(Vibiznews – Commodity) Harga minyak mentah jatuh ke level terendah dalam 3,5 bulan dan berakhir turun pada hari Selasa, tertekan penguatan dolar AS.
Harga minyak mentah berjangka WTI AS berakhir turun 0,88% pada $73,21 per barel.
Harga minyak mentah berjangka Brent berakhir turun 0,93% pada $76,80 per barel.
Kenaikan indeks dolar pada hari Selasa ke level tertinggi dalam 13 bulan membebani harga minyak.
Selain itu, dimulainya kembali pasokan minyak mentah melalui Selat Hormuz yang telah dibuka kembali meredakan kekhawatiran pasokan minyak global dan menekan harga minyak mentah.
Selanjutnya, aksi jual di pasar ekuitas global pada hari Selasa mengurangi kepercayaan terhadap prospek ekonomi dan permintaan energi.
Harga minyak mentah berada di bawah tekanan di tengah tanda-tanda bahwa kesepakatan perdamaian AS-Iran sedang berjalan setelah Iran pada hari Senin mengatakan telah ada “kemajuan besar” dalam diskusi semalaman dengan AS mengenai kesepakatan perdamaian menyusul perjanjian sementara pekan lalu yang menyebabkan perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari dan pembukaan Selat Hormuz oleh Iran.
Kembalinya lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz dapat menyebabkan pelepasan lebih dari 100 kapal bermuatan minyak dari negara-negara Timur Tengah selain Iran yang terjebak di Teluk Persia, yang secara efektif melepaskan stok minyak ke pasar.
Malam nanti akan dirilis data pasokan minyak mentah mingguan AS oleh EIA yang diindikasikan terjadi kenaikan.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga minyak mentah dapat bergerak turun terpicu penguatan dolar AS dan pembukaan Selat Hormuz yang dapat memicu peningkatan pasokan. Harga minyak mentah berjangka WTI diperkirakan bergerak dalam kisaran Support $72,31-$71,41. Namun jika naik, akan bergerak dalam kisaran Resistance $74,28-$75,35.








