Harga Kakao Jumat Bergerak Lemah Dengan Meningkatnya Pasokan di Afrika Barat

52
kakao, cocoa

(Vibiznews – Commodity) Harga kakao di bursa komoditi berjangka New York bergerak konsolidasi dengan kecenderungan melemah terbatas pada perdagangan akhir pekan hari Jumat, tertekan oleh terus membaiknya pasokan fisik dari kawasan Afrika Barat serta lesunya prospek permintaan industri.

Harga kontrak berjangka kakao acuan dunia untuk penyerahan bulan September 2026 terpantau berada di kisaran 5.112 hingga 5.118 dolar AS per metrik ton. Sepanjang sesi perdagangan hari Jumat, pergerakan harga mencatatkan rentang harian di antara level terendah 5.050,50 dolar AS hingga level tertinggi 5.217,00 dolar AS per metrik ton. Secara teknis, harga kakao saat ini sedang berada dalam fase pengujian area support psikologis yang kuat setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi delapan bulan di angka 6.455 dolar AS pada awal bulan Juli.

Meskipun secara akumulatif selama bulan Juli 2026 komoditas ini masih berhasil membukukan kenaikan tipis sekitar 0,39 persen hingga 0,52 persen, posisi harga saat ini mencerminkan koreksi tajam sekitar 39 persen lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Koreksi tahunan ini sebagian besar didorong oleh pemulihan pasokan global yang terus berlanjut.

Faktor fundamental utama yang terus memberikan tekanan pada pergerakan harga adalah lonjakan suplai dari wilayah Afrika Barat. Data pengiriman pelabuhan di Pantai Gading mencatat kenaikan yang signifikan sebesar 21 persen secara tahunan, mencapai volume 2,11 juta metrik ton. Kelonggaran pasokan fisik dunia ini semakin diperkuat oleh melonjaknya ekspor kakao dari Nigeria sebesar 30 persen pada periode bulan Juni. Tingginya ketersediaan barang di pasar fisik ini turut berdampak pada inventaris kakao di bursa ICE Futures US yang merangkak naik menuju level tertinggi dalam dua tahun terakhir, sehingga memberikan beban psikologis yang berat bagi pasar berjangka.

Dari sisi konsumsi, pasar juga dihadapkan pada indikasi kuat mengenai penurunan permintaan industri. Tingginya harga produk turunan teoretis seperti cocoa butter, yang diproyeksikan dapat menembus 12.150 dolar AS per ton, mulai memukul tingkat profitabilitas produsen cokelat dunia. Raksasa cokelat global seperti Lindt bahkan telah memberikan sinyal untuk memotong harga jual mereka guna menopang volume penjualan akibat melandainya tingkat konsumsi masyarakat global merespons harga bahan baku yang mahal.

Sementara itu dari pasar domestik Indonesia, dinamika lonjakan harga bahan baku internasional di awal tahun ini telah mempercepat langkah industri makanan olahan lokal maupun global untuk mencari alternatif. Para pelaku industri manufaktur mulai beralih memanfaatkan produk turunan sawit seperti Cocoa Butter Equivalent dan Cocoa Butter Substitute yang dinilai jauh lebih kompetitif. Merespons dinamika harga internasional dan ketatnya pasokan regional, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia juga telah menyesuaikan kebijakannya dengan menetapkan Harga Referensi biji kakao di level 3.969,56 dolar AS per metrik ton, yang berimplikasi pada naiknya Harga Patokan Ekspor biji kakao domestik ke level 3.646 dolar AS per metrik ton.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan awal pekan selanjutnya, pergerakan harga kakao berpotensi masih akan membukukan tren konsolidasi di tengah melimpahnya stok fisik bursa dan kehati-hatian pasar terhadap permintaan manufaktur. Harga kakao diperkirakan akan bergerak menguji kisaran support di 5.050 hingga 4.950 dolar AS per metrik ton jika kembali mengalami tekanan jual. Namun, apabila terjadi aksi beli yang mendorong penguatan, pergerakan harga akan mencoba menguji kisaran resistance di 5.217 hingga 5.300 dolar AS per metrik ton.