Pasar Saham Amerika Belum Pernah Terlihat Sebaik Ini

91
saham

(Vibiznews – Kolom) Warga Amerika sedang berada dalam suasana hati yang sangat buruk. Namun pasar saham justru sama sekali tidak menunjukkan hal itu. Biasanya, kondisi seperti ini tidak terjadi. Secara historis, harga saham yang tinggi selalu berkaitan dengan konsumen yang merasa optimistis, dan sebaliknya. Berikut gambaran mengenai apa yang sedang terjadi.

Seberapa buruk sentimen masyarakat?

Sikap masyarakat Amerika baru saja mencapai semacam tonggak sejarah. Pada Jumat, Universitas Michigan melaporkan bahwa indeks sentimen konsumennya turun ke level terendah sepanjang lebih dari 70 tahun survei dilakukan.

Sentimen sebenarnya sudah rendah sejak awal tahun ini, tetapi jatuh lebih tajam setelah perang Iran dimulai pada akhir Februari dan mendorong harga bensin melonjak tinggi.

Sebelum tahun ini, level terendah sebelumnya terjadi pada Juni 2022, ketika inflasi berada di titik tertinggi dalam beberapa dekade. Angka sentimen pada Jumat bahkan 10% lebih rendah dibanding periode tersebut.

Joanne Hsu, direktur survei konsumen Universitas Michigan, mengatakan bahwa harga-harga masih sangat tinggi, pasar tenaga kerja jelas melemah dalam empat tahun terakhir, dan kini masyarakat berada di tengah perang. Menurutnya, kondisi yang lebih buruk dibanding Juni 2022 seharusnya tidak mengejutkan siapa pun.

Seberapa bagus kondisi saham?

Namun jika melihat pasar saham, orang tidak akan membayangkan bahwa sentimen masyarakat serendah itu. Pada Jumat yang sama, indeks S&P 500 mencatat kenaikan selama delapan pekan berturut-turut, sementara Dow Jones Industrial Average ditutup pada rekor tertinggi untuk hari kedua secara beruntun.

Dan bukan hanya karena saham berada di level tinggi. Saham juga terlihat sangat mahal.

S&P 500 saat ini diperdagangkan dengan valuasi 40,8 berdasarkan rasio cyclically adjusted price/earnings atau CAPE. Metrik ini dipopulerkan oleh Robert Shiller, ekonom Universitas Yale yang memenangkan Nobel Ekonomi pada 2013 berkat penelitiannya mengenai harga aset.

Satu-satunya periode lain ketika valuasi berada di atas 40 dalam 145 tahun data Shiller adalah pada masa sebelum dan sesudah puncak gelembung dot-com pada awal 2000.

Tahun 2000 juga merupakan periode ketika indeks sentimen Michigan mencapai level tertinggi sepanjang masa. Sejak saat itu, sentimen tidak pernah lagi mendekati level tersebut.

Menurut survei Michigan, warga Amerika yang memiliki portofolio saham besar rata-rata memang merasa lebih baik dibanding kelompok lainnya. Namun berbeda dengan periode-periode sebelumnya ketika valuasi saham tinggi, mereka tetap relatif tidak bahagia.

Lalu apa yang membuat kondisi saat ini begitu berbeda dari pola yang biasanya terjadi? Para ekonom memiliki beberapa penjelasan.

Kembali ke tahun 2000

Ambil contoh tahun 2000, ketika pola umum berupa pasar saham kuat dan konsumen bahagia benar-benar terjadi.

Robert Barbera, direktur Center for Financial Economics di Johns Hopkins University, mencatat bahwa pada masa itu pasar saham dan masyarakat Amerika sama-sama didorong optimisme bersama. Ekonomi tumbuh, lapangan kerja bertambah, dan inflasi rendah. Perang Dingin telah berakhir, China mulai terbuka, dan pemerintah AS mencatat surplus anggaran.

Sama seperti kecerdasan buatan saat ini, kala itu juga muncul teknologi baru yang bersifat transformasional. Namun semangat zaman terhadap internet saat itu adalah keyakinan bahwa teknologi tersebut akan menghubungkan dunia dan memperbaiki kehidupan manusia. AI tidak dipandang sepositif itu.

Bagaimana rasanya hidup di tahun 2026

Barbera menunjuk tiga hal yang mungkin menjelaskan ketidaksesuaian saat ini, yang sebenarnya bisa saja terjadi bersamaan.

