(Vibiznews – Commodity) – Harga minyak sawit atau CPO acuan dunia kembali tertekan pada perdagangan bursa komoditas Malaysia hari Senin (23/2/2026) tertekan oleh penguatan ringgit dan pelemahan kontrak berjangka minyak kedelai Chicago.
Harga minyak sawit yang banyak diperdagangkan yaitu kontrak berjangka bulan April 2026 ditutup turun 0,05% menjadi sekitar MYR4.085, setelah sempat berada di posisi MYR4.049.
Sentimen tertekan setelah Mahkamah Agung AS membatalkan tarif besar-besaran Presiden Donald Trump, menambah ketidakpastian pada arus perdagangan pertanian global dan membebani minyak nabati saingan.
Kekhawatiran ekspor juga berlanjut karena surveyor kargo memperkirakan pengiriman minyak sawit Malaysia untuk 1-20 Februari turun antara 8,9% dan 12,6% dari bulan sebelumnya.
Namun demikian, penurunan dibatasi oleh harapan bahwa bursa Dalian China akan melanjutkan perdagangan pada hari Selasa setelah liburan Festival Musim Semi selama seminggu.
Di India, pembeli utama, impor minyak sawit melonjak 51% pada Januari ke level tertinggi empat bulan, didukung oleh diskon yang lebih besar terhadap minyak kedelai.
Sementara itu, data industri menunjukkan persediaan Malaysia turun 7,7% secara bulanan pada bulan pertama tahun 2026, sedangkan produksi turun 13,8%, memberikan dukungan fundamental.



