Mengapa Demam Investasi Bitcoin Mulai Mereda

49
Harga Bitcoin Kembali Menguat Menuju Level US$ 125.000

(Vibiznews-Kolom) Regulator federal dan para pembuat kebijakan diketahui telah mendorong mata uang kripto keluar dari pinggiran dunia investasi menuju arus utama dengan memperkenalkan aset digital ke dalam exchange-traded funds (ETF) serta rekening dana pensiun.Namun, sebuah laporan baru menunjukkan bahwa jumlah investor kripto masih tergolong relatif kecil.

Laporan Urban Institute yang dirilis pada 9 Juli mengungkapkan bahwa sekitar 17% orang dewasa di Amerika Serikat pernah memiliki aset kripto. Akan tetapi, hanya sekitar 9% yang masih memilikinya hingga saat ini. Dengan kata lain, hampir separuh investor kripto di Amerika telah meninggalkan pasar tersebut.

Laporan tersebut disusun berdasarkan survei terhadap lebih dari 3.000 orang dewasa pada Januari. Hasilnya menjadi gambaran terbaru mengenai jangkauan Bitcoin dan mata uang kripto lainnya pada saat aset digital kini telah dapat diakses oleh investor ritel.

Presiden Donald Trump diketahui telah mempromosikan kripto kepada investor ETF maupun pemilik tabungan pensiun dengan janji menjadikan Amerika Serikat sebagai “ibu kota kripto dunia.”

Kampanye tersebut disebut-sebut telah mendorong harga Bitcoin mencapai rekor tertinggi pada 2025. Namun, sejak saat itu nilai Bitcoin dilaporkan telah kehilangan sekitar separuh nilainya, sementara lonjakan jumlah pemilik kripto baru yang banyak diperkirakan ternyata tidak pernah terjadi.

Analis mata uang kripto kontributor di The Motley Fool, Alex Carchidi, mengatakan bahwa tidak terlihat adanya gelombang besar investor kripto baru. Bahkan, menurutnya, banyak investor kripto profesional telah meninggalkan pasar atau memilih berhenti sementara sejak pasar mengalami kejatuhan pada Oktober.

Kripto Masih Berada di Pinggiran Investasi Meski Didukung Regulasi

Temuan Urban Institute disebut sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Federal Reserve melalui survei Economic Well-Being of U.S. Households.

Laporan terbaru Federal Reserve yang diterbitkan pada Mei menunjukkan bahwa sekitar 10% orang dewasa menggunakan mata uang kripto pada 2025. Menurut bank sentral tersebut, tingkat adopsi kripto kemungkinan mencapai puncaknya pada 2021 ketika sekitar 12% warga Amerika membeli, menjual, menyimpan, atau menggunakan aset kripto.

Sebagai perbandingan, sekitar 62% warga Amerika memiliki saham.

Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa kripto belum benar-benar menyebar luas dalam dunia investasi meskipun upaya untuk mempromosikannya terus dilakukan.

Ahli strategi portofolio Morningstar, Amy Arnott, mengatakan bahwa masyarakat masih memandang kripto sebagai kelas aset yang lebih khusus. Ia menilai volatilitas yang tinggi serta penurunan harga yang sangat tajam secara berkala masih menjadi faktor yang membuat banyak orang enggan berinvestasi.

Bagaimana Kripto Menjadi Lebih Mudah Diakses Investor Ritel

Sebelum 2024, investor ritel yang ingin memperdagangkan mata uang digital umumnya harus menggunakan bursa kripto, sesuatu yang sering menjadi hambatan bagi investor yang belum familiar.

Situasi tersebut berubah pada Januari 2024 ketika regulator federal menyetujui perdagangan ETF Bitcoin spot sehingga investor biasa dapat membeli dan menjualnya sebagaimana mereka memperdagangkan saham.

Melalui sebuah perintah eksekutif pada 2025, Presiden Donald Trump menyerukan pembentukan regulasi federal untuk mata uang digital sekaligus menyampaikan gagasan mengenai pembentukan cadangan nasional mata uang kripto.

Trump juga diketahui terus mendorong penggunaan kripto di tengah keuntungan besar yang diperoleh bisnis keluarganya dari sektor tersebut. The New York Times melaporkan bahwa berbagai proyek kripto milik bisnis keluarga Trump menghasilkan pendapatan sekitar US$1,4 miliar sepanjang 2025.

