Rekomendasi Mingguan EUR/USD 17 – 21 Januari 2022: Jangka Panjang Naik?

2070

(Vibiznews – Forex) Setelah naik dari 1.1300 ke 1.1345 karena laporan NFP AS yang muncul bervariasi, EUR/USD memperpanjang kenaikannya pada minggu lalu dengan terus melemahnya USD dan mencapai puncak ketinggiannya mendekati 1.1500 pada hari Jumat sebelum akhirnya terkoreksi turun kembali ke 1.1412 sebagian karena berhentinya tekanan jual terhadap USD dan sebagian karena kesulitan mempertahankan momentum bullishnya.

Pasangan matauang EUR/USD akhirnya naik dari kelesuan selama lebih dari sebulan, naik ke 1.1482 dan mengakhiri minggu lalu di 1.1412. dollar AS tumbang terhadap semua rival utamanya dan katalisatornya adalah inflasi AS. Consumer Price Index muncul dikonfirmasi di 7% YoY pada bulan Desember, level tertinggi sejak 1982.

Tekanan kenaikan harga telah menjadi tema utama selama tahun 2021, dengan dunia mulai pulih dari pukulan karena pandemik yang mula-mula. Disrupsi rantai supply dan perubahan di dalam tingkah laku konsumsi membawa kepada inflasi yang sudah mencapai ketinggian selama beberapa dekade di negara – negara maju, yang menyebabkan bank sentral mereka mulai memperketat kebijakan moneter mereka meskipun ada kemajuan di dalam pemulihan ekonomi.

Sampai hari Rabu minggu lalu, rilis dari data inflasi cenderung memicu keengganan terhadap resiko, dengan ketakutan bahwa Federal Reserve AS akan menarik dukungan keuangan yang mengakibatkan saham-saham berjatuhan dan yields obligasi pemerintah mengalami kenaikan, dan memberikan keuntungan terhadap dollar AS. Tapi kali ini berbeda. Rilis data inflasi malah membuat saham-saham mengalami kenaikan sementara yields obligasi pemerintah banyak yang mengabaikan angka inflasi dan akibatnya dollar AS tumbang.

Reaksi seperti di atas bisa dijelaskan oleh angka-angka yang tidak cukup kuat untuk mengubah arah dari bank sentral AS. Pada akhir tahun 2021, para pembuat kebijakan di AS akhirnya menganggap bahwa tekanan harga bukanlah bersifat sementara dan memutuskan untuk memperketat kebijakan moneter mereka.

Pada pertemuan mereka yang terakhir, FOMC memberikan petunjuk akan kenaikan tingkat bunga sebanyak tiga kali pada tahun 2022, sementara Powell dan kawan-kawan selanjutnya menunjukkan akan mengurangi neraca nantinya pada tahun ini. Sikap the Fed yang hawkish ini telah dimasukkan dalam penghitungan harga oleh pasar.

Kejatuhan dollar AS pada minggu lalu dibumbui oleh keluarnya data makro ekonomi AS yang buruk selama seminggu yang lalu.

Pada bulan Desember Producer Price Index menyentuh 9.7% YoY sementara angka inti lompat ke 8.3% yang merefleksikan tekanan inflasi yang persisten. Selain itu, Initial Jobless Claims pada minggu yang berakhir 7 Januari dicetak di 230.000 naik lebih besar daripada yang diperkirakan untuk minggu kedua berturut-turut.

Data Retail Sales AS muncul turun minus 1.9% di bulan Desember dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang naik sebesar 0.3%.

Pada hari Jumat, Departemen Perdagangan AS mengeluarkan laporan Penjualan Ritel AS bulan Desember, yang menunjukkan kontraksi sebesar 1.9%, lebih buruk daripada yang diperkirakan oleh para ekonom sebesar – 0.1%. Angka inti, yang mengeluarkan gasoline dan autos, bahkan turun lebih jauh lagi, sebesar 2.5% dibandingkan dengan penurunan pada bulan Nopember sebesar 0.1%.

Menambah kepada data makro ekonomi AS yang lebih buruk daripada yang diperkirakan, UoM Consumer Sentiment turun ke 68.8 dibawah daripada yang diperkirakan di 70.0 dan dari angka sebelumnya di 70.6.

Sementara itu, para pembuat kebijakan di Eropa mempertahankan sikap “wait and see”. Presiden ECB Christine Lagarde mengatakan bahwa mereka mengerti bahwa naiknya harga-harga merupakan keprihatinan bagi banyak orang dan memberikan catatan untuk memperhatikan hal ini dengan sangat serius, sambil menambahkan bahwa komitmen mereka terhadap kestabilan harga tidak perlu diragukan. Sementara itu wakil Presiden ECB Luis de Guindos mengatakan kemungkinan inflasi tidaklah bersifat “transitory” sebagaimana yang diperkirakan beberapa bulan yang lalu.

Minggu lalu dari Eropa, sedikit kalender makro ekonomi yang ada. Jerman melaporkan pertumbuhan GDP riil yang yang keluar di 2.7%, lebih baik daripada sebelumnya di – 4.6%, sementara Neraca Perdagangan Uni Eropa untuk bulan November membukukan deficit sebesar €1.3 miliar.

Minggu ini, giliran Jerman dan Uni Eropa yang akan merilis angka final dari inflasi mereka bulan Desember, yang diperkirakan akan muncul di 5.3% YoY untuk Jerman dan 5% YoY untuk Uni Eropa. Selain itu, akan dipublikasikan juga ZEW Survey untuk bulan Januari dan Producer Price Index untuk bulan Desember, sementara Uni Eropa juga akan mengeluarkan perkiraan pendahuluan dari Consumer Confidence bulan Januari.

Dari Amerika Serikat, minggu ini menjadi minggu yang pendek dengan pasar tutup pada hari Senin karena liburan hari Martin Luther King. Data makro ekonomi yang keluar tidak banyak diperhatikan pasar kecuali klaim pengangguran yang akan keluar pada hari Kamis. Pasar memperkirakan klaim pengangguran akan turun ke 221.000 dari minggu sebelumnya di 230.000. Selain itu data yang akan keluar adalah data perumahan termasuk Building Permits dan Housing Starts pada hari Rabu. Building Permits di perkirakan tidak berubah di 1.71 juta. Sementara Housing Starts diperkirakan sedikit turun dari 1.68 juta ke 1.65 juta. Data lainnya adalah data mengenai manufaktur, antara lain N.Y. Empire State manufacturing index pada hari Selasa yang diperkirakan turun dari 31.9 ke 25.0 dan Philadelphia Fed manufacturing index pada hari Kamis yang diperkirakan naik dari 15.4 ke 19.9.

“Support” terdekat menunggu di 1.1385  yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.1345 dan kemudian 1.1250. “Resistance” terdekat menunggu di 1.1470 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.1510 dan kemudian 1.1570.

Ricky Ferlianto/VBN/Managing Partner Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here