Ketika Perang Mengguncang Dompet Kita

114

(Vibiznews-Kolom) Pada 28 Februari 2026, dunia kembali menahan napas. Israel dan Amerika Serikat meluncurkan operasi militer gabungan terhadap Iran. Sekilas, ini tampak seperti konflik yang jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Namun dalam dunia yang saling terhubung seperti sekarang, perang di Timur Tengah bisa berdampak langsung pada harga bensin di SPBU, nilai tukar rupiah, hingga harga saham di layar ponsel kita.

Perang ini adalah salah satu guncangan geopolitik terbesar sejak perang Rusia–Ukraina 2022. Dampaknya bukan hanya militer dan politik, tetapi juga ekonomi dan pasar keuangan—termasuk Indonesia.

Mengapa Selat Hormuz Begitu Penting?

Kunci dari seluruh kekhawatiran ini ada di satu jalur laut sempit bernama Selat Hormuz. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur ini setiap hari. Bayangkan sebuah keran raksasa yang memasok energi untuk hampir seperlima dunia—itulah Selat Hormuz.

Iran mengumumkan penutupan selat tersebut sebagai respons atas serangan militer. Meskipun dalam praktiknya penutupan total sangat sulit dilakukan dalam jangka panjang, ancaman itu saja sudah cukup membuat pasar global gelisah. Dalam dunia keuangan, ekspektasi bisa sama kuatnya dengan kenyataan.

Jika suplai minyak terganggu, harga akan naik. Dan jika harga minyak naik tajam serta bertahan lama, dampaknya menjalar ke mana-mana, biaya transportasi meningkat, harga bahan makanan naik, ongkos produksi melonjak, dan inflasi merangkak lebih tinggi.

Dari Harga Minyak ke Inflasi Global

Sebelum konflik, harga minyak Brent berada di sekitar USD 73 per barel. Dalam skenario gangguan singkat, harga bisa naik ke USD 80–85. Jika konflik berlangsung dua minggu atau lebih, harga berpotensi menembus USD 100. Di atas level itu, risiko perlambatan ekonomi global meningkat tajam.

Mengapa USD 100 begitu krusial? Karena pada titik tersebut banyak negara pengimpor minyak mulai merasakan tekanan serius pada neraca perdagangan dan anggaran negara. Negara-negara Asia yang bergantung pada impor energi akan bersaing mendapatkan pasokan. Dalam kondisi ekstrem, dunia bisa kembali menghadapi ancaman resesi.

Indonesia sendiri masih mengimpor sebagian kebutuhan minyaknya. Artinya, kenaikan harga global cepat atau lambat akan terasa di dalam negeri, baik melalui subsidi pemerintah maupun tekanan harga pasar.

Reaksi Pasar, Ketika Ketakutan Menguasai

Pasar keuangan sangat sensitif terhadap ketidakpastian. Begitu perang pecah, investor cenderung menjual aset berisiko seperti saham dan memindahkan dana ke aset yang dianggap aman atau safe haven, seperti obligasi pemerintah Amerika Serikat, emas, dan yen Jepang.

Indeks ketakutan global, VIX, sebelumnya berada di level normal sekitar 19. Dalam situasi konflik besar, indeks ini bisa melonjak di atas 40. Ketika VIX naik tinggi, artinya pasar sedang dalam mode waspada.

Dampaknya ke Indonesia cukup jelas. Investor asing bisa menarik dana dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Arus keluar ini menekan harga saham dan nilai tukar rupiah.

IHSG, Mengapa Bisa Turun?

Sebelum serangan terjadi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di level 8.235. Dalam skenario gangguan singkat, IHSG diperkirakan terkoreksi 2–4 persen, turun ke kisaran 7.900–8.000 sebelum perlahan pulih. Jika konflik berlarut-larut, penurunan bisa lebih dalam, bahkan mendekati 10 persen dalam skenario perang berkepanjangan.

IDX Composite

IHSG 4 Mar 2026 10.00

Ada tiga jalur utama yang menjelaskan potensi penurunan ini. Pertama, sentimen global. Ketika ketakutan meningkat, investor global cenderung melakukan aksi jual di banyak pasar negara berkembang secara bersamaan. Kedua, kenaikan harga minyak yang menekan margin perusahaan dan meningkatkan ekspektasi inflasi. Ketiga, dinamika suku bunga global yang memengaruhi arus modal.

Walau demikian, koreksi pasar bukanlah hal yang asing dalam sejarah investasi. Pasar sering kali bereaksi cepat terhadap kabar buruk, lalu perlahan pulih ketika situasi lebih jelas.

Rupiah, Tertekan Tapi Tidak Tanpa Penyangga

Nilai tukar rupiah sebelum konflik berada di sekitar Rp16.800 per dolar AS. Dalam skenario gangguan singkat, rupiah bisa melemah sementara ke kisaran Rp16.900–17.000.

Tekanan utama datang dari arus keluar modal dan kenaikan harga minyak yang memperlebar defisit perdagangan energi. Namun ada faktor penyeimbang. Ketika investor memburu obligasi Amerika sebagai aset aman, imbal hasilnya turun. Turunnya yield obligasi AS mempersempit selisih suku bunga dengan Indonesia, sehingga tekanan terhadap rupiah tidak sepenuhnya ekstrem.

