Rekomendasi Harga Minyak 25 September 2026

46

(Vibiznews – Commodity) – Harga minyak mentah dunia acuan Brent dan WTI terpantau mengalami koreksi tipis pada pembukaan perdagangan pasar komoditas internasional menjelang akhir pekan hari Jumat (25/9/2026). Pergerakan melandai ini terjadi setelah kedua patokan harga minyak tersebut sempat melonjak tajam sekitar tiga persen pada sesi perdagangan sebelumnya. Pasar komoditas energi saat ini tengah berada dalam fase tarik-menarik yang sangat volatil antara ekspektasi keberhasilan jalur diplomasi global melawan risiko nyata dari ancaman gangguan pasokan fisik.

Berdasarkan pergerakan harga di awal sesi, minyak mentah acuan global jenis Brent bergerak melemah ke kisaran 105,85 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate acuan Amerika Serikat turun ke level 93,80 dolar AS per barel. Tekanan turun pada hari ini sedikit memangkas pencapaian pada sesi Kamis, di mana harga Brent sempat terdongkrak ke level intraday 106,60 dolar AS dan WTI menyentuh 94,61 dolar AS per barel akibat meruaknya kekhawatiran atas kerusakan infrastruktur pasca serangan di wilayah Teluk.

Faktor utama yang memicu tekanan turun pada pergerakan harga hari ini adalah munculnya harapan baru terkait upaya peredaan tensi geopolitik. Laporan terbaru mengindikasikan bahwa negosiator dari Amerika Serikat dan Iran yang saat ini tengah berada di New York sedang menjajaki kesepakatan secara bertahap. Skenario diplomasi ini membuka peluang bagi Teheran untuk membuka kembali lalu lintas pelayaran Selat Hormuz dengan kompensasi berupa pelonggaran blokade ekonomi oleh Washington, sebuah langkah strategis yang dinilai dapat mengembalikan pasokan minyak dalam jumlah masif ke pasar global.

Meskipun mendapat tekanan dari sentimen diplomasi, kejatuhan harga minyak lebih dalam berhasil ditahan oleh eskalasi militer yang faktanya masih terus membayangi Timur Tengah. Ancaman keamanan kembali meningkat setelah kelompok Houthi kembali meluncurkan rentetan serangan rudal yang secara spesifik menargetkan fasilitas energi di Arab Saudi, menjaga premi risiko tetap berada di dalam kalkulasi para pedagang berjangka.

Dari sisi fundamental permintaan, tingginya penyerapan fisik dari kawasan Asia turut menjadi bantalan kuat yang menjaga harga minyak global tetap bertahan kokoh. Impor minyak mentah di kawasan Asia diproyeksikan akan menyentuh angka 23,96 juta barel per hari pada bulan September ini. Volume serapan tersebut berhasil mencetak rekor tertinggi sejak memanasnya konflik geopolitik regional, sebuah indikasi yang menunjukkan tingginya urgensi negara-negara importir besar di Asia untuk terus mengamankan dan menumpuk cadangan energi mereka.

Di luar sentimen geopolitik dan pergerakan kargo fisik, dinamika makroekonomi turut memberikan tekanan tambahan pada pergerakan harga minyak. Terjadi lonjakan tajam pada imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun atau US Treasury yang menyentuh level tertinggi sejak tahun 2007 di kisaran 5,16 persen hingga 5,2 persen. Kondisi ini secara langsung memicu penguatan nilai tukar Dolar AS secara luas. Mengingat komoditas minyak selalu dihargai dalam mata uang Dolar AS, keperkasaan mata uang Paman Sam tersebut secara otomatis membatasi daya beli para pelaku pasar internasional dan memicu aksi ambil untung dalam jangka pendek.

Untuk pergerakan selanjutnya, harga minyak mentah jenis Brent berjangka diperkirakan akan bertemu kisaran resisten di 107,20 – 108,50 dan support di 104,50 – 103,20. Sementara itu, untuk harga minyak mentah WTI berjangka diproyeksikan akan menemui kisaran resisten di 95,10 – 96,50 dan support di 92,50 – 91,20.