Pasar Fluktuatif dan Konsolidasi, Menanti Redanya Tensi Perang — Domestic Market Outlook, 11-13 May 2026

113
Vibizmedia Picture

(Vibiznews – Editor’s Note) – Pasar investasi domestik pada seminggu berlalu diwarnai dengan sejumlah isyu, di antaranya:

  • Pasar keuangan di minggu lalu cukup fluktuatif dan konsolidasi, dengan rentang terbatas dalam sepekannya.
  • Pertumbuhan ekonomi RI triwulan I 2026 dirilis BPS melaju 5,61% (yoy).
  • BPS melaporkan IHK April mengalami inflasi sebesar 2,42% (yoy).
  • Asesmen KSSK menunjukkan kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan triwulan I tetap dalam kondisi terjaga.
  • Sentimen global saat ini tetap sekitar konflik Timur Tengah, termasuk belakangan ini bertambahnya harapan negosiasi perang AS – Iran, serta dinamika harga minyak mentah dunia.
  • Data ekonomi yang diperhatikan pasar pekan mendatang ini adalah rilis keyakinan konsumen April pada hari Senin; serta data penjualan ritel pada Selasa nanti.

Minggu berikutnya, isyu prospek ekonomi dalam dan luar negeri, akan kembali mewarnai pergerakan pasar. Seperti apa dinamika pasar hari-hari ini? Berikut detail dari Vibiznews Domestic Market Review and Outlook 11-13 May 2026.

===

Minggu yang baru lewat IHSG di pasar modal Indonesia terpantau fluktuatif, rally lalu terkoreksi tajam di hari terakhir, dan ditutup menguat terbatas secara mingguannya. Indeks digerus merosotnya saham-saham komoditas dan pertambangan, sementara ketidakpastian diplomasi perang Iran turut menekan sentimen perdagangan. Sementara itu, bursa kawasan Asia pada seminggu ini umumnya bias menguat, di antara harga minyak yang sempat menurun. Secara mingguan IHSG ditutup menguat terbatas 0,18%, atau 12,592 poin, ke level 6.969,396.

Untuk minggu berikutnya (11-13 Mei 2026), minggu pendek dengan long weekend, IHSG kemungkinan konsolidasi dengan bias terkoreksi, dengan mencermati sentimen bursa regional sepekan depan. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance di level 7.230 dan 7.578. Sedangkan bila menemui tekanan jual di level ini, support ke level 6,838 dan bila tembus ke level 6,745.

Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan berlalu berakhir bertahan setelah bearish 5 minggu dan sempat membukukan rekor terendah baru. Rupiah fluktuatif di sekitar rekor terlemahnya di tengah musim pembayaran dalam dollar yang menaikkan permintaan dollar. Rupiah secara mingguannya berakhir flat dengan menguat tipis 3 poin atau 0,02% ke level Rp 17.370 per USD. Sementara, dollar global di akhir pekan terkoreksi dalam ke area 2,5 bulan terendahnya di antara pasar bertambah optimis gencatan senjata akan bertahan seperti dinyatakan terakhirnya oleh Presiden Trump.

Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan masih uptrend dengan konsolidasi sebentar, atau kemungkinan rupiah bias terkoreksi mencetak lagi rekor terendah sepanjang sejarahnya, dalam range antara resistance di level Rp17.437 dan Rp17.470, sementara support di level Rp17.195 dan Rp17.130.

Harga obligasi rupiah Pemerintah Indonesia jangka panjang 10 tahun terpantau naik secara mingguannya, terlihat dari pergerakan turun yield obligasi dan berakhir ke level 6,701% di pekan keduanya. Sementara yields US Treasury terpantau terkoreksi terbatas.

===

Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada April 2026 terjaga dalam kisaran sasaran 2,5±1%. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, IHK pada April 2026 tercatat mengalami inflasi sebesar 0,13% (mtm), sehingga secara tahunan IHK mengalami inflasi sebesar 2,42% (yoy) atau lebih rendah dari realisasi pada bulan sebelumnya sebesar 3,48% (yoy).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekonomi triwulan I 2026 tumbuh sebesar 5,61% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada triwulan sebelumnya sebesar 5,39% (yoy).

Menurut BI ke depan, pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan tahun 2026 diprakirakan tetap kuat dalam kisaran 4,9-5,7% (yoy).

Hasil asesmen Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menunjukkan bahwa kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan selama triwulan I tahun 2026 tetap dalam kondisi terjaga, di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan global, seiring eskalasi konflik di Timur Tengah.

Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2026 tetap tinggi sebesar 146,2 miliar dolar AS, meskipun menurun dibandingkan dengan posisi akhir Maret 2026 sebesar 148,2 miliar dolar AS.

Perkembangan ini dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa, serta penerbitan global bond pemerintah di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah.

===

 

Berbagai isyu, apakah tentang perkembangan situasi geopolitik, prospek inflasi dan ekonomi global, serta arah kebijakan moneter, terpantau dapat menggerakkan pasar begitu rupa. Kita melihat bahwa fundamental ekonomi begitu bisa memengaruhi pasar, sementara di sana ada juga isyu politik dan sosial masyarakat. Bagi investor lokal yang, barangkali, bukan berlatar belakang pendidikan ekonomi kadang tidak mudah untuk memahami dinamika berbagai indikator tersebut.

Kendala itu bukan merupakan masalah kalau Anda terus menyimak berita dan analisis pasar di vibiznews.com. Banyak orang telah mengakuinya. Terima kasih tetap bersama kami karena kami hadir demi mendukung sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting