(Vibiznews – Commodity) Harga gula mentah di bursa komoditi berjangka internasional pada sesi perdagangan hari ini terpantau bergerak konsolidasi dengan kecenderungan melemah tipis. Pasar gula dunia saat ini sedang mengalami tekanan likuidasi jangka pendek setelah sempat mencatatkan reli penguatan yang kencang dalam satu bulan terakhir.
Perdagangan kontrak berjangka gula mentah dunia acuan nomor 11 di bursa ICE New York terpantau berfluktuasi dan berada di kisaran 18,64 hingga 18,82 sen dolar AS per pon.
Faktor utama yang menjadi penekan pergerakan harga hari ini datang dari kekhawatiran memudarnya permintaan fisik di pasar. Berdasarkan data bursa, besarnya posisi terbuka atau open interest pada kontrak yang mendekati masa kedaluwarsa mengindikasikan adanya penumpukan pasokan fisik di tingkat gudang bursa. Hal ini menjadi sinyal akan lesunya serapan komersial riil dari para importir global.
Tekanan jual di pasar komoditas pemanis ini semakin bertambah menyusul laporan terbaru dari lembaga riset komoditas StoneX. Lembaga tersebut memutuskan untuk mempersempit estimasi defisit gula global untuk musim 2026 hingga 2027 menjadi hanya 900 ribu metrik ton. Angka proyeksi ini melonggar secara signifikan dibandingkan estimasi pada bulan Juli sebelumnya yang sempat diprediksi mencapai defisit 1,7 juta metrik ton.
Selain itu, pelemahan harga turut dipicu oleh kuatnya pergerakan indeks Dolar AS yang mendapat dorongan dari melonjaknya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor sepuluh tahun ke level 5,16 persen. Keperkasaan mata uang dolar ini memaksa pengelola dana spekulatif melakukan aksi likuidasi dan ambil untung secara massal. Posisi beli bersih dari para investor yang sebelumnya sempat menyentuh rekor tertinggi dalam tiga tahun terakhir kini mulai dipangkas secara bertahap.
Meskipun menghadapi tekanan jual, ruang penurunan harga gula mentah global berhasil tertahan dan memiliki bantalan yang kuat berkat rilis data fundamental jangka panjang dari Organisasi Gula Internasional. Lembaga internasional tersebut memproyeksikan bahwa produksi global tetap akan mengalami penyusutan sebesar satu persen secara tahunan menjadi 180,1 juta metrik ton. Risiko kekeringan ekstrem sebagai dampak lanjutan dari anomali cuaca El Nino diprediksi masih akan membayangi wilayah perkebunan tebu di negara-negara produsen utama. Imbas kekeringan ini diperkirakan akan membuat produksi gula Thailand anjlok hingga 15,6 persen, di samping turut mengancam area sentra produksi di Brasil.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya harga gula mentah berpotensi masih bergerak dalam fase konsolidasi dan tertekan oleh aksi likuidasi jangka pendek serta lambatnya serapan komersial. Harga gula mentah diperkirakan akan bergerak menguji kisaran support terdekat di 18,50 hingga 18,35. Namun, apabila kekhawatiran terhadap ancaman iklim kembali memicu aksi beli teknikal di pasar, pergerakan harga berpeluang berbalik arah menuju kisaran resistance 18,95 hingga 19,10.








