Bagaimana Citigroup Bisa Naik ke Level Berikutnya

82
Citigroup

(Vibiznews-Kolom) Di Citigroup, begitu banyak hal yang kini berubah. Namun beberapa titik lemah lama bank tersebut masih tetap sama. Pertanyaan yang kini dihadapi investor adalah apakah bank yang telah diperbarui ini akhirnya mampu mengatasi masalah-masalah tersebut. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Citigroup terlihat berada dalam posisi yang lebih baik.

Citigroup di bawah kepemimpinan CEO Jane Fraser berhasil menetapkan ulang standar bagi dirinya sendiri. Bank itu mulai menangani tantangan seperti sistem manajemen risiko yang rumit dan struktur pelaporan global yang kompleks. Banyak unit bisnisnya kini memiliki nama dan pemimpin baru.

Namun dalam hal menghasilkan keuntungan, Citigroup masih memiliki ruang untuk mengejar para pesaingnya. Saat ini saham Citigroup diperdagangkan dengan premi sekitar 30% terhadap tangible book value, dan baru-baru ini mencapai level tertinggi sejak 2008 menurut data FactSet. Pada 2023 lalu, saham bank ini sempat diperdagangkan dengan diskon lebih dari 50%. Meski demikian, seluruh pesaingnya di antara enam bank terbesar Amerika Serikat diperdagangkan dengan premi di atas 70%. Premi yang lebih tinggi itu sebagian mencerminkan ekspektasi tingkat pengembalian ekuitas yang lebih besar.

Bagi Fraser, stabilitas saja sudah merupakan sebuah pencapaian. Sejak menjadi CEO pada 2021, ia berhasil melakukan berbagai hal yang selama bertahun-tahun dianggap nyaris mustahil, termasuk langkah besar untuk melepas unit perbankan ritel Banamex di Meksiko. Analis perbankan senior dari Wells Fargo, Mike Mayo, bahkan menyebut langkah-langkah terbaru Citigroup sebagai sebuah “restrukturisasi generasional”.

Namun seperti yang disampaikan Fraser pada Kamis lalu, masa ketika standar “cukup baik” dianggap memadai kini telah berakhir. Untuk mencapai level berikutnya, Citigroup masih membutuhkan lebih banyak perubahan.

Dalam presentasi investor day pada Kamis, Citigroup menetapkan target jangka menengah baru untuk return on tangible common equity sebesar 14% hingga 15%. Target itu lebih tinggi dibanding target 2026 sebelumnya yang berada di kisaran 10% hingga 11%, serta target 11% hingga 13% untuk dua tahun berikutnya. Sasaran jangka menengah tersebut mencerminkan manfaat yang diharapkan dari proses pembenahan yang terus berjalan. Namun target itu juga menunjukkan harapan peningkatan profitabilitas pada unit-unit bisnis yang selama ini kesulitan memenuhi ekspektasi investor.

Salah satunya adalah bisnis perbankan ritel AS yang kini menjadi bagian dari unit Wealth milik Citi. Tahun lalu, unit Wealth menghasilkan return sebesar 8%. Dalam target jangka menengah, angka itu diharapkan bisa naik menjadi lebih dari 20%.

Citi sebenarnya merupakan pemain utama di enam pasar perbankan kota kaya di Amerika Serikat seperti New York, San Francisco, dan Miami. Namun selama bertahun-tahun, bank ini gagal menyamai tingkat keuntungan bisnis ritel para pesaing yang memiliki jaringan nasional luas dan mampu mengumpulkan deposito rekening giro berbiaya sangat murah.

Kini Citi menjadikan wealth management sebagai tujuan utama. Jika strategi itu berhasil, tingkat keuntungan bisa meningkat cukup cepat melalui tambahan pendapatan berbasis biaya dari pengelolaan aset nasabah yang lebih besar. Presentasi Kamis lalu menunjukkan proyeksi pertumbuhan organik aset investasi baru bersih dalam kisaran high-single-digit untuk jangka pendek.

Bisnis perdagangan saham atau equities trading juga selama ini menjadi titik lemah lain bagi Citigroup. Bank tersebut sebenarnya memiliki posisi kuat dalam bisnis fixed income, mata uang, dan komoditas. Pengembangan bisnis equities juga sudah menjadi target sejak investor day Citi pada 2022. Menurut Citi, bisnis itu kini telah berkembang cukup besar, bahkan melampaui laju pertumbuhan rata-rata pesaing Eropa sejak 2022, terutama dalam pendapatan dari derivatif saham.

Namun bank itu juga mengakui bahwa mereka belum mampu menangkap pertumbuhan bisnis equities secara keseluruhan sebesar yang dicapai para pesaingnya di Amerika Serikat, dan tingkat pengembalian ekuitasnya pun masih tertinggal. Citi berpendapat bahwa mereka masih bisa memanfaatkan skala platform prime brokerage yang telah dibangun di bisnis equities sehingga dapat menghasilkan keuntungan lebih besar dari basis biaya tetap yang sudah ada.

