(Vibiznews – Commodity) Harga kakao di bursa komoditi berjangka global kembali melanjutkan tren penguatan untuk sesi ketiga berturut-turut pada perdagangan hari Jumat. Pergerakan kontrak berjangka kakao acuan di bursa ICE New York saat ini terpantau bertengger di kisaran 5.595 dolar AS per metrik ton, mengonfirmasi keberhasilan pasar untuk bangkit atau rebound dari level terendah dalam kurun waktu hampir dua bulan yang sempat disentuh pada awal pekan lalu akibat maraknya aksi ambil untung.
Kekhawatiran utama yang menjadi motor penggerak kenaikan harga di pasar berjangka saat ini dipicu oleh ancaman cuaca kering di Pantai Gading, produsen kakao terbesar di dunia. Prakiraan cuaca terbaru menunjukkan perkiraan curah hujan yang berada di bawah tingkat normal sepanjang pekan depan di wilayah tersebut. Kondisi iklim yang mengering ini sangat dikhawatirkan dapat memberikan tekanan stres pada tanaman kakao dan pada akhirnya memangkas proyeksi total output untuk musim panen 2026/2027. Selain faktor cuaca, akselerasi kenaikan harga kakao khususnya di bursa London mendapatkan dorongan kuat dari pelemahan mata uang poundsterling yang jatuh ke level terendah dalam beberapa bulan terakhir terhadap dolar AS. Pelemahan nilai tukar ini secara mekanis membuat harga komoditas yang didenominasi dalam sterling menjadi relatif lebih murah dan menarik minat beli bagi para investor internasional.
Di samping isu cuaca dan dinamika valuta asing, pasar juga menyoroti kondisi fundamental di negara tetangga Pantai Gading, yakni Ghana. Regulator kakao Ghana atau COCOBOD dilaporkan tengah bersiap untuk menerbitkan obligasi domestik senilai 1,4 miliar dolar AS melalui Cocoa Capital PLC pada minggu ini. Langkah darurat pendanaan ini terpaksa diambil guna mendanai pembelian biji kakao musim baru setelah skema pinjaman sindikasi internasional mereka dikabarkan runtuh. Situasi ini serta merta memicu spekulasi di pasar mengenai ketatnya likuiditas operasional di tingkat petani yang dikhawatirkan dapat mengganggu kelancaran kelangsungan distribusi pasokan.
Meskipun terus mencatatkan reli penguatan, laju kenaikan harga kakao cenderung tertahan oleh masih melimpahnya sisi penawaran dalam jangka pendek. Ketersediaan pasokan fisik ini ditandai oleh angka inventaris di gudang yang dipantau secara resmi oleh bursa ICE yang sempat merangkak naik menyentuh level tertinggi dalam dua tahun terakhir, yakni berada di sekitar 3,42 juta kantong. Melonggarnya pasokan ini sejalan dengan laporan regulator Pantai Gading awal bulan ini yang mencatat bahwa total panen periode Juni 2025 hingga Juni 2026 telah melonjak 30 persen menjadi 2,06 juta metrik ton dibandingkan musim sebelumnya. Tingginya angka perolehan panen historis inilah yang sejatinya menjadi alasan utama mengapa harga kakao sempat jatuh tajam hingga 20 persen sejak akhir Agustus lalu sebelum akhirnya berhasil berbalik arah pada minggu ini.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, pergerakan harga kakao berpotensi mencoba melanjutkan momentum penguatannya merespons dinamika cuaca yang mengkhawatirkan di kawasan Afrika Barat menjelang bergulirnya musim panen baru. Harga kakao diperkirakan akan bergerak menguji area resistance di kisaran 5.680 hingga 5.750 dolar AS per metrik ton. Namun, apabila sentimen tingginya stok gudang kembali mendominasi fokus pasar dan memicu aksi ambil untung, pergerakan harga berpeluang terkoreksi untuk menguji level support di sekitar 5.500 hingga 5.420 dolar AS per metrik ton.








