RUPST Bursa Efek Indonesia 2026 Setujui Laporan Tahunan 2025 dan Tetapkan Direksi Baru, Siap Lanjutkan Transformasi Pasar Modal Indonesia

107
Vibizmedia Photo

(Vibiznews – IDX) PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2026 secara hybrid pada Senin, 29 Juni 2026. RUPST 2026 BEI dihadiri oleh 90 Pemegang Saham atau 100% dari jumlah Pemegang Saham yang memiliki hak suara.

Rapat menyetujui dan memutuskan 3 (tiga) agenda, yaitu 1) Persetujuan atas Laporan Tahunan termasuk Laporan Tugas Pengawasan Dewan Komisaris Perseroan dan Pengesahan Laporan Keuangan Perseroan untuk Tahun Buku 2025, 2) Penunjukan Akuntan Publik Perseroan untuk Tahun Buku 2026, dan 3) Pengangkatan dan Penetapan Remunerasi bagi Anggota Direksi Perseroan Masa Bakti 2026-2030 serta Pemberian Uang Jasa Pengabdian bagi Anggota Direksi Perseroan yang Berakhir Masa Baktinya.

Kinerja Pasar Modal Indonesia Tetap Tumbuh di Tengah Dinamika Global

Dalam agenda pertama, Direksi BEI menyampaikan laporan kinerja Perseroan sekaligus perkembangan pasar modal Indonesia sepanjang tahun 2025.

Tahun 2025 menjadi periode yang penuh dinamika bagi pasar modal Indonesia. Pada paruh pertama tahun 2025, pasar menghadapi tekanan eksternal yang dipicu meningkatnya tensi perang dagang akibat kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat, pelemahan nilai tukar Rupiah, serta berlanjutnya ketidakpastian geopolitik global. Kondisi tersebut mendorong meningkatnya volatilitas pasar hingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terkoreksi ke level 5.996 pada awal April 2025 dan Bursa memberlakukan trading halt.

Dalam menghadapi kondisi tersebut, BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (SRO) melakukan koordinasi intensif serta menerapkan berbagai kebijakan stabilisasi pasar, antara lain penguatan komunikasi dengan pelaku pasar, penyesuaian kebijakan buyback saham tanpa persetujuan RUPS, penyesuaian batas Auto-Rejection Bawah (ARB), serta penyempurnaan ketentuan trading halt guna menjaga stabilitas pasar dan meredam volatilitas yang berlebihan.

Memasuki paruh kedua tahun 2025, kondisi pasar berangsur pulih seiring membaiknya sentimen global serta didukung berbagai kebijakan domestik yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. Pemulihan tersebut tercermin dari IHSG yang mencatatkan 24 kali All-Time High sepanjang tahun dengan level tertinggi 8.711, dengan kapitalisasi pasar mencapai rekor tertinggi sebesar Rp16.004 triliun pada 8 Desember 2025.

Aktivitas perdagangan juga menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Sepanjang tahun 2025, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) saham mencapai Rp18,1 triliun, sedangkan transaksi produk non-saham mencapai Rp7,6 triliun. Pasar obligasi di BEI, melalui mekanisme Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA), mencatat total volume transaksi mencapai Rp1.375 triliun, sementara nilai perdagangan karbon di Bursa Karbon (IDXCarbon) tercatat sebesar Rp36,37 miliar.

Di sisi penghimpunan dana, BEI mencatatkan 26 perusahaan yang melakukan pencatatan saham baru (IPO) dengan total kapitalisasi pasar sebesar Rp155,2 triliun pada saat pencatatan. Dana yang berhasil dihimpun melalui IPO mencapai sekitar Rp18,1 triliun, meningkat 26% dibandingkan tahun sebelumnya. Kontribusi terbesar berasal dari sektor basic materials, diikuti sektor financials dan infrastruktur.

Selain melalui IPO saham, penghimpunan dana melalui Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) mencapai Rp217,4 triliun, sedangkan melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) dan Waran mencapai Rp43,7 triliun. Pencapaian ini semakin memperkuat fungsi pasar modal sebagai sumber pembiayaan yang komprehensif.

