
(Vibiznews – Index) – Bursa Saham Wall Street pada penutupan pasar hari Kamis waktu AS (Jumat pagi WIB, 14 Agustus 2026) berakhir melonjak serentak, dengan indeks S&P 500 sukses mencetak rekor penutupan tertinggi baru sepanjang masa. Pasar merespons positif rilis data inflasi tingkat produsen (PPI) Amerika Serikat yang lebih jinak dari perkiraan, sehingga meredakan kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve.
Indeks S&P 500 ditutup menguat +0,65% atau 50,49 poin dan mencetak rekor penutupan tertinggi baru di level 7.798,99. Indeks Nasdaq Composite ditutup melonjak +0,81% atau 214,54 poin ke level 26.803,03, dipimpin oleh reli saham-saham produsen cip. Sementara itu, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup naik tipis +0,13% atau 69,72 poin ke posisi 53.839,99.
Data inflasi produsen (PPI) yang mengejutkan pasar menjadi katalis utama penggerak indeks pada sesi perdagangan kali ini. Data Producer Price Index (PPI) total final demand AS untuk bulan Juli dilaporkan tidak berubah alias 0,0% secara bulanan, lebih rendah dari ekspektasi ekonom yang memprediksi kenaikan 0,2%, sementara PPI Inti (tidak termasuk komponen makanan dan energi) hanya naik 0,2%. Melandainya angka inflasi grosir ini, menyusul data CPI yang juga tercatat jinak sehari sebelumnya, membuat pelaku pasar kini melihat adanya peluang sebesar 68% bahwa The Fed akan menahan suku bunga acuan pada pertemuan bulan September mendatang.
Sentimen makro yang positif turut memicu aksi beli masif pada saham-saham semikonduktor dan ekosistem infrastruktur kecerdasan buatan (AI), dengan rincian pergerakan sebagai berikut:
Sandisk (SNDK) meroket +13,7% dan memimpin penguatan di dalam indeks S&P 500, didorong oleh sentimen positif saham produsen memori.
Micron Technology (MU) melesat +4,2%, sementara raksasa AI Nvidia (NVDA) ikut terangkat naik +2,1%.
Netflix (NFLX) melonjak +5,4% setelah investor miliarder Bill Ackman mengumumkan kepemilikan saham baru dalam perombakan portofolio Pershing Square.
Di sisi lain, indeks Dow Jones sempat tertahan dari penguatan yang lebih tinggi akibat anjloknya saham Cisco Systems sebesar -9,1% pasca rilis laporan keuangan yang mengecewakan pasar.
Pelemahan harga minyak dunia turut menopang sentimen pasar, dengan kontrak berjangka minyak mentah global kompak turun lebih dari -2%, di mana harga minyak Brent menetap di kisaran USD 87,07 per barel. Koreksi harga minyak ini terjadi seiring antisipasi pelaku pasar terhadap potensi pelemahan permintaan fisik, meskipun ketegangan perang antara AS dan Iran di Selat Hormuz masih berlangsung. Penurunan harga komoditas energi ini turut membantu meredakan ekspektasi inflasi sekaligus menopang margin bagi emiten-emiten non-energi.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan pergerakan bursa Wall Street pada sesi perdagangan selanjutnya akan mencermati dampak rekor tertinggi S&P 500 ini terhadap pergerakan bursa saham di kawasan Asia, serta bersiap menantikan rilis survei sentimen konsumen pendahuluan AS yang akan menjadi indikator penting kekuatan daya beli masyarakat menjelang akhir pekan.







