Ekonomi Global Dalam Bayang-Bayang Perang

77
Ekonomi Global

(Vibiznews-Kolom) Ekonomi global kembali memasuki periode yang penuh tekanan dan ketidakpastian. Setelah sempat menunjukkan ketahanan yang mengejutkan sepanjang 2025, dunia kini menghadapi ancaman baru yang jauh lebih kompleks: perang di Timur Tengah, lonjakan harga energi, inflasi yang kembali menguat, ketegangan geopolitik, dan fragmentasi perdagangan internasional. Dana Moneter Internasional atau IMF dalam laporan World Economic Outlook April 2026 menggambarkan situasi ini sebagai fase ketika ekonomi dunia berada “dalam bayang-bayang perang”.

Laporan tersebut muncul pada saat banyak negara sebenarnya mulai berharap dunia akan memasuki periode stabil setelah beberapa tahun penuh gejolak akibat pandemi, perang Rusia-Ukraina, krisis energi, dan inflasi tinggi. Sebelum konflik Timur Tengah pecah pada akhir Februari 2026, ekonomi global dinilai masih cukup kuat. Pertumbuhan dunia bahkan diperkirakan akan direvisi naik karena dukungan investasi teknologi, perkembangan kecerdasan buatan atau AI, pelonggaran tekanan perdagangan, dan kondisi keuangan global yang relatif lebih longgar.

Namun pecahnya perang langsung mengubah arah proyeksi tersebut. Konflik di kawasan yang menjadi pusat distribusi energi dunia memicu kekhawatiran besar terhadap pasokan minyak dan gas global. Penutupan jalur penting seperti Selat Hormuz serta kerusakan fasilitas energi membuat pasar global kembali dihantui ketakutan akan krisis energi seperti yang pernah terjadi pada dekade 1970-an.

IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 hanya mencapai 3,1 persen, turun dibanding pertumbuhan sekitar 3,4 persen pada 2025. Sebelum perang pecah, IMF sebenarnya memperkirakan ekonomi global bisa tumbuh sekitar 3,4 persen pada 2026. Artinya, konflik geopolitik telah memangkas prospek pertumbuhan dunia secara signifikan hanya dalam waktu singkat.

Bahkan proyeksi tersebut masih dianggap sebagai skenario moderat. IMF menegaskan bahwa angka 3,1 persen dibuat dengan asumsi perang berlangsung relatif singkat dan gangguan energi mulai mereda pada pertengahan 2026. Jika konflik berlangsung lebih lama atau meluas, dampaknya bisa jauh lebih buruk.

Dalam skenario negatif yang disusun IMF, pertumbuhan ekonomi global dapat turun menjadi hanya 2,5 persen. Dalam skenario ekstrem ketika gangguan energi berlangsung lebih lama dan ekspektasi inflasi mulai tidak terkendali, ekonomi global bahkan diperkirakan hanya tumbuh mendekati 2 persen pada 2026 dan 2027. Level tersebut sangat dekat dengan kondisi resesi global.

Krisis energi menjadi pusat perhatian utama dalam laporan IMF. Harga energi diperkirakan naik sekitar 19 persen sepanjang 2026. Harga minyak dunia diproyeksikan meningkat sekitar 21,4 persen dengan rata-rata harga mencapai US$82 per barel. Dalam skenario yang lebih buruk, harga minyak dapat mendekati US$100 per barel.

Kenaikan harga minyak tersebut membawa efek domino ke hampir seluruh sektor ekonomi. Biaya transportasi meningkat, harga pupuk naik, biaya produksi industri membengkak, dan harga pangan ikut terdorong naik. IMF menyebut kondisi ini sebagai negative supply shock klasik, yaitu ketika kenaikan biaya produksi menekan aktivitas ekonomi sekaligus mendorong inflasi lebih tinggi.

Situasi ini menjadi sangat sensitif karena dunia sebenarnya belum sepenuhnya pulih dari krisis inflasi pascapandemi dan lonjakan energi akibat perang Rusia-Ukraina pada 2022. Banyak rumah tangga masih merasakan tekanan biaya hidup yang tinggi. Karena itu, kenaikan harga energi baru berpotensi lebih cepat memengaruhi ekspektasi masyarakat terhadap inflasi.IMF memperkirakan inflasi global meningkat dari 4,1 persen pada 2025 menjadi 4,4 persen pada 2026. Dalam skenario negatif, inflasi dapat naik menjadi 5,4 persen. Bahkan dalam kondisi paling buruk, inflasi global bisa mendekati 6 persen pada 2027.

Masalah utama bukan hanya kenaikan harga energi itu sendiri, tetapi bagaimana masyarakat dan pelaku usaha bereaksi terhadapnya. Ketika masyarakat percaya harga akan terus naik, pekerja mulai menuntut kenaikan upah lebih tinggi dan perusahaan menaikkan harga barang lebih agresif. Kondisi tersebut dapat menciptakan spiral inflasi baru yang jauh lebih sulit dikendalikan.

Karena itu, bank sentral dunia kini menghadapi dilema besar. Di satu sisi, ekonomi global mulai melambat sehingga suku bunga tinggi terlalu lama dapat memperburuk perlambatan. Di sisi lain, inflasi energi membuat bank sentral tidak bisa terlalu cepat menurunkan suku bunga.

IMF menilai bank sentral harus menjaga kredibilitas kebijakan moneter mereka. Jika ekspektasi inflasi mulai lepas kendali, bank sentral harus siap mengambil langkah tegas meskipun risiko perlambatan ekonomi meningkat. IMF juga mengingatkan bahwa independensi bank sentral menjadi semakin penting di tengah tekanan politik dan ketidakpastian global.

Amerika Serikat masih menjadi pusat utama perhatian dunia. Ekonomi AS tetap tumbuh berkat investasi besar di sektor teknologi dan AI, tetapi terdapat tanda-tanda ketidakseimbangan yang mulai muncul. Pertumbuhan lapangan kerja melambat sementara inflasi inti masih berada di level tinggi sekitar 3,1 persen.

Pemerintah AS juga menghadapi tekanan fiskal yang semakin besar. IMF memperkirakan defisit anggaran pemerintah AS mencapai sekitar 7,5 persen terhadap PDB pada 2026. Utang publik Amerika Serikat diproyeksikan terus naik dari sekitar 124 persen terhadap PDB pada 2025 menjadi 142 persen pada 2031. Lonjakan utang pemerintah menjadi salah satu ancaman jangka panjang bagi ekonomi global. Ketika utang terus meningkat, biaya bunga pemerintah juga ikut naik. Kondisi ini berpotensi menekan investasi produktif dan memperburuk tekanan suku bunga global.

China menghadapi persoalan berbeda. Ekonomi China masih didukung ekspor yang kuat, terutama dari sektor teknologi dan semikonduktor. Namun permintaan domestik tetap lemah, terutama di sektor properti yang belum pulih sepenuhnya sejak krisis beberapa tahun terakhir.

Surplus perdagangan barang China bahkan mencapai sekitar US$1,2 triliun pada 2025 atau sekitar 6 persen dari PDB. Angka ini menunjukkan betapa besarnya ketergantungan pertumbuhan China terhadap ekspor.

IMF melihat kondisi tersebut menciptakan ketidakseimbangan baru dalam ekonomi global. Ketika permintaan domestik China lemah, negara tersebut semakin bergantung pada pasar luar negeri untuk menopang pertumbuhan. Hal ini meningkatkan ketegangan perdagangan dengan negara lain, terutama Amerika Serikat dan Eropa.

Di Eropa, tantangan datang dari kombinasi pertumbuhan lemah dan kebutuhan belanja pertahanan yang meningkat. Jerman mulai meningkatkan pengeluaran infrastruktur dan militer secara agresif. IMF memperkirakan defisit fiskal Jerman melebar hingga 3,8 persen terhadap PDB.

Secara keseluruhan, utang kawasan euro diperkirakan meningkat dari sekitar 87 persen terhadap PDB pada 2025 menjadi 90 persen pada 2031. Negara-negara Eropa kini menghadapi tekanan besar untuk memperkuat keamanan sekaligus menjaga stabilitas fiskal mereka.

IMF secara khusus membahas peningkatan belanja pertahanan global dalam laporan tahun ini. Ketegangan geopolitik membuat banyak negara meningkatkan anggaran militer mereka secara signifikan. Dalam jangka pendek, belanja pertahanan memang dapat meningkatkan aktivitas ekonomi dan membuka lapangan kerja. Namun dalam jangka panjang, peningkatan utang dan pengurangan ruang fiskal dapat menjadi masalah serius.

Belanja militer yang terlalu besar juga berisiko mengurangi anggaran untuk sektor sosial seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur produktif. IMF memperingatkan bahwa kondisi tersebut dapat memicu ketidakpuasan sosial dan memperburuk ketimpangan ekonomi.

Selain perang dan energi, IMF juga melihat dunia sedang mengalami perubahan besar dalam sistem perdagangan internasional. Globalisasi tidak benar-benar berhenti, tetapi berubah menjadi lebih terfragmentasi dan multipolar. Amerika Serikat terus mengurangi ketergantungannya terhadap produk China. Sebagai gantinya, impor AS dari Vietnam, Taiwan, dan Meksiko meningkat tajam. Di sisi lain, China mulai mengalihkan ekspornya ke negara-negara Asia dan Eropa.

Pergeseran rantai pasok global ini menunjukkan bahwa faktor geopolitik kini semakin menentukan hubungan ekonomi internasional. Negara-negara tidak lagi hanya mempertimbangkan efisiensi biaya, tetapi juga keamanan nasional dan stabilitas politik dalam memilih mitra dagang.

