Rekomendasi Harga Minyak 15 September 2026

26

(Vibiznews – Commodity) – Harga minyak mentah dunia bergerak menguat secara signifikan dan bertahan kokoh di atas level psikologis 100 dolar AS per barel pada perdagangan pasar komoditas internasional sesi Asia hari Selasa (15/9/2026). Tren pergerakan yang sangat bullish ini memperpanjang reli harga minyak ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir akibat ancaman krisis pasokan yang semakin nyata di pasar energi global.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) acuan Amerika Serikat terpantau bertengger di kisaran 102 hingga 103 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah acuan global jenis Brent juga terus merangkak naik dan aktif diperdagangkan mendekati kisaran 106 hingga 107 dolar AS per barel.

Faktor penggerak paling dominan pada perdagangan hari ini datang dari semenanjung Arab, yakni penutupan darurat Jalur Pipa Timur-Barat atau East-West Pipeline sepanjang 1.200 kilometer milik Arab Saudi. Jalur pipa yang memiliki kapasitas angkut hingga 7 juta barel per hari ini terpaksa dihentikan operasinya oleh Kementerian Energi Arab Saudi sebagai langkah pencegahan krusial setelah adanya serangan drone dari milisi Houthi. Mengingat infrastruktur ini merupakan rute alternatif paling penting untuk mengekspor minyak mentah tanpa harus melewati Selat Hormuz, aktivitas ekspor minyak dari pelabuhan Yanbu langsung menyusut drastis ke level terendahnya dalam enam bulan terakhir.

Risiko distribusi energi di kawasan Timur Tengah juga tereskalasi dengan cepat. Konflik geopolitik yang terus menegang menyebabkan volume lalu lintas armada kapal tanker di Selat Hormuz anjlok parah hingga berada di bawah 10 persen dari level normal sebelum periode perang. Terganggunya keamanan maritim di sekitar perairan Laut Merah membuat para pelaku pasar semakin khawatir bahwa pasokan minyak mentah global akan mengalami penyumbatan jalur logistik yang berkepanjangan.

Merespons rentetan krisis pasokan tersebut, sejumlah lembaga keuangan global seperti Goldman Sachs mulai mengubah proyeksi mereka. Para analis menilai bahwa pasar saat ini tengah memperhitungkan risiko konflik Timur Tengah untuk jangka waktu yang lebih panjang. Jika kapasitas produksi dan distribusi minyak dari kawasan Teluk terus tertahan jauh di bawah batas normalnya, harga minyak Brent diperkirakan memiliki potensi kuat untuk terbang melampaui level 120 dolar AS per barel.

Dari sisi makroekonomi, pergerakan nilai tukar Dolar AS menjelang pertemuan penetapan suku bunga The Fed pada pekan ini turut memberikan pengaruh pada sentimen komoditas. Ketidakpastian arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat memicu tingkat volatilitas tambahan bagi para trader komoditas berjangka dalam menentukan posisi di pasar energi saat ini.

Untuk pergerakan selanjutnya, harga minyak mentah jenis Brent berjangka diperkirakan akan bertemu kisaran resisten di 108,80 – 110,50 dan support di 104,20 – 102,50. Sementara itu, untuk harga minyak mentah WTI berjangka diproyeksikan akan menemui kisaran resisten di 104,50 – 106,20 dan support di 100,50 – 98,80.