7,82% (mtm) dan 10,70% (yoy), sedangkan harga minyak sawit meningkat 3,68% (mtm) namun secara tahunan turun -2,41% (yoy). Hal ini menunjukkan divergensi kinerja komoditas ekspor utama Indonesia.Total ekspor Januari–Februari 2026 mencapai US$44,32 miliar, meningkat 2,19% (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar US$43,37 miliar. Peningkatan ini terutama didorong oleh sektor industri pengolahan.
Ekspor nonmigas didominasi oleh industri pengolahan sebesar US$37,06 miliar (naik dari US$34,74 miliar), sementara sektor pertanian turun dari US$1,11 miliar menjadi US$0,82 miliar, dan pertambangan turun dari US$5,34 miliar menjadi US$4,47 miliar.Pada Februari 2026, nilai ekspor mencapai US$22,17 miliar, meningkat dari US$21,94 miliar pada Februari 2025 atau tumbuh 1,01% (yoy). Ekspor nonmigas naik dari US$20,82 miliar menjadi US$21,09 miliar.
Ekspor industri pengolahan meningkat 5,24% (yoy) dengan kontribusi 4,21%, sementara sektor pertambangan turun -18,16% dan sektor pertanian turun -31,45%, menunjukkan pergeseran struktur ekspor.Ekspor CPO dan turunannya meningkat dari US$3,33 miliar menjadi US$4,54 miliar (naik 36,26%), besi dan baja naik dari US$3,41 miliar menjadi US$3,48 miliar (naik 2,00%), sementara batubara turun dari US$4,25 miliar menjadi US$3,48 miliar (turun 18,21%).
Ekspor terbesar ditujukan ke Tiongkok sebesar US$10,46 miliar (24,69%), Amerika Serikat US$5,00 miliar (11,81%), India US$3,11 miliar (7,35%), dan ASEAN 19,61%, menunjukkan dominasi pasar Asia.Nilai impor Januari–Februari 2026 mencapai US$42,09 miliar, meningkat 14,44% (yoy) dari US$36,78 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Impor didominasi oleh bahan baku/penolong sebesar US$29,40 miliar (naik dari US$26,91 miliar), barang modal US$9,10 miliar (naik dari US$6,77 miliar), dan barang konsumsi US$3,60 miliar.Pada Februari 2026, nilai impor mencapai US$20,89 miliar, meningkat dari US$18,85 miliar atau tumbuh 10,85% (yoy). Impor nonmigas naik menjadi US$18,90 miliar.
Barang modal mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 33,68% (yoy), diikuti bahan baku dan barang konsumsi, yang menunjukkan adanya ekspansi investasi dan produksi domestik.Impor mesin/peralatan mekanis meningkat dari US$5,05 miliar menjadi US$6,64 miliar (naik 31,38%), mesin listrik naik dari US$4,55 miliar menjadi US$5,66 miliar, dan plastik naik dari US$1,71 miliar menjadi US$1,82 miliar. Impor terbesar berasal dari Tiongkok sebesar US$15,68 miliar (42,46%), diikuti ASEAN 10,05%, Uni Eropa 6,37%, dan Australia 5,60%.
Pada Februari 2026, neraca perdagangan mencatat surplus sebesar US$1,27 miliar, dengan kontribusi utama dari sektor nonmigas.Sepanjang 2025 hingga awal 2026, neraca perdagangan menunjukkan fluktuasi dari surplus hingga defisit bulanan, dengan kisaran antara -US$2,27 miliar hingga +US$4,83 miliar.Secara kumulatif Januari–Februari 2026, surplus neraca perdagangan mencapai US$2,23 miliar, turun dari US$6,59 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Surplus terbesar berasal dari Amerika Serikat sebesar US$3,53 miliar, India US$2,33 miliar, sementara defisit terdalam terjadi dengan Tiongkok sebesar -US$5,23 miliar.Surplus terbesar berasal dari lemak dan minyak nabati sebesar US$6,49 miliar, bahan bakar mineral US$4,01 miliar, dan besi baja US$2,70 miliar, sedangkan defisit terbesar berasal dari mesin mekanis -US$5,27 miliar.
Amerika Serikat mencatat surplus US$3,53 miliar, India US$1,50 miliar, dan Filipina sekitar US$1,64 miliar, didorong oleh ekspor manufaktur dan komoditas.Defisit terbesar terjadi dengan Tiongkok sebesar -US$5,23 miliar, Singapura -US$0,80 miliar, dan Australia -US$1,58 miliar, terutama akibat impor mesin dan bahan baku.
Ekspor tumbuh 2,19% menjadi US$44,32 miliar, impor tumbuh 14,44% menjadi US$42,09 miliar, sehingga menghasilkan surplus US$2,23 miliar, dan Indonesia mencatat surplus selama 70 bulan berturut-turut. Momentum Ramadan dan Lebaran 2026 meningkatkan konsumsi dan mobilitas masyarakat, didukung oleh program diskon transportasi seperti diskon tiket kereta hingga 30% dan pesawat sekitar 17–18%.
Inflasi Maret 2026 tercatat 0,41% (mtm), dengan inflasi tahun kalender sebesar 0,94%. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang inflasi terbesar sebesar 1,07% dengan andil 0,32%, diikuti transportasi dengan andil 0,05%.
Data menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia masih berada dalam kondisi yang relatif solid, namun mulai menghadapi tekanan dari sisi eksternal dan internal secara bersamaan. Di satu sisi, ekspor masih tumbuh sebesar 2,19% dan neraca perdagangan tetap mencatat surplus sebesar US$2,23 miliar, memperpanjang tren surplus hingga 70 bulan berturut-turut. Ini menegaskan bahwa sektor eksternal Indonesia masih memiliki daya tahan, terutama didukung oleh industri pengolahan dan beberapa komoditas unggulan.
Terdapat sinyal yang tidak bisa diabaikan. Pertumbuhan impor yang jauh lebih tinggi, yaitu 14,44%, mencerminkan meningkatnya kebutuhan domestik terhadap barang modal dan bahan baku, yang memang positif dari sisi investasi, tetapi sekaligus mempersempit surplus perdagangan secara signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Dalam konteks ini, struktur ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketergantungan pada impor teknologi dan mesin, serta ketidakseimbangan perdagangan dengan mitra utama seperti Tiongkok.
Dari perspektif makro, kombinasi antara kenaikan harga energi domestik, inflasi yang mulai meningkat di level 0,41% secara bulanan, serta dorongan konsumsi akibat faktor musiman seperti Ramadan dan Lebaran, menunjukkan bahwa tekanan inflasi ke depan berpotensi meningkat secara gradual. Ini menjadi perhatian penting, terutama jika tidak diimbangi dengan peningkatan produktivitas dan kapasitas produksi dalam negeri.
Arah ekonomi Indonesia ke depan akan sangat ditentukan oleh dua hal utama, pertama, kemampuan menjaga momentum ekspor berbasis nilai tambah, bukan sekadar komoditas; dan kedua, kemampuan mengelola pertumbuhan impor agar tetap produktif dan tidak menciptakan tekanan eksternal yang berlebihan. Tanpa pergeseran struktural ke arah industrialisasi yang lebih dalam, surplus perdagangan berpotensi semakin menipis dalam jangka menengah.