Keberhasilan restrukturisasi besar-besaran Citigroup justru membuat area perbaikan di bisnis intinya terlihat semakin jelas. Namun di sisi lain, kondisi itu juga berarti Citi kini dapat memusatkan lebih banyak energi untuk memperbaiki area-area tersebut karena fondasi pembenahannya sudah mulai dibangun.

Investor yang selama bertahun-tahun terbiasa melihat naik-turunnya Citigroup kemungkinan belum akan memberikan penghargaan penuh sebelum hasil perbaikannya benar-benar terlihat jelas dalam angka keuangan. Namun ketika para pesaing mulai terlihat mencapai batas pertumbuhan mereka, fakta bahwa Citi masih memiliki ruang untuk naik bisa menjadi sumber tenaga baru bagi bank tersebut dalam beberapa waktu ke depan.

Dampak perubahan strategi Citigroup secara global terhadap operasi di Indonesia kemungkinan tidak akan terlihat dalam bentuk ekspansi besar-besaran perbankan ritel seperti yang dilakukan bank lokal. Di Indonesia, Citi selama bertahun-tahun lebih dikenal sebagai pemain kuat di segmen korporasi, treasury, layanan kustodian, transaksi lintas negara, serta wealth management untuk nasabah kaya. Karena itu, arah restrukturisasi global yang kini lebih fokus pada efisiensi, manajemen risiko, dan bisnis wealth justru cukup relevan dengan model bisnis Citi di Indonesia.

Salah satu dampak yang paling mungkin terlihat adalah semakin besarnya fokus Citi Indonesia pada nasabah affluent dan ultra-high-net-worth. Secara global, Citi sedang mencoba meningkatkan profitabilitas melalui pengelolaan aset nasabah kaya. Strategi serupa dapat diperkuat di Indonesia, terutama karena jumlah individu dengan kekayaan tinggi terus bertambah di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Citi kemungkinan akan lebih agresif menawarkan layanan investasi global, akses produk internasional, advisory, hingga pengelolaan kekayaan lintas negara.

Di sisi korporasi, restrukturisasi global Citi juga bisa memperkuat posisi Indonesia sebagai bagian dari jaringan transaksi internasional mereka. Banyak perusahaan multinasional yang beroperasi di Indonesia membutuhkan layanan cash management, perdagangan internasional, lindung nilai mata uang, hingga pembiayaan lintas negara. Karena Citi secara global masih sangat kuat di fixed income, valuta asing, dan treasury, unit Indonesia dapat memperoleh manfaat dari integrasi jaringan global tersebut.

Namun ada juga tekanan yang perlu diperhatikan. Standar manajemen risiko global Citi kini jauh lebih ketat dibanding beberapa tahun lalu. Itu berarti operasi di berbagai negara, termasuk Indonesia, kemungkinan menghadapi tuntutan kepatuhan yang lebih tinggi, proses internal yang lebih kompleks, dan pengawasan teknologi yang lebih intensif. Dalam jangka pendek, kondisi ini dapat meningkatkan biaya operasional dan memperlambat proses bisnis tertentu.

Selain itu, Citi Indonesia kemungkinan akan semakin selektif dalam memilih segmen bisnis. Sejak beberapa tahun terakhir, Citi memang sudah mengurangi fokus pada bisnis consumer banking mass market di banyak negara Asia. Di Indonesia sendiri, Citi telah menjual bisnis consumer banking-nya kepada United Overseas Bank atau UOB. Langkah itu sejalan dengan strategi global Fraser yang lebih memilih bisnis dengan margin lebih tinggi dan penggunaan modal yang lebih efisien.

Bagi industri perbankan Indonesia, perubahan strategi Citi juga memberi sinyal bahwa persaingan ke depan akan semakin kuat di segmen wealth management dan layanan korporasi premium. Bank-bank lokal besar kemungkinan akan semakin agresif membangun layanan private banking, investasi global, dan digital wealth untuk menyaingi pemain asing seperti Citi.

Dari perspektif ekonomi Indonesia, keberhasilan restrukturisasi Citi secara global sebenarnya dapat berdampak positif. Jika kondisi keuangan grup menjadi lebih stabil dan profitabilitas meningkat, kemampuan Citi untuk mendukung investasi asing, pembiayaan proyek, dan transaksi internasional di Indonesia juga bisa menjadi lebih kuat. Hal ini penting terutama ketika Indonesia terus berupaya menarik investasi manufaktur, energi, dan infrastruktur.

Keberhasilan Citi di Indonesia tetap sangat bergantung pada kondisi ekonomi domestik. Jika pertumbuhan kelas menengah atas Indonesia terus meningkat, pasar modal berkembang, dan investasi asing tetap masuk, maka strategi wealth management dan corporate banking Citi memiliki peluang tumbuh cukup besar. Sebaliknya, jika ekonomi global melemah dan arus investasi melambat, maka tekanan terhadap bisnis internasional Citi di Indonesia juga akan ikut meningkat.