Jakarta, Vibiznews, Commodity – Harga minyak mentah dunia ditutup menguat tajam pada perdagangan Kamis (1/10/2026) waktu setempat atau Jumat pagi WIB. Brent kembali berada di atas level psikologis US$102 per barel, didorong meningkatnya ketegangan geopolitik di sekitar Selat Hormuz dan pengetatan pasokan bahan bakar dari China.
Brent ditutup naik 4,4% ke US$102,31 per barel, sedangkan WTI menguat 2,7% ke US$92,87 per barel.
Kapal Induk Ketiga Menuju Teluk Persia
Pemicu utama kenaikan adalah laporan bahwa Pentagon menyiapkan pengiriman gugus tempur kapal induk ketiga ke Timur Tengah. Kapal induk USS Theodore Roosevelt bertolak dari San Diego bersama kapal penjelajah dan penghancur pendukungnya. Pengiriman ini juga mencakup unit Marinir (13th Marine Expeditionary Unit) di atas kapal serbu amfibi USS Makin Island, dengan tambahan sekitar 9.000 hingga 10.000 personel militer.
Jika tiba sesuai jadwal pada akhir November 2026, USS Theodore Roosevelt akan bergabung dengan USS George H.W. Bush dan USS George Washington yang sudah berada di kawasan. Konfigurasi tiga kapal induk sekaligus disebut sebagai konsentrasi kekuatan laut AS terbesar di Timur Tengah sejak invasi Irak 2003.

Negosiasi Buntu, Opsi Militer Pasca-Midterm
Langkah ini diambil di tengah kebuntuan negosiasi AS-Iran. Laporan The Wall Street Journal menyebutkan Presiden Donald Trump menimbang kelanjutan serangan yang lebih agresif terhadap Iran setelah pemilu paruh waktu (midterm) AS pada November. Laporan yang sama menyebut Trump menolak proposal gencatan senjata tujuh hari dari Iran. Proposal itu mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan dimulainya kembali dialog nuklir, dengan syarat AS mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran. Washington dilaporkan menuntut pembongkaran permanen program nuklir dan rudal balistik Iran.

Sebelum pengerahan diumumkan, Trump juga disebut memperingatkan Teheran agar segera menandatangani kesepakatan baru, atau menghadapi risiko kerusakan besar. Kehadiran tiga gugus tempur dinilai memberi Komando Pusat AS (CENTCOM) fleksibilitas lebih besar untuk operasi pengeboman jangka panjang, pertahanan udara, hingga blokade jika eskalasi kembali pecah.
Insiden Flydubai FZ1073 Tambah Ketegangan
Sentimen geopolitik juga dipengaruhi insiden penerbangan Flydubai FZ1073 rute Dubai-Tel Aviv pada 30 September 2026. Dalam penerbangan tersebut, kopilot dilaporkan menusuk kapten pesawat, yang memicu penurunan ketinggian ekstrem sebelum pesawat akhirnya mendarat darurat di Arab Saudi.
Otoritas Israel mengindikasikan insiden itu sebagai percobaan serangan teror. Sementara itu, intelijen dan pejabat AS menyoroti adanya penyelidikan atas kemungkinan keterkaitan Iran. Hingga kini keterlibatan Iran belum terkonfirmasi dan penyelidikan masih berlangsung. Rincian lengkap dapat dibaca di laporan Reuters.
Risiko di Selat Hormuz
Pasar mencemaskan potensi respons asimetris Iran, seperti serangan drone atau kapal cepat terhadap kapal tanker di Selat Hormuz. Jalur ini dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia. Kekhawatiran semakin besar karena stok minyak mentah komersial global dilaporkan sudah rendah setelah penurunan intensif selama enam bulan terakhir, sehingga pasar lebih sensitif terhadap gangguan pasokan.
Faktor Pendukung Lain
- China batasi ekspor BBM: PetroChina dilaporkan menahan sebagian besar rencana ekspor bensin dan bahan bakar jet untuk Oktober demi mengamankan inventaris domestik menjelang musim dingin. Kebijakan ini memperketat pasokan produk sulingan di pasar global.
- Sentimen pasca-midterm: Ekspektasi tekanan dan sanksi yang lebih ketat terhadap Iran setelah pemilu mendorong aksi beli spekulatif di bursa berjangka.
- Yield obligasi AS sangat volatil: Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun sempat meroket ke 5,34%, level tertinggi dalam 24 tahun sejak awal 2002, sebelum melandai dan berada di kisaran 5,24% pada akhir sesi Kamis. Pelandaian ini membantu menahan penguatan Dolar AS. Dolar yang stabil membuat minyak berdenominasi USD relatif lebih murah bagi pembeli internasional, sehingga ikut menopang permintaan.
Outlook
Pergerakan harga minyak dalam waktu dekat akan sangat bergantung pada perkembangan di Selat Hormuz, arah negosiasi AS-Iran, dan hasil penyelidikan insiden Flydubai. Selama kebuntuan diplomatik berlanjut dan armada AS terus menumpuk di kawasan, premi risiko geopolitik diperkirakan tetap menopang harga, dengan Brent berpotensi bertahan di sekitar level US$100. Sebaliknya, terobosan diplomatik atau gencatan senjata dapat memicu aksi ambil untung dengan cepat.
Oleh: Asido Situmorang








