(Vibiznews – Economy & Business) — Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang berlangsung sejak Jumat (4/9) malam hingga Minggu (6/9) telah menyebarkan abu vulkanik hingga menembus ruang udara DKI Jakarta dan sekitarnya. Selain menjadi ancaman keselamatan penerbangan, peristiwa ini turut memukul roda ekonomi ibu kota, dari sektor logistik, pariwisata, hingga ritel kesehatan.
Hingga Senin pagi (7/9), otoritas penerbangan masih memperpanjang penutupan sejumlah bandara utama, termasuk Bandara Soekarno-Hatta (CGK), Halim Perdanakusuma (HLP), Husein Sastranegara (BDO), dan Radin Inten II (TKG) di Lampung. Waktu pembukaan kembali bersifat dinamis, menunggu hasil pemantauan sebaran abu oleh BMKG dan otoritas penerbangan.
Logistik dan Penerbangan Paling Terpukul
Sektor yang paling merasakan dampak langsung adalah penerbangan dan logistik. Penutupan bandara membuat ratusan penerbangan batal beroperasi — di Bandara Soekarno-Hatta saja, gangguan menyentuh sekitar 209 penerbangan yang mencakup rute domestik, internasional, maupun kargo, dengan puluhan ribu penumpang terdampak.
Maskapai seperti Garuda Indonesia bahkan telah membatalkan seluruh jadwal penerbangan dari dan menuju Jakarta, Bandung, serta Lampung hingga tengah hari, dengan operasional baru berjalan bertahap begitu izin keselamatan terpenuhi.

Bagi pelaku usaha, dampaknya merembet ke biaya operasional. Pengalihan kargo ke moda darat dan laut memaksa munculnya biaya tambahan untuk penyimpanan barang (warehousing), sementara Kadin mengingatkan potensi keterlambatan pasokan bahan baku industri serta pengiriman barang ekspor yang tertunda.
Pariwisata dan MICE Ikut Melambat
Sebagai pusat bisnis sekaligus gerbang pertemuan, konferensi, dan pameran (MICE), Jakarta turut merasakan efek instan pada sektor jasa. Pembatalan tiket pesawat secara massal memicu gelombang permintaan refund dan penjadwalan ulang, sementara okupansi hotel berpotensi melambat akibat tertundanya kedatangan tamu bisnis domestik maupun ekspatriat.
Ritel Kesehatan Justru Kebanjiran Order
Di tengah tekanan pada sektor transportasi, bisnis ritel skala kecil dan apotek justru mencatat lonjakan omzet akibat kepanikan warga menghadapi sebaran abu tipis yang mulai turun ke permukiman. Di kawasan seperti Kalimalang, Jakarta Timur, penjualan masker dilaporkan melonjak hingga tiga kali lipat dalam semalam, didorong oleh permintaan masker jenis duckbill maupun N95.

Prospek Sepekan ke Depan: Tekanan Belum Usai
Pemulihan penuh diperkirakan tidak berlangsung instan meski otoritas memantau ruang udara secara berkala. Beberapa hal yang perlu diantisipasi pelaku usaha sepanjang minggu ini:
- Efek berantai di penerbangan. Sekalipun bandara utama mulai dibuka bertahap, maskapai membutuhkan waktu dua hingga tiga hari untuk menata ulang rotasi pesawat dan kru yang tertahan di berbagai daerah, sehingga jadwal penerbangan berpotensi tetap mengalami pergeseran waktu.
- Migrasi ke jalur darat dan laut. Pemerintah telah mengimbau pelaku usaha mengalihkan pengiriman barang ke kereta api, truk, atau kapal laut. Kementerian Perhubungan memastikan jalur penyeberangan Selat Sunda (ASDP) dan jalur kereta api masih beroperasi normal.
- Lead time dan biaya logistik naik. Peralihan dari udara ke darat/laut memperpanjang waktu tempuh pengiriman dari hitungan jam menjadi hitungan hari, sementara lonjakan permintaan armada truk dan ruang kargo kapal berisiko mendorong kenaikan tarif logistik sementara.
- Risiko pasokan bahan baku industri. Pelaku usaha yang mengandalkan pasokan cepat (just-in-time) via kargo udara — seperti komponen elektronik, otomotif, atau bahan pangan segar — perlu mewaspadai periode kritis akibat potensi hambatan arus ekspor-impor.
Bagi pelaku bisnis dengan jadwal pengiriman atau perjalanan yang terdampak, langkah mitigasi yang disarankan meliputi tidak langsung menuju bandara di tengah penumpukan penumpang, memantau status penerbangan secara berkala, serta memanfaatkan skema Service Recovery Activation (SRA) untuk pengajuan reschedule tanpa biaya tambahan atau refund sesuai regulasi yang berlaku.





