(Vibiznews-Kolom) Harga emas sempat melesat ke rekor yang belum pernah terjadi sebelumnya, menembus US$5.000 per troy ounce pada awal tahun ini. Momen tersebut dimanfaatkan Stu Bradley untuk menjual sebagian kepemilikan emasnya. Penasihat keuangan yang telah pensiun dan kini berusia 83 tahun itu memutuskan mengurangi kepemilikan emasnya karena meragukan harga logam mulia tersebut masih mampu naik jauh lebih tinggi dalam waktu dekat.

Bradley mengakui dirinya sempat bimbang karena tergoda untuk mempertahankan seluruh investasinya mengingat kinerjanya yang sangat baik. Namun, berdasarkan pengalaman sebelumnya, ia merasa kondisi seperti itu pernah terjadi sehingga akhirnya memutuskan untuk menjual sebagian asetnya. Warga Michigan tersebut masih menyimpan sekitar 10% portofolionya dalam bentuk emas dan perak.

Kini ia merasa keputusan tersebut tepat. Harga emas telah turun sekitar 25% dari rekor tertinggi pada Januari yang mencapai US$5.318 per troy ounce. Penurunan itu termasuk pelemahan 2,6% pada Senin hingga menjadi US$3.997 per troy ounce setelah Amerika Serikat dan Iran kembali saling melancarkan serangan pada akhir pekan. Pada saat yang sama, harga minyak menguat, sementara indeks Nasdaq yang didominasi saham teknologi melemah sekitar 1,6%.

ETF emas terbesar, GLD, juga telah merosot sekitar 26% dibandingkan rekor penutupan tertingginya pada Januari. Sementara itu, perak yang juga dikenal sebagai aset lindung nilai namun memiliki volatilitas lebih tinggi, telah anjlok sekitar 50% dari rekor US$115 per troy ounce yang dicapai pada awal tahun ini.

Para investor khawatir konflik dengan Iran dapat mendorong kenaikan harga energi dan inflasi. Kondisi tersebut berpotensi membuat Federal Reserve mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama.

Kepala Riset Komoditas Standard Chartered Bank, Suki Cooper, menjelaskan bahwa kondisi tersebut meningkatkan biaya peluang atau setidaknya persepsi biaya peluang dalam memegang emas. Menurutnya, faktor itulah yang memberikan tekanan terhadap harga emas dalam jangka pendek.

Emas tidak memberikan imbal hasil berupa bunga sehingga daya tariknya berkurang dibandingkan obligasi pemerintah Amerika Serikat maupun instrumen berbasis kas lainnya ketika suku bunga berada pada level tinggi. Dalam pertemuan terakhir pada Juni, para pejabat Federal Reserve secara umum sepakat bahwa suku bunga perlu dinaikkan apabila inflasi tetap tinggi sepanjang tahun ini.

Inflasi tercatat mencapai level tertinggi dalam tiga tahun, yakni 4,2% pada Mei, setelah konflik di Iran memicu lonjakan harga energi. Investor kini menantikan rilis indeks harga konsumen (CPI) untuk Juni yang dijadwalkan terbit pada Selasa sebagai indikator terbaru arah inflasi. Pada Senin, harga minyak mentah Brent melonjak hampir 10% menjadi US$83,30 per barel. Kenaikan tersebut menjadi lonjakan harian terbesar sejak Mei 2020.

Harga emas sebenarnya sempat menguat sepanjang tahun lalu ketika investor mencari aset aman di tengah tekanan inflasi akibat tarif Presiden Donald Trump, ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve, serta kekhawatiran terhadap reli besar saham-saham teknologi. Namun, memasuki awal tahun ini, logam mulia tersebut mulai mengalami penurunan seiring meningkatnya ketegangan geopolitik dan melonjaknya harga energi.

Alex Shahidi, Co-Chief Investment Officer Evoke Advisors, menilai kenaikan biaya energi juga mendorong sejumlah bank sentral menjual cadangan emas mereka guna meningkatkan likuiditas. Harga emas sempat menyentuh titik terendah dalam tiga bulan di level US$3.990 per troy ounce pada akhir Juni. Setelah itu, pergerakannya cenderung berfluktuasi mengikuti perkembangan pembicaraan perdamaian di Timur Tengah.

Kepala Strategi Emas State Street Investment Management, Aakash Doshi, menilai keputusan suku bunga Federal Reserve akan memberikan pengaruh yang jauh lebih besar terhadap harga emas dibandingkan perkembangan geopolitik yang terjadi dari hari ke hari.

Menurut Doshi, pelanggaran sementara terhadap gencatan senjata tidak serta-merta membuat pasar beranggapan situasi akan kembali seperti konflik pada Maret atau April. Ia menilai peristiwa semacam itu lebih merupakan gejolak harian yang tidak mengubah tren utama pasar.

Meski demikian, sebagian investor masih memandang emas sebagai instrumen perlindungan sehingga tetap mempertahankannya dalam portofolio investasi.Bradley mengatakan dirinya akan tetap mempertahankan sisa kepemilikan emasnya karena menilai logam mulia tersebut relatif stabil.

Sementara itu, Richard Elias, mantan penasihat keuangan berusia 76 tahun dari St. Louis, mulai mengalokasikan sekitar 3% portofolionya ke emas setelah krisis keuangan 2008 dan tidak pernah mengubah keputusan tersebut. Ia hanya mengalihkan sebagian investasinya ke koin emas fisik karena menilai memegang koin emas secara langsung memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan sekadar memiliki instrumen yang merepresentasikan emas.

Elias juga memilih tidak mengubah strateginya meskipun harga emas sedang berfluktuasi. Menurutnya, koreksi harga yang terjadi saat ini merupakan sesuatu yang normal dan bukan alasan untuk mengubah posisi investasinya.

Dampak Bagi Indonesia

Bagi investor Indonesia, perkembangan ini menunjukkan bahwa emas tidak selalu bergerak naik ketika konflik geopolitik meningkat. Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat Indonesia semakin akrab dengan investasi emas digital maupun emas fisik. Namun, dinamika global mengingatkan bahwa harga emas tetap dipengaruhi kombinasi berbagai faktor, mulai dari kebijakan suku bunga Amerika Serikat, inflasi global, hingga pergerakan dolar AS. Karena itu, keputusan investasi sebaiknya tidak hanya didasarkan pada sentimen perang atau ketidakpastian internasional.

Koreksi harga emas juga menjadi pengingat penting mengenai prinsip diversifikasi aset. Meskipun emas tetap memiliki fungsi sebagai pelindung nilai dalam jangka panjang, investor domestik perlu menempatkannya sebagai salah satu bagian dari portofolio, bukan satu-satunya instrumen investasi. Pergerakan harga beberapa bulan terakhir menunjukkan bahwa bahkan aset safe haven pun tetap mengalami siklus kenaikan dan penurunan.

Pelajaran terbesarnya bukan sekadar apakah harga emas akan kembali mencetak rekor, melainkan bagaimana masyarakat memahami bahwa setiap instrumen investasi memiliki risiko. Emas tetap relevan sebagai penyimpan nilai dalam jangka panjang, tetapi kondisi ekonomi global saat ini menunjukkan bahwa hubungan antara perang, inflasi, suku bunga, dan harga emas semakin kompleks. Literasi investasi yang baik menjadi lebih penting daripada sekadar mengikuti tren harga.