Harga Minyak Selasa Turun Merespon Pelaksanaan Project Freedom AS di Selat Hormuz

108

(Vibiznews – Commodity) Harga minyak turun dalam perdagangan Asia pada hari Selasa setelah reli tajam pada sesi sebelumnya, mencermati peningkatan ketegangan di Teluk Persia setelah upaya AS untuk menstabilkan jalur pengiriman melalui Selat Hormuz.

Harga minyak mentah berjangka WTI kontrak Juni 2026 bergerak turun 1,92% pada $104,38 barel.

Harga minyak mentah berjangka Brent bergerak turun 0,83% pada $113,49 per barel.

Pada sesi sebelumnya, harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 4%, dan WTI berakhir sekitar 6% lebih tinggi, didorong oleh meningkatnya konflik antara AS dan Iran, termasuk serangan terhadap infrastruktur energi dan kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Kenaikan ketegangan ini secara efektif menghancurkan gencatan senjata yang rapuh dan meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan yang berkepanjangan.

Ketegangan semakin meningkat setelah serangan Iran dilaporkan menargetkan infrastruktur di Uni Emirat Arab, termasuk terminal minyak di pelabuhan Fujairah.

Presiden AS Donald Trump menjalankan , “Project Freedom,” yang bertujuan untuk membantu kapal-kapal yang terdampar di Teluk Persia.

Operasi ini berupaya memandu kapal-kapal komersial melalui rute yang lebih aman dan memulihkan sebagian arus melalui Selat Hormuz.

Militer AS mengatakan telah mulai mengawal kapal-kapal melalui selat tersebut di bawah inisiatif ini, dengan pasukan Amerika secara aktif berupaya untuk membangun kembali jalur pelayaran komersial.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga minyak akan bergerak naik dengan ketegangn yang masih terjadi di Timur Tengah dan Selat Hormuz. Namun jika rencana AS “Project Freedom” terus berjalan dan mendukung keamanan kapal-kapal minyak melewati Selat Hormuz, akan dapat menurunkan harga minyak. Harga minyak berjangka WTI AS diperkirakan bergerak dalam kisaran Support $101,20-$95,98. Namun jika naik, akan bergerak dalam kisaran Resistance $109,55-$112,68.