(Vibiznews – Commodity) Harga kopi arabika di bursa komoditi berjangka New York terpantau melanjutkan penguatan pada perdagangan hari Selasa (29 September 2026). Harga naik tipis 0,24 persen ke level 289,45 sen dolar AS per pon, dari penutupan sebelumnya di 288,75. Kenaikan ini melanjutkan reli yang membawa harga menyentuh level tertinggi dalam dua pekan terakhir, mendekati kisaran 2,90 dolar AS per pon — level tertinggi sejak pertengahan September.
Penguatan harga kali ini terutama didorong oleh aksi short covering, setelah harga sempat tertekan tajam selama beberapa pekan terakhir. Secara bulanan, harga masih tercatat melemah 7,08 persen, dan turun 22,78 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, mengindikasikan bahwa rebound saat ini masih bersifat teknikal di tengah tren pelemahan jangka menengah yang dominan.
Meski demikian, ruang penguatan harga masih dibatasi oleh ekspektasi pasokan Brasil yang melimpah. Badan peramalan panen Brasil, Conab, baru saja merevisi naik proyeksi produksi total kopi negara tersebut menjadi 67,6 juta kantong, meningkat dari estimasi sebelumnya sebesar 66,7 juta kantong. Produksi arabika Brasil diproyeksikan melonjak signifikan sebesar 34,8 persen secara tahunan, mencapai 48,2 juta kantong, yang lebih dari cukup untuk mengimbangi penurunan produksi robusta. Panen Brasil tahun 2026 sendiri kini dilaporkan hampir rampung sepenuhnya.
Dari sisi cuaca, kondisi di sentra produksi Brasil dilaporkan tetap kondusif untuk perkembangan tanaman musim depan, meski risiko fenomena El Niño masih terus diawasi ketat oleh pelaku pasar. Selain itu, sejumlah laporan menyebutkan tambahan pengiriman kopi arabika asal Brasil tengah disiapkan untuk proses sertifikasi di gudang-gudang ICE, sebuah langkah yang berpotensi membantu mengisi ulang stok bursa yang selama ini berada di level rendah.
Sebelumnya, tekanan jual sempat mendominasi pasar dengan harga sempat diperdagangkan di bawah 2,80 dolar AS per pon pekan lalu, mendekati level terendah tiga bulan. Tekanan tersebut dipicu oleh proyeksi surplus global dari International Coffee Organization (ICO), yang mencatat produksi dunia musim 2025/2026 tumbuh 4,4 persen secara tahunan ke rekor 183,6 juta kantong, sementara konsumsi diperkirakan turun 0,9 persen menjadi 180,6 juta kantong — menghasilkan surplus pertama dalam lima tahun terakhir. Ekspor Brasil pada Agustus yang melonjak 31 persen secara tahunan ke rekor 4,155 juta kantong turut menambah pasokan ke pasar.
Kendati sentimen pasokan masih membebani prospek harga jangka menengah, pelaku pasar tetap mewaspadai faktor risiko yang dapat memicu pembalikan arah secara tiba-tiba, termasuk potensi gangguan cuaca pada fase kritis pembungaan dan pembentukan buah kopi di Brasil pada periode Desember hingga Maret mendatang.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga kopi arabika berpotensi melanjutkan konsolidasi dengan bias menguat dalam jangka pendek, didorong oleh aksi short covering dan minat beli teknikal setelah tekanan jual yang berkepanjangan. Namun demikian, prospek pasokan Brasil yang melimpah dan proyeksi surplus global tetap menjadi faktor pembatas kenaikan harga. Harga kopi arabika diperkirakan bergerak menguji area Resistance di kisaran 295,00 hingga 300,00. Namun apabila sentimen pasokan kembali mendominasi, harga berpeluang terkoreksi kembali menuju area Support di 283,00 hingga 277,00.








