Harga CPO Kamis Turun Mengikuti Pelemahan Harga Minyak

28

(Vibiznews – Commodity) – Harga kontrak berjangka minyak kelapa sawit mentah atau CPO untuk kontrak acuan di Bursa Malaysia Derivatives ditutup melemah pada perdagangan hari ini, Kamis (13/8/2026). Kontrak acuan tersebut mengalami koreksi sebesar 1,07 hingga 1,16 persen dan berada pada level RM4.697 per metrik ton. Pelemahan ini memutus tren penguatan yang sempat berlangsung di awal pekan akibat maraknya aksi ambil untung dari para pelaku pasar.

Tekanan terhadap harga CPO dunia hari ini datang dari pelemahan harga minyak mentah global, yang merosot lebih dari US$1 per barel akibat pemangkasan proyeksi permintaan energi dunia untuk tahun 2026. Turunnya harga energi fosil tersebut turut menyeret pasar minyak nabati, mengingat kelapa sawit menjadi pilihan yang kurang ekonomis sebagai bahan baku biodiesel ketika harga minyak bumi konvensional lebih murah. Sentimen negatif ini semakin diperberat oleh rilis data persediaan domestik Malaysia, di mana stok CPO melonjak 3,32 persen menjadi 2,63 juta ton, didorong oleh lonjakan produksi bulanan hingga 9,41 persen yang melampaui ekspektasi serapan pasar.

Meski demikian, koreksi tajam pada harga CPO berhasil diredam oleh pelemahan nilai tukar ringgit Malaysia, yang membuat komoditas sawit menjadi relatif lebih murah bagi para pembeli luar negeri. Prospek ekspor Malaysia untuk awal Agustus yang tercatat naik antara 2,6 persen hingga 14,8 persen, serta tingginya aktivitas impor dari India menjelang musim festival, turut menjaga batas bawah harga agar tidak merosot lebih dalam pada perdagangan hari ini.

Di pasar fisik dalam negeri, aktivitas perdagangan CPO Indonesia juga masih terpantau lesu. Tender yang digelar oleh PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara atau KPBN Inacom berakhir dengan status withdraw. Penawaran tertinggi untuk CPO Franco Dumai hanya mencapai Rp15.602 per kilogram, turun tipis sebesar Rp100 per kilogram atau sekitar 0,64 persen dibandingkan realisasi lelang pada hari sebelumnya yang sempat menyentuh Rp15.702 per kilogram. Kondisi ini mencerminkan sentimen pelaku pasar dalam negeri yang turut tertekan oleh pelemahan harga acuan di Bursa Malaysia serta minimnya penawaran yang sesuai dengan harga yang diinginkan penjual.