Ulasan How to Get Rich in American History

39
Rich

(Vibiznews-Kolom) How to Get Rich in American History karya Joseph S. Moore berbeda dari kebanyakan karya yang berisi nasihat keuangan. Moore mempertanyakan anggapan populer bahwa harga saham pada umumnya selalu naik. Ia juga memiliki pandangan yang campur aduk mengenai potensi real estat sebagai sarana membangun kekayaan, meskipun justru dari sanalah ia memperoleh kekayaannya sendiri. Ia tidak terlalu mementingkan diversifikasi aset dan justru mendorong pembaca untuk berani mengambil risiko, bahkan berutang.

Menurut Moore, semakin miskin seseorang, semakin sedikit pula yang harus dipertaruhkan. Ia berpendapat bahwa hampir semua orang yang memulai usaha tanpa modal pada akhirnya harus meminjam uang untuk memulai. Ia mencontohkan Benjamin Franklin muda yang terlilit utang dalam jumlah besar demi merintis bisnis percetakannya. Pernyataan Moore yang terdengar ringan, bahwa “bangkrut kini lebih baik daripada sebelumnya”, sebenarnya memiliki makna historis yang serius: sistem kebangkrutan modern jauh lebih mudah diakses dan jauh lebih baik dibandingkan hukuman penjara bagi orang berutang yang pernah berlaku pada masa lalu.

Moore juga berpendapat bahwa kekayaan warisan terlalu dibesar-besarkan nilainya dan jarang mampu bertahan lama. Salah satu nasihat finansial terbaik yang ia berikan adalah memilih pasangan hidup dengan tepat. Menurutnya, mekanisme penyaringan yang digunakan aplikasi kencan sering kali mengabaikan kualitas yang sesungguhnya penting dalam diri pasangan, seperti etos kerja, kemampuan bertahan menghadapi masa-masa sulit, serta karakter keluarganya.

How to Get Rich in American History menganjurkan pendekatan aktif, bukan pasif, dalam menghasilkan uang. Moore menegaskan bahwa kekayaan umumnya dibangun, bukan ditemukan begitu saja. Menyewakan kamar kepada orang lain atau membangun usaha sendiri, menurutnya, merupakan strategi yang lebih baik daripada sekadar membeli saham lalu berharap nilainya meningkat. “Gerbang menuju impian Amerika,” tulis Moore, “tidak terbuka melalui aplikasi perdagangan saham.”

Meski demikian, karya ini juga memiliki kelemahan yang lazim ditemukan dalam genre sejenis. Moore menyajikan berbagai kisah keuangan dari sejarah Amerika, tetapi pembahasannya sering kali terasa terlalu ringan dan dangkal. Misalnya, ia hanya menghabiskan sedikit lebih dari satu halaman untuk membahas demam peternakan sapi yang menarik banyak lulusan Harvard, termasuk Theodore Roosevelt, ke wilayah Barat Amerika pada akhir abad ke-19. Ia juga menulis bahwa Stephen Girard “selama dua puluh lima tahun menjadi orang terkaya di negara itu”, tetapi tidak menjelaskan bagaimana bankir kelahiran Prancis tersebut memperoleh kekayaannya, bahkan tidak menyebutkan kapan ia hidup.

Nada penulisan Moore yang terdengar meyakinkan juga sedikit terganggu oleh kesan riset yang terburu-buru. Ia menulis bahwa “pada tahun 1863 Kongres melahirkan mata uang Amerika Serikat pertama yang stabil, yaitu greenback.” Faktanya, uang kertas greenback yang berstatus alat pembayaran sah telah diterbitkan pada 1862, sedangkan undang-undang tahun berikutnya justru melahirkan mata uang lain berupa national bank notes. Ia juga keliru ketika membahas Warren Buffett dengan menyatakan bahwa Berkshire Hathaway tidak lagi memproduksi pakaian “selama lebih dari lima puluh tahun”, padahal perusahaan tersebut baru menutup operasi tekstilnya 41 tahun yang lalu. Moore juga mengklaim bahwa Buffett “secara aktif membimbing” para eksekutif perusahaan di bawah naungan Berkshire Hathaway, padahal Buffett justru dikenal sebagai salah satu pemimpin korporasi yang paling minim melakukan campur tangan.

Moore menulis bahwa pasar perumahan merupakan cara yang buruk untuk menghasilkan uang jika dibandingkan dengan industri lain. Namun, di sisi lain ia juga mengakui bahwa real estat adalah cara yang luar biasa untuk membangun kekayaan dalam skala moderat. Ia mencoba menjelaskan kontradiksi tersebut dengan membedakan investasi properti aktif dan pasif. Ia mendukung pembelian properti yang kemudian diperbaiki atau dikembangkan, bukan memperdagangkan surat berharga berbasis hipotek atau sekadar menunggu harga rumah naik. Uang yang sesungguhnya,tulisnya, berasal dari aktivitas yang aktif.

