Rekomendasi GBP/USD Mingguan 18 – 22 April 2022: Seberapa Lama Support 1.3000 Bertahan?

666

(Vibiznews – Forex) Setelah jatuh ke level terendah sejak bulan November 2020, pada minggu lalu GBP berhasil bangkit, meskipun menguatnya dollar AS secara luas tidak mengijinkan GBP/USD untuk mengumpulkan momentum bullish lebih jauh pada paruh kedua minggu lalu.

Memulai minggu perdagangan yang baru pada minggu lalu di  kerendahan 1.3040, GBP/USD berhasil mengalami sedikit kenaikan dengan pada hari Jumat diperdagangkan di sekitar 1.3055. Data inflasi yang panas dari Inggris dan melemahnya dollar AS karena keluarnya data PPI AS yang memanas, kelihatannya telah membantu pasangan matauang ini memperoleh kembali pijakannya menjelang data AS.

Pada hari Senin, GBP/USD sempat menyentuh ketinggian harian yang baru di 1.3050 namun gagal mempertahankan momentum bullish-nya dengan berbalik menguatnya kembali dollar AS dan diperdagangkan di 1.3035.

Office for National Statistics Inggris pada hari Senin melaporkan bahwa ekonomi Inggris bertumbuh sebanyak 0.1% per bulan di bulan Februari. Meskipun angka ini lebih rendah daripada yang diperkirakan sebesar 0.3% namun tidak banyak menggerakkan pasar.

Pada hari Selasa, sebelum laporan inflasi AS keluar, GBP/USD sempat berbalik arah setelah usaha pemulihan yang lemah pada hari Senin dan harus berjuang untuk bisa melepaskan diri dari tekanan bearish meskipun laporan pekerjaan Inggris yang keluar pada hari Selasa pagi bagus. Pasangan matauang ini diperdagangkan di sekitar 1.3000 dan para penjual akan bisa menunjukkan minatnya apabila level ini berbalik menjadi resistance.

Office for National Statistics (ONS) Inggris melaporkan pada hari Selasa bahwa tingkat pengangguran ILO turun menjadi 3.8% pada bulan Februari dari 3.9% pada bulan Januari. ONS selanjutnya mengatakan bahwa angka lowongan pekerjaan dari Januari ke Maret 2022 naik ke rekor ketinggian baru di 1,288,000. Sementara angka inflasi upah tahunan yang diukur dengan Average Hourly Earnings Including Bonus muncul di 5.4% sesuai dengan yang diperkirakan.

Namun meskipun data ekonomi Inggris bagus, pasar tetap berada dalam keengganan terhadap resiko dan membuat poundsterling mengalami kesulitan untuk menemukan permintaannya pada jam perdagangan sesi Eropa.

Namun pada perdagangan selanjutnya di sesi New York, GBP/USD kembali memperoleh daya tariknya dan berhasil naik lagi ke sekitar 1.3041 setelah keluar laporan inflasi AS yang memanas.

Inflasi AS pada bulan Maret naik menyentuh ke tinggian 4 dekade yang baru, di 8.5% per tahun. Angka Consumer Price Index (CPI) AS yang muncul di 8.5% ini lebih tinggi daripada yang diperkirakan pasar kenaikan di 8.4%. Sementara angka inflasi bulan Februari berada pada 7.9% per tahun.

Pada hari Rabu, GBP/USD mengalami rebound ke sekitar 1.3070, setelah sempat jatuh ke level terendah sejak bulan November 2020 di bawah 1.3000. Data inflasi yang panas dari Inggris dan melemahnya dollar AS karena keluarnya data PPI AS yang memanas, kelihatannya telah membantu pasangan matauang ini memperoleh kembali pijakannya menjelang data AS.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan Producer Price Index (PPI) AS naik 1.4% di bulan Maret setelah kenaikan 0.9% di bulan Februari. Data PPI ini juga lebih tinggi daripada yang diperkirakan oleh para ekonom kenaikan sebesar 1.1%.  Secara tahunan laporan ini mengatakan bahwa inflasi sudah mencapai  rekor ketinggian yang baru di 11.2%.

Office for National Statistics Inggris mengumumkan pada hari Rabu bahwa inflasi Inggris, sebagaimana yang diukur oleh Consumer Price Index (CPI), lompat ke 7% per tahun pada bulan Maret dari sebelumnya 6.2% pada bulan Februari. Angka ini lebih tinggi daripada yang diperkirakan pasar di 6.7%. Terlebih lagi, CPI inti yang mengeluarkan harga-harga dari makanan dan energi naik ke 5.7% dari sebelumnya 5.2%.

