Harga CPO Kamis Berakhir Melemah Mengikuti Penurunan Harga Minyak

86
sawit

(Vibiznews – Commodity) – Harga kontrak berjangka minyak sawit mentah atau CPO acuan untuk pengiriman November 2026 di Bursa Malaysia Derivatives ditutup melemah pada perdagangan sore hari ini, Kamis (27/8/2026), ke level RM4.852 per metrik ton. Kontrak acuan tersebut mencatatkan penurunan sebesar 1,90 persen, memperpanjang tren koreksi mingguan dan menyentuh level terendah dalam sepekan, setelah sempat menembus rekor tertinggi baru di atas RM5.000 per metrik ton pada pekan lalu. Kontrak untuk pengiriman Desember 2026 turut terpangkas 82 ringgit ke level RM4.931 per metrik ton, sementara kontrak Januari 2027 melemah ke kisaran RM4.996 per metrik ton.

Koreksi tajam harga CPO dunia hari ini utamanya dipicu oleh jatuhnya harga minyak mentah global, dengan Brent berada di kisaran US$93 per barel dan WTI di level US$85 per barel. Turunnya harga energi fosil ini membuat minyak kelapa sawit menjadi opsi yang kurang kompetitif secara ekonomi sebagai bahan baku produksi biodiesel, sehingga mengurangi daya tarik CPO di mata pelaku pasar. Tekanan jual semakin diperberat oleh redanya risiko gangguan di Selat Hormuz, seiring mediasi pembicaraan diplomatik antara Iran dan Qatar yang membuka peluang pembukaan kembali jalur pelayaran logistik. Berkurangnya risiko disrupsi pasokan energi di Timur Tengah ini memicu aksi likuidasi dan ambil untung oleh para spekulan komoditas global.

Selain sentimen energi, pasar sawit dunia turut tertekan oleh kelesuan permintaan ekspor dalam jangka pendek. Berdasarkan rilis data berkala dari pemantau kargo, volume ekspor produk kelapa sawit Malaysia untuk periode 1–25 Agustus diestimasikan anjlok antara 11,4 persen hingga 20 persen dibandingkan bulan sebelumnya, menunjukkan penurunan permintaan yang cukup signifikan dan menambah tekanan pada harga acuan di Bursa Malaysia hari ini.

Kendati mengalami koreksi teknis harian, lembaga riset Fitch Solutions atau BMI menilai prospek struktural jangka panjang CPO tetap solid karena ketatnya pasokan global. Output produksi diperkirakan mendatar, dengan produksi Malaysia diproyeksikan menyusut hingga 3,5 persen. Di sisi lain, akselerasi implementasi program mandatori biodiesel B50 oleh pemerintah Indonesia diprediksi akan menyerap pasokan ekspor secara signifikan ke pasar bahan bakar dalam negeri, sehingga tetap menjadi fondasi bagi prospek harga CPO dalam jangka menengah hingga panjang.

Menyelaraskan diri dengan koreksi di bursa regional, pasar fisik domestik Indonesia turut mencatatkan pelemahan. Tender fisik CPO di KPBN Inacom kembali mencatatkan status withdraw, dengan harga penawaran tertinggi anjlok sekitar 1,54 persen menjadi Rp15.600 per kilogram untuk skema Franco Dumai, dibandingkan posisi awal pekan lalu yang sempat bertahan di Rp15.844 per kilogram.