Harga CPO Kamis Naik Terpicu Implementasi Biodiesel B50 Indonesia

18
cpo

(Vibiznews – Commodity) – Harga kontrak berjangka minyak sawit mentah atau CPO global pada perdagangan hari ini, Kamis (17/9/2026), terpantau bergerak menguat dan kembali mendekati level psikologis RM4.900 per metrik ton di bursa komoditas Malaysia. Kontrak acuan pengiriman November 2026 di Bursa Malaysia Derivatives berada di posisi RM4.884 per metrik ton, naik 0,70 persen dari harga penutupan terakhir sebelum bursa libur tengah pekan pada Rabu lalu. Penguatan harga CPO ini kontras dengan koreksi yang melanda komoditas energi lainnya, berkat dukungan kuat dari faktor fundamental pasokan di sisi hulu.

Sentimen jangka panjang yang paling diperhitungkan pasar sawit dunia hari ini adalah komitmen kuat pemerintah Indonesia untuk mempercepat implementasi pencampuran biodiesel B50. Rencana kebijakan ini secara signifikan akan menyedot volume CPO untuk kebutuhan domestik dalam jumlah besar, sehingga memperketat kuota ekspor untuk pasar global. Di sisi pasokan, kekhawatiran pelaku pasar juga meningkat seiring proyeksi penurunan output produksi kelapa sawit di beberapa daerah penghasil utama akibat efek berkepanjangan dari kemarau kering El Nino. Indikasi ini diperkuat oleh pergerakan harga kontrak berjangka jarak jauh untuk periode Januari hingga Maret 2027 yang diperdagangkan dengan premi jauh lebih tinggi, lebih mahal RM594 per metrik ton dibandingkan kontrak berjalan Oktober 2026, mencerminkan ekspektasi pasar bahwa pasokan akan semakin langka ke depan.

Bursa juga mendapatkan dorongan psikologis setelah Malaysian Palm Oil Board resmi menaikkan harga referensi CPO untuk periode Oktober menjadi RM4.452,66 per metrik ton, naik dari RM4.392,32 pada bulan September, sambil tetap mempertahankan tarif bea keluar maksimum di level 10 persen. Dari sisi permintaan, pasar sedang berspekulasi menyusul laporan bahwa pemerintah India sedang mempertimbangkan opsi pemangkasan tarif pajak impor minyak nabati sebesar 5 persen untuk meredam inflasi makanan domestik. Jika kebijakan ini disahkan, permintaan impor CPO dari India diprediksi akan melonjak tajam. Meski demikian, keuntungan CPO hari ini sedikit tertahan oleh jatuhnya harga minyak mentah dunia, baik WTI maupun Brent, sekitar 3 persen semalam, mengingat penurunan harga minyak bumi mengurangi margin ekonomi dari konversi CPO menjadi bahan bakar nabati sehingga membatasi reli harga minyak sawit agar tidak melesat terlalu liar.

Di pasar fisik dalam negeri, tender CPO di PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara atau KPBN Inacom resmi ditutup menguat ke level Rp15.758 per kilogram, dengan harga transaksi tertinggi tercatat pada skema Franco Dumai dan CIF Pelabuhan Gresik. Sementara itu di pasar internasional, kontrak fisik CPO CIF Rotterdam untuk pengiriman September ditutup pada level US$1.580 per metrik ton, sedangkan untuk kontrak pengiriman Oktober menguat ke level US$1.620 per metrik ton. Secara keseluruhan, harga komoditas sawit masih bertengger solid di area tertingginya berkat dorongan rencana mandatori biodiesel B50 di Indonesia serta ancaman pengetatan suplai global akibat dampak cuaca kering yang masih membayangi produksi sawit dunia.