BEI juga terus memperkuat ekosistem pasar modal melalui pengembangan produk, layanan, dan infrastruktur, sekaligus memperluas inklusi keuangan melalui edukasi dan digitalisasi. Hingga akhir 2025, telah diselenggarakan lebih dari 49 ribu kegiatan edukasi dengan jumlah Galeri Investasi bertambah menjadi 1.015 lokasi di seluruh Indonesia, serta jumlah pengguna IDX Mobile meningkat menjadi 463 ribu. Berbagai upaya tersebut mendorong pertumbuhan jumlah investor pasar modal menjadi 20,3 juta, atau meningkat hampir 37% dibandingkan tahun sebelumnya.

Kinerja Keuangan Perseroan pada Tahun 2025 Terjaga Positif

Sejalan dengan pertumbuhan aktivitas pasar modal, Perseroan membukukan kinerja keuangan yang positif. Pendapatan konsolidasi meningkat 29,8% menjadi Rp3,66 triliun, dengan faktor utama pendorong peningkatan RNTH menjadi Rp18,07 triliun adalah pertumbuhan Jasa Transaksi Efek sebesar 41% dan Jasa Kliring sebesar 41,3%. Perseroan juga terus melakukan diversifikasi sumber pendapatan melalui jasa informasi, pendapatan investasi, dan kontribusi anak usaha sehingga pendapatan non-transaksi meningkat 14,6%, sementara pendapatan lainnya tumbuh 17%. Di sisi lain, jumlah beban meningkat 17,1% menjadi Rp2,37 triliun, terutama akibat meningkatnya kontribusi tahunan kepada OJK seiring bertambahnya aktivitas transaksi pasar modal.

Dengan kinerja tersebut, laba bersih Perseroan tumbuh 59,4% menjadi Rp1,07 triliun dan merupakan laba bersih tertinggi sepanjang sejarah BEI. Total aset meningkat 32% menjadi Rp14,78 triliun, sedangkan ekuitas tumbuh 14% menjadi Rp9,45 triliun. Pencapaian ini mencerminkan fundamental keuangan Perseroan yang semakin kuat.

Laporan keuangan konsolidasian Perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2025 telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Purwanto Susanti dan Surja dan menyatakan bahwa laporan keuangan konsolidasian telah disajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia.

Penunjukan Akuntan Publik

Pada agenda kedua, pemegang saham menyetujui penunjukan Kantor Akuntan Publik Purwanto Susanti dan Surja (member of Ernst & Young Global Limited) sebagai Kantor Akuntan Publik yang akan mengaudit laporan keuangan Perseroan, dengan Rindra Sulindro sebagai Akuntan Publik untuk Tahun Buku 2026.

Penetapan Direksi BEI Masa Bakti 2026-2030

Pada agenda ketiga, RUPST menyetujui pengangkatan Anggota Direksi Perseroan masa bakti 2026-2030 sebagaimana telah ditetapkan OJK melalui Surat Nomor SR-10/D.04/2026.

Susunan Direksi BEI masa bakti 2026-2030 adalah sebagai berikut:

Jabatan

Nama

Direktur Utama Jeffrey Hendrik
Direktur Penilaian Perusahaan Saidu Solihin
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa Irvan Susandy
Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan Yulianto Aji Sadono
Direktur Teknologi Informasi dan Manajemen Risiko Abdul Munim
Direktur Pengembangan Iding Pardi
Direktur Keuangan, Sumber Daya Manusia, dan Umum Umi Kulsum

 

Putusan RUPST BEI tahun 2026

RUPST BEI Tahun 2026 secara aklamasi menyetujui seluruh agenda rapat, yaitu Persetujuan Laporan Tahunan termasuk Laporan Tugas Pengawasan Dewan Komisaris dan Pengesahan Laporan Keuangan Perseroan Tahun Buku 2025, Penunjukan Akuntan Publik Perseroan untuk Tahun Buku 2026, Pengangkatan dan Penetapan Remunerasi Anggota Direksi Perseroan Masa Bakti 2026-2030, serta Pemberian Uang Jasa Pengabdian bagi Anggota Direksi Perseroan yang Berakhir Masa Baktinya.

Melalui keputusan tersebut, BEI menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat integritas, daya saing, dan keberlanjutan pasar modal Indonesia, sekaligus mempercepat transformasi menuju bursa yang semakin modern, inklusif, dan berdaya saing global.