Harga Kopi Arabika Kamis Turun Tertekan Profit Taking

46
kopi

(Vibiznews – Commodity) Harga kopi arabika di bursa komoditi berjangka New York berakhir mengalami koreksi penurunan pada perdagangan hari Kamis, 30 Juli 2026, akibat maraknya aksi ambil untung atau profit-taking setelah harga sempat melonjak tajam menyentuh level tertinggi dalam dua pekan.

Harga kopi arabika berjangka kontrak acuan September ditutup turun ke level 325,80 sen dolar AS per pon. Secara umum, perdagangan kopi arabika dunia saat ini berada di kisaran $3,10 hingga $3,34 per pon, sementara sepanjang hari ini rentang perdagangan untuk jenis turunan kopi arabika 4/5 bergerak sangat fluktuatif di antara 377,75 hingga 395,10.

Pelemahan mata uang Real Brasil menjadi faktor utama yang menekan harga kopi pada sesi perdagangan kali ini. Nilai tukar Real Brasil dilaporkan jatuh ke level terendah dalam dua setengah minggu terhadap dolar AS. Kondisi mata uang yang melemah ini memotivasi para produsen di Brasil untuk meningkatkan penjualan ekspor mereka guna memaksimalkan pendapatan dalam mata uang lokal. Langkah ini pada gilirannya memicu likuidasi posisi beli (long liquidation) oleh para pelaku pasar berjangka, sehingga menekan harga turun.

Meski demikian, penurunan harga yang lebih dalam berhasil tertahan oleh sentimen anomali cuaca dan keterlambatan panen di Brasil. Wilayah Minas Gerais, kawasan penghasil kopi terbesar di Brasil, diguyur curah hujan ekstrem yang mencapai 2.700% di atas rata-rata historisnya. Hujan lebat ini memaksa penundaan aktivitas pemetikan di ladang dan memicu kekhawatiran pasar akan rusaknya kualitas biji kopi.

Harga juga mendapat dukungan dari kondisi kritisnya cadangan ketersediaan (stockpile) global. Persediaan kopi arabika yang disertifikasi oleh gudang bursa ICE terus menyusut drastis hingga mendekati level terendah dalam dua setengah tahun terakhir. Menipisnya cadangan fisik ini membuat harga pasar berjangka menjadi sangat sensitif terhadap gangguan pasokan sekecil apa pun di lapangan.

Dari perspektif jangka panjang, reli harga yang liar berhasil dibatasi oleh sentimen proyeksi rekor produksi. Departemen Pertanian AS (USDA) memproyeksikan bahwa total produksi kopi global akan mencapai rekor tertinggi baru untuk musim 2026/2027. Ekspektasi akan melimpahnya pasokan dari produsen utama seperti Brasil dan Vietnam ini menjadi penahan psikologis di pasar.

Ke depan, para pelaku pasar juga bersiap mengantisipasi ancaman siklus kering akibat fenomena El Nino kuat yang diprediksi terjadi pada periode September hingga Oktober mendatang. Kekeringan pada rentang bulan tersebut berisiko merusak fase pembungaan pohon kopi baru, yang pada akhirnya dapat mengancam produktivitas panen untuk tahun berikutnya.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga kopi arabika dapat bergerak konsolidasi dengan bayang-bayang tekanan dari pelemahan Real Brasil, namun tetap ditopang oleh fundamental ketatnya persediaan dan gangguan cuaca jangka pendek. Harga kopi arabika diperkirakan bergerak dalam kisaran Support $3.22-$3.20. Namun jika berbalik naik, harga akan bergerak dalam kisaran Resistance $3.30-$3.34.