Pandangannya yang cenderung mengutamakan kerja langsung memang menarik, tetapi terkadang terlalu menyamaratakan. Mengalokasikan modal bukan berarti tidak melakukan apa-apa, seperti yang ia kesankan, dan tidak semua orang memiliki kemampuan untuk memulai sebuah usaha. Ia juga berpendapat bahwa bunga majemuk—misalnya dari portofolio obligasi—terlalu dilebih-lebihkan karena seseorang tidak bisa menikmati hasil modalnya apabila ingin modal tersebut terus bertumbuh. Pernyataan itu memang benar, tetapi hal yang sama juga berlaku bagi bisnis nyata. Seorang pedagang dapat memilih untuk menginvestasikan kembali keuntungannya atau membelanjakannya, tetapi tidak dapat melakukan keduanya sekaligus.

Sampul karya ini juga hanya memberikan sedikit informasi mengenai latar belakang Moore. Di sana hanya disebutkan bahwa ia bergelar doktor serta digambarkan secara umum sebagai penulis, sejarawan, dan investor. Dalam tulisannya, Moore memang sedikit menceritakan kisah hidupnya. Ia dibesarkan di wilayah selatan Amerika Serikat dalam keluarga yang sederhana dan sangat menghormati neneknya. Para perempuan dalam keluarganya bekerja mencari nafkah. Ia pernah mencoba berbagai skema cepat kaya namun gagal, terlilit utang, menikah dengan pasangan yang tepat, lalu mengambil risiko besar dengan membeli properti sewaan setelah krisis keuangan 2008–2009. Mungkin, menurutnya, pengalaman seperti itulah yang dibutuhkan.

Sebagaimana karya-karya nasihat keuangan pada umumnya, tulisan ini juga dipenuhi berbagai peringatan untuk melindungi penulis apabila sarannya tidak berhasil. Karena itu Moore menulis, Tidak ada satu pun yang selalu berhasil. Di banyak bagian, karya ini tampak ingin mengambil dua posisi sekaligus. Ia memperingatkan pembaca agar tidak percaya pada prediksi para ahli, tetapi di sisi lain menyarankan agar mempercayai para guru terbaik. Pada satu bagian ia menganjurkan pembaca segera memotong kerugian, tetapi pada bagian lain ia justru menyarankan agar tetap bertahan di pasar.

Terlepas dari berbagai kekurangannya, How to Get Rich in American History tetap menawarkan sejumlah gagasan yang orisinal. Moore menyarankan agar seseorang memusatkan asetnya terlebih dahulu dan baru melakukan diversifikasi demi keamanan setelah benar-benar menjadi kaya. Ia juga mengingatkan agar tidak terlalu terobsesi menghindari pajak. Menurutnya, investasi sebaiknya dilakukan berdasarkan kualitasnya, sementara kewajiban pajak tetap harus dibayar sebagaimana mestinya. Moore juga menyampaikan argumen yang kuat bahwa pekerjaan domestik yang dilakukan perempuan selama ini secara historis kurang dihargai. Untuk ukuran sebuah karya yang membahas cara menjadi kaya, tulisan ini justru memiliki sisi kemanusiaan yang cukup menyentuh. Moore mengaku menyesal karena pernah terlalu banyak menghabiskan waktu mengikuti tayangan Jim Cramer di CNBC ketika putrinya sedang belajar berjalan.

Moore menolak pesimisme yang sering dikemukakan kalangan kiri antikapitalis. Meskipun mengakui bahwa berbagai data menunjukkan melambatnya mobilitas sosial ke atas, ia tetap meyakini bahwa peluang untuk meraih kesuksesan masih terbuka lebar. Ia juga menegaskan bahwa meskipun ketimpangan di Amerika Serikat lebih tinggi, pendapatan median masyarakat Amerika masih jauh melampaui pendapatan median di negara-negara Eropa.

Dalam penelitiannya, Moore membaca banyak sekali panduan bertani dan pedoman pengelolaan rumah tangga dari abad ke-18 dan ke-19. How to Get Rich in American History masih mempertahankan nuansa moral yang kuat sebagaimana karya-karya dari masa tersebut. Pada akhirnya, Moore tampaknya paling menghargai pandangan Adam Smith. Dalam The Wealth of Nations (1776), filsuf asal Skotlandia itu menulis bahwa kekayaan besar merupakan hasil dari kehidupan panjang yang dipenuhi kerja keras, hidup hemat, dan perhatian yang sungguh-sungguh.