IDR 4 Mar 2026 10

Selama konflik tidak berkepanjangan dan Bank Indonesia aktif menjaga stabilitas pasar, pelemahan rupiah diperkirakan tetap terkendali.

Obligasi Pemerintah, Justru Bisa Diuntungkan?

Menariknya, dalam fase awal krisis, obligasi pemerintah Indonesia justru bisa diuntungkan. Ketika investor mencari imbal hasil lebih tinggi dibanding obligasi AS yang yield-nya turun, surat utang Indonesia menjadi relatif menarik.

Dalam skenario singkat, yield obligasi tenor 10 tahun bisa turun 15–25 basis poin. Penurunan yield berarti harga obligasi naik. Namun jika harga minyak bertahan di atas USD 100 dalam waktu lama dan inflasi meningkat, investor bisa menuntut imbal hasil lebih tinggi, sehingga yield kembali naik.

Semua kembali pada durasi konflik.

Durasi Adalah Segalanya

Tulisan ini menekankan satu variabel paling penting, lamanya perang. Jika operasi militer hanya berlangsung beberapa hari atau satu minggu, pasar kemungkinan menganggapnya sebagai guncangan sementara. Harga aset turun sebentar lalu pulih.

Namun jika eskalasi berlanjut, misalnya dengan pengerahan kekuatan tambahan atau gangguan nyata pada jalur pelayaran minyak, dampaknya bisa berubah dari sekadar koreksi menjadi tekanan struktural terhadap ekonomi global.

Dengan kata lain, durasi menentukan apakah ini hanya badai sesaat atau awal dari musim hujan panjang.

Peran Pemerintah dan Bank Sentral

Dalam situasi seperti ini, pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipatif. Jika harga minyak menembus USD 90 dan bertahan, mekanisme subsidi energi perlu disiapkan agar lonjakan harga tidak langsung membebani masyarakat. Setiap kenaikan signifikan harga minyak global dapat menambah beban anggaran negara hingga puluhan triliun rupiah per tahun.

Diversifikasi energi juga menjadi semakin mendesak. Ketergantungan pada impor membuat Indonesia rentan terhadap gejolak Timur Tengah.

Bank Indonesia kemungkinan akan menahan suku bunga dan fokus menjaga stabilitas rupiah serta ekspektasi inflasi. Intervensi di pasar valas dan komunikasi yang jelas sangat penting agar kepanikan tidak berkembang menjadi krisis kepercayaan.

Otoritas pasar keuangan juga perlu memastikan mekanisme pengaman seperti trading halt siap digunakan jika terjadi tekanan ekstrem. Tujuannya bukan menahan harga agar tidak turun, tetapi menjaga agar pergerakan tetap tertib dan rasional.

Apa Artinya Bagi Investor Ritel?

Bagi investor individu, pertanyaan paling praktis adalah, apakah harus panik? Jawabannya bergantung pada tujuan investasi dan profil risiko masing-masing.

Jika investasi bersifat jangka panjang, fluktuasi akibat perang biasanya menjadi bagian dari siklus pasar. Sejarah menunjukkan bahwa pasar cenderung pulih setelah ketidakpastian mereda. Namun tetap penting untuk melakukan diversifikasi. Memiliki kombinasi saham, obligasi, emas, dan dana tunai bisa membantu meredam risiko.

Yang terpenting adalah tidak mengambil keputusan berdasarkan ketakutan sesaat. Kepanikan sering kali membuat investor menjual di harga rendah dan membeli kembali di harga tinggi.

Pelajaran dari Krisis Sebelumnya

Sejarah memberikan perspektif. Saat konflik Rusia–Ukraina pecah pada 2022, harga energi melonjak dan pasar global terguncang. Namun ekonomi dunia beradaptasi. Rantai pasok menyesuaikan, kebijakan berubah, dan keseimbangan baru terbentuk.

Hal serupa bisa terjadi kali ini, selama konflik tidak meluas menjadi perang regional yang berkepanjangan.

Indonesia memiliki sejumlah kekuatan, sistem perbankan yang relatif sehat, cadangan devisa yang memadai, serta koordinasi kebijakan yang sudah teruji saat pandemi. Namun kita tetap bagian dari sistem global. Apa yang terjadi ribuan kilometer jauhnya bisa memengaruhi dompet kita.

Waspada Tanpa Panik

Perang ini bukan hanya soal geopolitik dan militer. Ini juga soal stabilitas ekonomi, daya beli masyarakat, dan keputusan investasi jutaan orang. Dampaknya mungkin terasa di papan harga SPBU, di kurs valuta asing, atau di grafik saham.

Sikap terbaik adalah waspada tanpa panik. Memahami risiko tanpa terjebak ketakutan. Dunia memang tidak pernah sepenuhnya stabil, tetapi dengan kebijakan yang sigap, komunikasi yang jelas, dan keputusan ekonomi yang rasional, guncangan sebesar apa pun dapat dikelola.

Krisis selalu menjadi ujian ketahanan. Bagi Indonesia, ini adalah momen untuk menunjukkan bahwa kita bukan sekadar penonton dalam pusaran global, melainkan negara dengan fondasi ekonomi yang mampu bertahan di tengah badai.