(Vibiznews – Commodity) – Harga minyak mentah dunia acuan Brent dan WTI melonjak tajam pada perdagangan pasar komoditas internasional hari Kamis (10/9/2026), dengan minyak mentah Brent sukses menembus level psikologis 100 dolar AS per barel. Tren kenaikan agresif ini membawa kedua instrumen acuan global ke level penyelesaian tertinggi mereka sejak akhir Mei lalu.
Berdasarkan penutupan perdagangan sesi terakhir, harga minyak Brent melonjak 3,4 persen atau bertambah 3,29 dolar AS untuk menetap di posisi 101,21 dolar AS per barel, setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi harian di 101,58 dolar AS. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat ikut terangkat naik sebesar 3,25 persen atau bertambah 3,02 dolar AS untuk menetap di level 96,05 dolar AS per barel. Pada sesi perdagangan pagi hari ini, WTI terpantau terus merangkak naik menuju kisaran 96,69 dolar AS per barel.
Meroketnya harga komoditas energi ini dipicu secara langsung oleh eskalasi konflik fisik di jalur maritim Timur Tengah. Pemicu utama lonjakan harga adalah aksi militer dari Komando Sentral Amerika Serikat yang menghancurkan lima kapal tanker minyak milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran di Teluk Oman, menyusul adanya ancaman rudal yang menargetkan kapal perang Amerika Serikat.
Merespons tindakan tersebut, pihak Iran membalas dengan memberikan peringatan keras agar seluruh armada kapal pengangkut segera mengosongkan wilayah perairan Kuwait dan Bahrain. Ketegangan ini memicu kepanikan di bursa komoditas karena gangguan pasokan di Selat Hormuz, jalur yang menampung hampir seperlima pasokan minyak dunia, diprediksi oleh pasar akan berlangsung jauh lebih lama dari estimasi awal.
Situasi pasokan regional semakin diperkeruh oleh serangan milisi Houthi yang didukung Iran, yang kembali menargetkan infrastruktur energi di wilayah selatan Arab Saudi. Serangan ini mencakup fasilitas kilang minyak Jazan yang memiliki kapasitas pemrosesan hingga 400.000 barel per hari, sehingga semakin mengerek naik premi risiko geopolitik.
Di tengah ancaman keterbatasan pasokan tersebut, harga minyak mendapat sokongan kuat dari aksi belanja China. Negara importir terbesar dunia ini dilaporkan secara masif kembali mengisi cadangan (restocking) minyak mentah dan bahan bakar minyak domestik mereka yang kian menipis.
Menyikapi fundamental yang mengetat akibat perang, Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) sebenarnya telah merevisi naik proyeksi estimasi rata-rata harga spot minyak mentah global sebesar hampir 5 persen menjadi 91 dolar AS per barel untuk tahun 2026. Namun, tingginya volatilitas dan kepanikan pasar hari ini membuat pergerakan harga justru telah melesat jauh melampaui hitungan model resmi pemerintah tersebut.
Untuk pergerakan selanjutnya, harga minyak mentah jenis Brent berjangka diperkirakan akan bertemu kisaran resisten di 103,50 – 105,20 dan support di 99,80 – 98,10. Sementara itu, untuk harga minyak mentah WTI berjangka diproyeksikan akan menemui kisaran resisten di 98,50 – 100,10 dan support di 94,80 – 93,20.