Mengkomentari angka inflasi Inggris, Menteri Keuangan Inggris Rishi Sunak mengatakan bahwa kenaikan harga disebabkan oleh tekanan global di dalam rantai supply dan pasar energi yang bisa diperparah lebih lanjut oleh agresi Rusia ke Ukraina.

GBP/USD semula diperdagangkan naik tinggi ke ketinggian di 1.3145 pada hari Kamis pagi, sebagian karena melemahnya dollar AS, sebagian karena keluarnya data inflasi Inggris pada hari Rabu yang lebih tinggi daripada yang diperkirakan.

Namun pada jam perdagangan sesi AS, GBP/USD berbalik turun ke bawah 1.3050 di sekitar 1.3038, karena berbalik menguatnya dollar AS. Dollar AS berbalik menguat karena nada ECB yang dovish dan karena naiknya yields treasury AS.

Pada hari Jumat GBP/USD berhasil naik ke sekitar 1.3064 karena poundsterling mendapatkan keuntungan dari arus modal yang keluar dari euro ke poundsterling akibat dari sikap ECB yang dovish di dalam pertemuan kebijakan moneternya pada hari Kamis.

ECB tetap mempertahankan tingkat bunganya tidak berubah sebagaimana dengan yang telah diperkirakan, namun ECB cenderung bersikap dovish. Bank sentral Eropa ini mengatakan bahwa dalam kondisi sekarang ini dengan ketidakpastian yang tinggi, Dewan Gubernur akan memelihara optionality, gradualism, dan flexibility di dalam kebijakan moneternya. Pasar keuangan sekarang memperhitungkan dalam harga kenaikan tingkat bunga sebesar 64 bps pada akhir tahun, turun dari sebelumnya 68 bps.

Berhasil bertahannya dan bahkan naiknya GBP/USD pada minggu lalu tidak terlepas dari kuatnya level support kunci psikologis di level 1.3000. Namun seberapa lama support di level 1.3000 ini bisa bertahan di tengah kecenderungan dollar AS akan terus kuat dan bahkan menguat pada minggu ini?

Memulai minggu yang baru pada minggu lalu di 99.892, indeks dolar AS mengalami kenaikan pada hari Senin dengan naiknya yields obligasi treasury AS. Pada hari Rabu, dolar AS mendapatkan keuntungan dari para pembicara the Fed yang hawkish di tengah lingkungan yang enggan terhadap resiko. Pada hari Kamis, indeks dollar AS pada awalnya mengalami penurunan karena membaiknya minat terhadap resiko dari para investor. Indeks dollar AS turun ke dekat 99.600, melemah hampir 1% dari ketinggian sebelumnya di 100.520. Namun pada jam perdagangan sesi AS, dollar AS berbalik menguat karena nada ECB yang dovish dan karena naiknya yields treasury AS. Indeks dolar AS mengakhiri minggu ini dengan berada di level di atas 100 di 100.303.

Terus naiknya data inflasi AS masih akan memberikan dorongan naik kepada yields treasury AS yang akan menaikkan dollar AS. Sementara itu arus safe – haven pada minggu ini juga diperkirakan akan kembali menguasai pasar dengan kembali meningkatnya ketegangan geopolitik karena perang Rusia – Ukraina yang bisa memberikan kekuatan yang baru bagi dollar AS yang safe – haven.

Eskalasi ketegangan lebih lanjut di geopolitik pada minggu ini adalah ancaman Rusia untuk menurunkan senjata nuklirnya dan misil hipersoniknya apabila Swedia dan Finlandia bergabung dengan NATO. Ancaman Rusia ini datang sehari setelah Joe Biden mengumumkan bahwa Amerika Serikat sedang memberikan kepada Ukraina tambahan persenjataan, termasuk arteleri berat senilai $800 juta.

Tekanan dari menguatnya dollar AS yang baru ini bisa membuat support kunci psikologis di 1.3000 tidak dapat bertahan sehingga bisa membuat GBP/USD turun ke level 1.2900 an.

Minggu ini dari Inggris pada hari Jumat akan keluar data ekonomi Retail Sales Inggris MoM untuk bulan Januari dan Gfk Consumer Confidence Inggris untuk bulan Februari.

Sementara dari AS akan keluar data ekonomi Building Permits AS bulan Januari pada hari Selasa, existing home sales AS pada hari Rabu, Philadelphia Fed manufacturing index, jobless claims, Consumer Confidence bulan Februari pada hari Kamis dan PMI Manufaktur dan Jasa pada hari Jumat.

“Support” terdekat menunggu di 1.3006 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.2900 dan kemudian 1.2754. “Resistance” terdekat menunggu di 1.3133 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.3200 dan kemudian 1.3275.

Ricky Ferlianto/VBN/Head Research Vibiz Consulting

Editor: Asido.