IMF menilai tren fragmentasi ekonomi global dapat mengurangi efisiensi perdagangan dunia dalam jangka panjang. Ketika negara-negara membangun blok ekonomi masing-masing, biaya produksi global berpotensi meningkat dan pertumbuhan dunia menjadi lebih lambat. Isu lain yang mendapat perhatian besar dalam laporan IMF adalah rare earth atau mineral tanah jarang. Material ini sangat penting untuk industri kendaraan listrik, energi hijau, semikonduktor, dan AI.

Masalahnya, pasokan rare earth dunia sangat terkonsentrasi di beberapa negara, terutama China. IMF memperingatkan bahwa gangguan pasokan rare earth dapat menciptakan tekanan ekonomi besar karena industri teknologi modern sangat bergantung pada material tersebut.

Persaingan untuk mengamankan pasokan mineral strategis kini menjadi bagian baru dari persaingan geopolitik global. Banyak negara mulai menjalankan kebijakan industri agresif untuk mengurangi ketergantungan terhadap negara lain. Negara berkembang menjadi pihak yang paling rentan dalam situasi ini. Negara pengimpor energi menghadapi tekanan berat akibat kenaikan harga minyak, pelemahan mata uang, dan meningkatnya biaya utang.

IMF menyoroti negara berpendapatan rendah sebagai kelompok dengan risiko tertinggi karena memiliki ruang fiskal yang terbatas. Banyak negara berkembang masih memiliki beban utang tinggi sejak pandemi. Ketika harga energi dan biaya pinjaman meningkat, kemampuan mereka menjaga stabilitas ekonomi menjadi semakin sempit.

Kondisi pasar keuangan global juga semakin rapuh. Ketika ketidakpastian geopolitik meningkat, investor global cenderung memindahkan dana ke aset aman seperti dolar AS dan emas. Akibatnya, arus modal keluar dari negara berkembang meningkat dan mata uang mereka melemah.

Tekanan tersebut dapat memperburuk inflasi domestik di negara berkembang karena harga impor menjadi lebih mahal. Pada saat yang sama, bank sentral di negara berkembang terpaksa mempertahankan suku bunga tinggi untuk menjaga stabilitas mata uang.

Meski dunia menghadapi begitu banyak tekanan, IMF tetap melihat adanya peluang pertumbuhan jangka panjang dari perkembangan AI. Investasi besar-besaran dalam teknologi AI diperkirakan dapat meningkatkan produktivitas global secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.

Perusahaan teknologi dunia terus mempercepat investasi pada pusat data, semikonduktor, otomatisasi, dan sistem AI generatif. IMF melihat AI berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru yang dapat mengangkat produktivitas ekonomi global seperti revolusi internet beberapa dekade lalu.

Namun IMF juga mengingatkan bahwa transformasi teknologi dapat menciptakan tantangan sosial besar. Banyak pekerjaan berpotensi tergantikan oleh otomatisasi. Jika pemerintah tidak menyiapkan pelatihan ulang tenaga kerja dan investasi pendidikan, ketimpangan sosial dapat meningkat tajam.

Karena itu, IMF menekankan pentingnya kebijakan yang mampu memastikan manfaat AI tersebar lebih merata. Pemerintah diminta memperkuat investasi sumber daya manusia, pendidikan digital, dan pelatihan keterampilan baru agar transformasi teknologi tidak hanya menguntungkan perusahaan besar.

Secara keseluruhan, IMF menilai ekonomi global saat ini belum memasuki resesi, tetapi fondasinya semakin rapuh. Dunia sedang menghadapi kombinasi tekanan yang sangat kompleks: perang, inflasi energi, fragmentasi perdagangan, utang tinggi, dan ketidakpastian geopolitik.

Laporan IMF menggambarkan bahwa ekonomi global kini bergerak di jalur sempit antara perlambatan terkendali dan potensi krisis baru. Jika konflik geopolitik meluas atau gangguan energi berlangsung lebih lama, ekonomi dunia dapat dengan cepat masuk ke fase yang jauh lebih berbahaya.

Dalam situasi seperti ini, kerja sama internasional menjadi semakin penting. IMF mengingatkan bahwa dunia tidak boleh membiarkan konflik geopolitik menghancurkan fondasi ekonomi global yang selama puluhan tahun dibangun melalui perdagangan, integrasi, dan koordinasi internasional.

Dunia memang sedang bergerak menuju sistem yang lebih multipolar. Namun menurut IMF, multipolaritas tidak harus berubah menjadi fragmentasi total. Tanpa koordinasi global yang kuat, risiko krisis ekonomi, inflasi berkepanjangan, dan perlambatan pertumbuhan dapat menjadi tantangan utama dunia dalam dekade mendatang.