(Vibiznews – Index) Indeks Nikkei Jepang ditutup merosot tajam pada perdagangan hari ini, Selasa, 8 September 2026, setelah sempat menguat pada awal sesi namun berbalik arah dan anjlok di akhir perdagangan akibat tekanan aksi jual yang masif pada saham-saham sektor manufaktur dan eksportir utama.
Indeks Nikkei 225 ditutup melemah 1,7%, kehilangan lebih dari 1.130 poin, dan berakhir di level 65.269,33. Indeks sempat menguat pada awal sesi, sejalan dengan momentum positif yang terbawa dari penutupan sesi sebelumnya, sebelum akhirnya berbalik jatuh sepanjang sisa perdagangan hari ini.
Kejatuhan bursa saham Jepang hari ini terutama dipicu oleh lonjakan nilai tukar yen. Dolar AS melemah hingga ke kisaran 152 sampai 153 yen. Penguatan drastis mata uang yen ini langsung memukul daya saing dan prospek pendapatan luar negeri perusahaan raksasa eksportir Jepang. Saham Toyota Motor Corp ambles 4,1% dan Panasonic Holdings Corp terjun 5,8%, menjadi penekan utama indeks sepanjang sesi.
Tekanan tambahan datang dari spekulasi kenaikan suku bunga Bank of Japan. Para investor terus bersiap menghadapi potensi pengetatan moneter lebih lanjut oleh BOJ pada pertemuan bulan September ini. Ekspektasi kenaikan suku bunga domestik di tengah inflasi Jepang yang persisten semakin memicu volatilitas modal di pasar saham.
Saham-saham chip dan elektronik yang sempat reli pada hari sebelumnya juga mengalami koreksi akibat aksi ambil untung. Saham Tokyo Electron turun 3,3% dan produsen silikon Sumco melorot 7%. Produsen komponen kelistrikan seperti Taiyo Yuden dan Alps Alpine bahkan anjlok masing-masing 7,92% dan 8,29%.
Di sisi lain, risiko geopolitik dan harga energi turut membebani sentimen pasar. Ketegangan militer antara AS dan Iran di sekitar Selat Hormuz menekan sentimen risiko global, sementara lonjakan harga minyak mentah Brent yang mendekati USD 97 per barel memicu kekhawatiran baru atas inflasi global yang berlarut-larut, membuat bursa Asia-Pasifik kompak bergerak defensif.
Sementara itu, dari sisi data ekonomi domestik, ekonomi Jepang dilaporkan tumbuh dengan kecepatan tahunan sebesar 1,4% pada kuartal April-Juni. Meskipun angka ini sedikit lebih cepat dari perkiraan awal, rilis data ekonomi campuran global lainnya membuat pasar tetap berhati-hati sepanjang perdagangan hari ini.








