Bursa Wall Street Selasa Berakhir Melemah Tertekan Kenaikan Yield Treasury AS dan Harga Minyak

42
Pasar Saham
New York Stock Exchange - Vibizmedia Photo

(Vibiznews – Index) – Bursa Saham Wall Street pada penutupan pasar hari Selasa, 15 September 2026, berakhir melemah akibat tekanan jual yang dipicu oleh lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat ke level psikologis 5% dan kenaikan tajam harga minyak dunia, di tengah kewaspadaan investor menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve.

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah -0,63% atau 328,09 poin ke level 52.093,11, Indeks S&P 500 ditutup turun -0,45% ke level 7.585,73, dan Indeks Nasdaq Composite terpangkas -0,78% ke level 25.981,57. Pelemahan ini menandai sesi negatif kedua secara beruntun bagi ketiga indeks utama tersebut.

Tekanan terbesar datang dari pasar obligasi pemerintah Amerika Serikat, di mana imbal hasil Treasury tenor 10 tahun sempat melonjak ke level 5,04% secara intraday, level tertinggi sejak tahun 2007, sebelum sedikit mereda ke kisaran 5,01% menjelang penutupan sesi. Lonjakan yield ini terjadi bertepatan dengan hari pertama pertemuan kebijakan Federal Reserve yang berlangsung selama dua hari, dengan hasil keputusan suku bunga dijadwalkan diumumkan Rabu waktu setempat. Pelaku pasar memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin berada di atas 94%, yang apabila terealisasi akan menjadi kenaikan pertama sejak tahun 2023. Tingginya imbal hasil aset bebas risiko ini turut menggerus daya tarik pasar ekuitas bagi investor.

Dari sisi komoditas, harga minyak mentah dunia melanjutkan tren kenaikan akibat gangguan pasokan di kawasan Timur Tengah. Serangan terhadap infrastruktur energi memaksa Arab Saudi menutup pipa East-West yang menjadi salah satu jalur bypass utama Selat Hormuz, memicu kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak global. Harga minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman November naik hampir 3% ke level $108,75 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih dari 4% ke $105,83 per barel. Lonjakan harga energi ini memperbesar kekhawatiran investor terhadap tekanan inflasi yang berpotensi memaksa The Fed mempertahankan sikap kebijakan yang lebih ketat dalam waktu lebih lama.

Di sisi lain, saham-saham yang terkait kecerdasan buatan (AI) justru menunjukkan pemulihan setelah mengalami aksi jual tajam pada sesi perdagangan sebelumnya. Coherent menguat hampir 2%, Advanced Micro Devices (AMD) naik 2%, dan Qualcomm melesat lebih dari 4%, sehingga turut membantu meredam pelemahan yang lebih dalam pada Indeks S&P 500 dan Nasdaq. Penguatan ini muncul di tengah keraguan pasar yang masih membayangi sektor teknologi, menyusul seruan sejumlah eksekutif perusahaan AI terkemuka — termasuk CEO Anthropic Dario Amodei — agar laju pengembangan model kecerdasan buatan diperlambat dengan pertimbangan keamanan.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan pergerakan bursa Wall Street pada sesi perdagangan selanjutnya akan sangat diwarnai oleh sikap wait-and-see investor dalam menantikan pengumuman resmi keputusan suku bunga Federal Reserve pada Rabu waktu setempat, serta terus memantau perkembangan gangguan pasokan minyak dunia akibat eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah.