(Vibiznews-Kolom) Jika pasar saham sedang berada dalam gelembung, kondisi itu berbahaya. Namun apabila seseorang terlalu yakin bahwa pasar memang berada—atau justru tidak berada—dalam gelembung, situasinya bisa jauh lebih berbahaya lagi.
Pada April lalu, saham-saham semikonduktor naik lebih dari 38%, mencatat kenaikan bulanan tertinggi sejak Februari 2000. Induk Google, Alphabet, melonjak 10% pada 30 April dan menambah lebih dari US$421 miliar nilai pasar hanya dalam satu hari—kenaikan harian terbesar kedua dalam sejarah saham menurut Dow Jones Market Data.
Dalam salah satu edisi buletin terbaru, muncul pertanyaan mengenai apakah pasar saat ini sedang berada dalam gelembung. Para pembaca dari berbagai wilayah di Amerika Serikat dan dunia kemudian memberikan pandangan mereka.
Peter Hansen, seorang pembaca dari Paraguay, menilai bahwa pasar memang sedang berada dalam gelembung. Tom Hagedorn dari Ohio juga berpandangan bahwa kondisi gelembung sudah sangat jelas terlihat. Sementara itu, Christoph Stahl, pembaca dari Munich, berpendapat bahwa situasi sekarang belum bisa disebut sebagai gelembung klasik. Kathryn Ashby dari Florida memiliki pandangan serupa dengan Stahl. Menurutnya, meskipun kenaikan harga terlihat luar biasa, harga saham terus meningkat karena laba perusahaan juga terus bertumbuh. Ia menilai laba perusahaan merupakan sumber utama kekuatan pasar saham.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa mengenali gelembung pasar jauh lebih sulit daripada yang terlihat. Jika mengidentifikasi gelembung merupakan hal mudah, maka semua orang tentu bisa melakukannya. Dan jika semua orang bisa mengenalinya, gelembung kemungkinan besar tidak akan pernah terbentuk sejak awal.
Investor akan melihat gelembung mulai membesar lalu segera menghindarinya atau bertaruh melawannya, sehingga gelembung akan mengempis sebelum mencapai titik pecah.
Selain itu, harga yang terlalu mahal di sebagian pasar sering kali disalahartikan sebagai tanda bahwa seluruh pasar sedang berada dalam gelembung. Padahal dalam banyak situasi, selalu ada beberapa perusahaan atau sektor industri yang naik sangat cepat hingga tampak menyerupai gelembung.
Bahkan ketika saham terlihat mahal, seperti yang sudah terjadi beberapa tahun lalu, tetap sulit memastikan bahwa pasar akan runtuh. Hanya sedikit orang saat itu yang mampu memprediksi seberapa besar euforia investor terhadap kecerdasan buatan atau artificial intelligence.
Dan setelah AI, bisa saja muncul teknologi transformatif lain—seperti AI yang sebelumnya menggantikan antusiasme terhadap komputasi awan, fracking, internet, dan berbagai terobosan teknologi lain yang pernah mengangkat pasar.
Beberapa variabel memang dapat membantu mengurangi unsur spekulasi dalam mengidentifikasi gelembung. Owen Lamont, manajer portofolio di Acadian Asset Management, telah lama menulis mengenai kondisi ekstrem di pasar keuangan.
Dengan nada bercanda, Lamont pernah menggambarkan gelembung sebagai situasi ketika pasar terlihat terlalu mahal namun justru terus berlipat ganda, seperti yang terjadi pada 1999. Pada tahun tersebut, indeks Nasdaq 100 naik 102% setelah sebelumnya melonjak 85% pada 1998.
Secara lebih serius, Lamont melihat sejarah dan menemukan beberapa unsur penting pembentuk gelembung pasar: bukan hanya harga saham yang tinggi, tetapi juga volatilitas tinggi, volume perdagangan besar, serta penyebaran apa yang disebutnya sebagai “keyakinan gelembung”.
Menurut Lamont, ketika orang-orang di pusat kebugaran atau tempat cukur rambut mulai membicarakan apakah pasar sedang berada dalam gelembung, hal itu dapat menjadi petunjuk kuat bahwa gelembung memang sedang terbentuk.
Selain itu, terdapat satu unsur penting lain, yaitu sikap defensif.
Ketika para pendukung aset yang sudah terlalu mahal berubah dari sekadar memuji manfaat aset tersebut menjadi menyerang para pengkritiknya, kondisi itu dapat menjadi tanda bahwa aset tersebut mulai memasuki fase gelembung. Situasi seperti itu pernah terjadi pada akhir 1999 dan awal 2000 terhadap saham-saham internet, serta pada 2021 terhadap bitcoin, ketika para pendukungnya menyerang para skeptis tepat sebelum harga runtuh.
Nada seperti itu belum mendominasi pasar saat ini, sehingga kondisi sekarang dinilai belum memasuki zona merah.
Unsur terakhir dari apa yang disebut Lamont sebagai “empat penunggang kuda” gelembung adalah banjir penerbitan saham baru.
Contohnya terlihat pada 2020–2021 ketika ratusan perusahaan akuisisi bertujuan khusus atau SPAC menerbitkan saham baru. Saat gelembung tersebut pecah, investor luar kehilangan setidaknya US$100 miliar.
Contoh lain adalah euforia dot-com akhir 1990-an ketika eToys, Pets.com, dan banyak perusahaan internet sesaat lainnya membanjiri pasar dengan penawaran saham perdana atau IPO.
Sejauh ini, penawaran saham baru belum membanjiri pasar. Namun situasi itu kemungkinan berubah apabila SpaceX, Anthropic, OpenAI, dan perusahaan besar lain melantai di bursa akhir tahun ini seperti yang diperkirakan luas. Lamont menyebut bahwa penerbitan saham merupakan faktor utama yang sedang diperhatikannya.
Tanda paling utama dari gelembung adalah perilaku mengejar kinerja pasar. Harga aset naik karena orang membelinya, lalu semakin banyak orang membeli aset tersebut sehingga harga terus naik lebih tinggi lagi.
Namun dalam beberapa bulan terakhir, yang terjadi justru sebaliknya. Investor individu membeli saham ketika muncul kabar buruk mengenai tarif, perang, atau inflasi. Perilaku tersebut lebih bersifat kontrarian dibanding perilaku mengejar kenaikan harga.
Lamont menilai bahwa ciri gelembung adalah membeli ketika harga sedang melonjak, bukan membeli ketika harga sedang turun.
Bahaya lainnya muncul ketika seseorang merasa dirinya terlalu cerdas dalam membaca pasar.
Jika seseorang benar-benar yakin mampu mengenali gelembung, maka akan muncul keyakinan bahwa waktu pecahnya gelembung juga bisa diprediksi. Dalam situasi seperti itu, investor dapat tergoda membeli saham paling berisiko yang berpotensi melonjak paling tinggi.
Bahaya terbesar dari upaya mengenali gelembung adalah keyakinan bahwa hal tersebut benar-benar bisa dilakukan dengan tepat. Beberapa pembaca mengatakan mereka meningkatkan eksposur investasi hingga seluruh dana masuk ke pasar saham, sementara yang lain justru keluar dari pasar akibat kenaikan harga saham.
Padahal saham bukanlah sakelar yang bisa dinyalakan atau dimatikan sepenuhnya. Sangat sedikit investor yang seharusnya menempatkan seluruh atau tidak sama sekali uang mereka di saham. Masa depan jarang cukup pasti untuk keputusan ekstrem seperti itu.
Saat ini merupakan waktu yang tepat untuk memastikan portofolio tetap terdiversifikasi, tidak hanya memegang saham dalam indeks S&P 500, tetapi juga saham berkapitalisasi kecil dan saham internasional.
Investor juga disarankan memeriksa kemungkinan melakukan rebalancing, yakni mengurangi sebagian aset yang sudah menghasilkan keuntungan besar seperti saham-saham besar Amerika Serikat, lalu menambah aset yang tertinggal seperti obligasi.
Selain itu, investor perlu berhati-hati terhadap penasihat keuangan yang terlalu yakin bahwa pasar sedang berada—atau justru tidak berada—dalam gelembung. Mereka tidak memiliki kepastian lebih besar dibanding investor lainnya.
Di Indonesia, perdebatan mengenai apakah pasar saham sedang memasuki fase gelembung juga mulai muncul, terutama setelah penguatan sejumlah saham teknologi, perbankan besar, dan sektor yang terkait dengan digitalisasi serta kecerdasan buatan. Namun kondisi pasar domestik masih berbeda dibanding euforia ekstrem yang pernah terjadi di Amerika Serikat pada era dot-com maupun lonjakan saham teknologi beberapa tahun terakhir. Investor Indonesia masih cenderung berhati-hati karena pasar domestik sangat sensitif terhadap pergerakan suku bunga global, nilai tukar rupiah, dan arus dana asing.
Struktur investor di Indonesia juga membuat pasar relatif lebih mudah bergejolak. Partisipasi investor ritel meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak masa pandemi ketika pembukaan rekening saham melonjak. Kondisi ini memang menciptakan antusiasme besar terhadap saham-saham tertentu, terutama yang memiliki narasi pertumbuhan tinggi. Namun di sisi lain, banyak investor domestik masih fokus pada pergerakan jangka pendek sehingga sentimen pasar dapat berubah cepat ketika muncul tekanan global seperti kenaikan inflasi Amerika Serikat, konflik geopolitik, atau pelemahan ekonomi China.
Sejumlah analis menilai pasar saham Indonesia saat ini belum menunjukkan tanda-tanda gelembung besar secara menyeluruh. Valuasi beberapa emiten memang terlihat mahal, terutama di sektor teknologi dan saham yang bergerak karena spekulasi, tetapi sebagian besar kapitalisasi pasar masih ditopang emiten perbankan, komoditas, telekomunikasi, dan konsumsi yang memiliki fundamental laba relatif stabil. Karena itu, tantangan terbesar bagi investor Indonesia bukan sekadar menebak apakah gelembung sedang terbentuk, melainkan menjaga diversifikasi portofolio dan menghindari keputusan investasi yang terlalu emosional saat pasar bergerak ekstrem.