Pada awal tahun ini, Departemen Tenaga Kerja AS juga menerbitkan rancangan aturan yang bertujuan mengurangi hambatan hukum dan regulasi terhadap penempatan aset kripto maupun investasi alternatif lainnya dalam program dana pensiun.

Apakah Kripto Layak Masuk ke Rekening Dana Pensiun?

Para pengkritik aturan tersebut berpendapat bahwa mata uang kripto tidak seharusnya dimasukkan ke dalam rekening dana pensiun karena sifatnya yang sangat berfluktuasi dan masih belum dipahami oleh banyak masyarakat.

Peneliti senior Urban Institute, Luisa Godinez-Puig, mengatakan bahwa seseorang yang memahami cara kerja kripto mungkin tidak akan mengalami kesulitan. Namun, bagi banyak orang, aset digital masih merupakan sesuatu yang misterius dan memerlukan proses pembelajaran.

Nilai Bitcoin, yang merupakan mata uang kripto terbesar, dilaporkan turun dari sekitar US$125.000 pada Oktober 2025 menjadi sekitar US$65.000 pada akhir Juli 2026.

Penurunan harga tersebut dinilai menjadi salah satu alasan mengapa sebagian investor mulai menjauh dari aset kripto.

Pemimpin redaksi Investopedia, Caleb Silver, mengatakan bahwa penurunan harga berarti banyak orang melakukan penjualan. Menurutnya, hal itu kemungkinan menunjukkan bahwa investor yang sebelumnya hanya mencoba membeli Bitcoin akhirnya memutuskan untuk tidak lagi memilikinya setelah menyaksikan harga aset tersebut merosot tajam.

Banyak Investor Masih Percaya Kripto Adalah Masa Depan

Survei Urban Institute menunjukkan bahwa investor kripto yang masih aktif memiliki aset digital dengan berbagai alasan. Sekitar 45% menyatakan tujuan mereka adalah mendiversifikasi investasi, 37% tertarik pada perkembangan teknologi baru, dan 27% meyakini bahwa mata uang digital merupakan masa depan sistem keuangan.

Sebaliknya, mantan pemilik kripto tampak lebih berfokus pada potensi keuntungan investasi dibandingkan prospek teknologi di balik aset tersebut.

Sekitar 8% responden menyatakan tidak lagi memiliki aset kripto. Dibandingkan investor yang masih aktif, kelompok ini lebih banyak mengaku bahwa alasan utama mereka membeli kripto adalah untuk memperoleh keuntungan finansial. Mereka kemudian menghentikan investasinya karena mengalami kerugian.

Caleb Silver mengatakan bahwa banyak investor yang membeli kripto selama 15 tahun terakhir pada dasarnya hanya mengejar kenaikan harga.

Survei tersebut juga menemukan bahwa sebagian besar pemilik kripto telah menyimpan asetnya selama beberapa tahun. Meski demikian, nilai kepemilikannya relatif kecil. Sekitar dua perlima investor kripto hanya memiliki aset digital senilai kurang dari US$250.

Penelitian itu juga menunjukkan bahwa investor kripto didominasi oleh laki-laki. Warga Amerika keturunan Asia tercatat memiliki tingkat kepemilikan kripto yang jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok ras lainnya, sementara investor kripto juga cenderung berasal dari kelompok usia yang lebih muda.

Apakah Kripto Merupakan Investasi yang Baik?

Laporan Urban Institute merekomendasikan agar regulator federal mewajibkan bank, bursa kripto, serta penyedia layanan aset digital lainnya memberikan pengungkapan informasi yang jelas dan terstandarisasi mengenai berbagai risiko investasi kripto.

Sejumlah pakar investasi juga masih mempertanyakan manfaat kripto sebagai instrumen diversifikasi portofolio maupun sebagai pelindung (hedge) terhadap penurunan pasar saham. Salah satu alasannya, harga Bitcoin justru sering ikut turun ketika pasar saham mengalami pelemahan.

Dalam tulisannya pada 2025, Amy Arnott dari Morningstar menyatakan bahwa nilai intrinsik Bitcoin hampir tidak mungkin ditentukan secara pasti. Oleh karena itu, ia menilai porsi investasi kripto dalam portofolio sebaiknya dibatasi maksimal sekitar 5%, bahkan banyak investor mungkin lebih baik tidak memiliki aset kripto sama sekali.