Pertama, harga saham mungkin tidak lagi mencerminkan fundamental ekonomi AS dan berisiko turun tajam. Dengan kata lain, konsumen memang benar untuk merasa pesimistis.

Kedua, pasar saham mungkin sedang melihat masa depan yang belum sepenuhnya dipahami masyarakat Amerika — misalnya perang dengan Iran berakhir, inflasi mereda, dan pertumbuhan ekonomi kembali menguat. Dalam hal ini, pasar saham memang benar untuk terlihat begitu optimistis.

Dan yang ketiga? Faktor terbesar yang mendorong euforia pasar saham belakangan ini adalah AI, yang pada saat sama juga menjadi sumber kecemasan yang meningkat bagi banyak warga Amerika. Dunia di mana perusahaan menggunakan AI untuk memangkas biaya tenaga kerja dan memperlebar margin keuntungan sangat baik bagi saham. Namun itu juga bisa menjadi dunia di mana semakin banyak orang kesulitan mendapatkan pekerjaan.

Barbera mengatakan bahwa pasar saham yang melambung tinggi dan rumah tangga yang semakin muram sebenarnya sedang mencerminkan hal yang sama.

Pelajaran Bagi Pasar Saham Indonesia

Ada beberapa pelajaran penting bagi pasar saham Indonesia dari kondisi di Amerika tersebut, terutama mengenai hubungan antara sentimen masyarakat, valuasi saham, dan arah ekonomi riil.

Pertama, kenaikan indeks saham tidak selalu mencerminkan kondisi ekonomi masyarakat secara luas. Di AS, pasar saham terus mencetak rekor meski banyak warga merasa pesimistis akibat inflasi, biaya hidup, perang, dan ketidakpastian pekerjaan. Hal serupa juga bisa terjadi di Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan atau IDX Composite dapat naik karena didorong saham-saham besar, aliran dana asing, atau optimisme sektor tertentu, sementara daya beli masyarakat belum tentu pulih sepenuhnya.

Kedua, reli pasar yang terlalu bergantung pada narasi tertentu bisa menciptakan valuasi yang mahal. Di AS, euforia terhadap AI membuat saham teknologi melambung tinggi. Di Indonesia, pola serupa bisa muncul pada tema tertentu seperti hilirisasi nikel, kendaraan listrik, digitalisasi, atau AI. Investor perlu membedakan antara pertumbuhan fundamental yang nyata dan sekadar optimisme pasar jangka pendek.

Ketiga, kondisi ini menunjukkan bahwa pasar saham semakin dipengaruhi oleh investor institusi dan pemilik modal besar, bukan kondisi rumah tangga secara umum. Di AS, kelompok yang memiliki portofolio saham besar memang merasa lebih baik dibanding masyarakat biasa. Di Indonesia, kepemilikan saham juga masih terkonsentrasi pada kelompok tertentu. Karena itu, kenaikan IHSG belum tentu berarti kesejahteraan masyarakat meningkat secara merata.

Keempat, pasar saham sering bergerak berdasarkan ekspektasi masa depan, bukan kondisi hari ini. Investor membeli saham karena percaya ekonomi akan membaik enam bulan hingga satu tahun ke depan. Karena itu, terkadang pasar terlihat “tidak masuk akal” dibanding situasi ekonomi saat ini. Fenomena ini penting dipahami investor ritel Indonesia agar tidak terlalu emosional melihat pergerakan harian pasar.

Kelima, perkembangan AI juga menjadi pelajaran penting bagi emiten Indonesia. Teknologi memang bisa meningkatkan efisiensi dan margin keuntungan perusahaan, namun juga dapat menimbulkan kekhawatiran terhadap lapangan kerja. Ke depan, pasar kemungkinan akan lebih menghargai perusahaan yang mampu mengadopsi teknologi tanpa mengorbankan stabilitas bisnis dan konsumsi masyarakat.

Dan yang paling penting, investor Indonesia perlu memahami bahwa pasar saham bukan cerminan sempurna kondisi ekonomi nasional. Kadang pasar terlalu optimistis, kadang terlalu pesimistis. Karena itu, keputusan investasi sebaiknya tidak hanya mengikuti euforia indeks, tetapi juga mempertimbangkan valuasi, fundamental perusahaan, kondisi makroekonomi, serta daya tahan bisnis dalam jangka panjang.