Perubahan Statistik Diproyeksikan Menurunkan Tekanan Inflasi Amerika Serikat

48
Inflasi Juli 2025 Tetap Terjaga Statistik
Sumber: Bank Indonesia

(Vibiznews-Kolom) Percepatan inflasi berdasarkan ukuran yang paling diperhatikan Federal Reserve telah memunculkan kekhawatiran di kalangan sejumlah pejabat bahwa suku bunga mungkin masih perlu dinaikkan. Namun, penurunan tekanan inflasi diperkirakan akan datang bukan karena harga-harga mengalami penurunan, melainkan akibat perubahan dalam metode pengukurannya.

Lembaga yang menyusun indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE), yang menjadi acuan utama Federal Reserve, akan memperbarui metode perhitungan untuk tiga komponen utama. Para ekonom memperkirakan perubahan tersebut akan menurunkan inflasi inti PCE, yaitu ukuran inflasi yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi agar lebih mencerminkan tekanan harga yang mendasar.

Ketika metode baru mulai diterapkan pada data Agustus yang dijadwalkan dipublikasikan pada 30 September, inflasi inti PCE diperkirakan sekitar 0,2 poin persentase lebih rendah dibandingkan hasil perhitungan menggunakan formula sebelumnya. Penyesuaian tersebut juga diperkirakan akan mengurangi perbedaan yang selama ini muncul antara inflasi PCE dan indeks harga konsumen (Consumer Price Index/CPI).

Pada Juni, inflasi inti CPI secara tahunan tercatat sebesar 2,6%, sedangkan inflasi inti PCE diperkirakan mencapai 3,3%. Dalam kondisi normal, inflasi CPI umumnya sedikit lebih tinggi daripada PCE. Namun kali ini, PCE berada pada tingkat yang lebih tinggi karena penghitungan komponen perangkat lunak dan jasa pengelolaan investasi yang dinilai akan mengalami revisi sehingga kenaikan harganya menjadi lebih rendah.

Perubahan metodologi statistik sebenarnya merupakan praktik yang lazim dilakukan oleh lembaga statistik. Namun, revisi kali ini mendapat perhatian lebih besar karena berlangsung ketika arah kebijakan moneter masih menjadi perdebatan. Meskipun dampaknya relatif kecil, penurunan angka inflasi tersebut berpotensi mengurangi alasan bagi Federal Reserve untuk kembali menaikkan suku bunga.

Perubahan tersebut juga muncul ketika pelaku pasar semakin sensitif terhadap kemungkinan adanya campur tangan politik dalam penyusunan data ekonomi. Meski tidak terdapat bukti bahwa perubahan metodologi dipengaruhi pertimbangan politik, terbatasnya penjelasan mengenai revisi tersebut memunculkan berbagai pertanyaan di kalangan ekonom.

Bureau of Economic Analysis (BEA) akan memperbarui cara menghitung biaya jasa pengelolaan investasi, perangkat lunak, dan jasa hukum. Revisi itu juga akan diterapkan secara retroaktif terhadap data lima tahun terakhir.

BEA sebagian besar menggunakan data harga yang dikumpulkan oleh Bureau of Labor Statistics (BLS), kemudian mengolahnya kembali dengan metode perhitungannya sendiri. Perbedaan pendekatan antara kedua lembaga tersebut selama ini dinilai menjadi salah satu penyebab munculnya perbedaan hasil pengukuran inflasi.

Sebagai contoh, pengukuran harga perangkat lunak sebelumnya masih menggunakan indeks biaya komputasi yang juga mencakup sejumlah perangkat keras, termasuk flash drive. Harga perangkat tersebut meningkat tajam akibat tingginya permintaan yang dipicu perkembangan kecerdasan buatan, sehingga kenaikan harga perangkat keras ikut tercermin dalam indeks perangkat lunak.

Formula baru akan menggabungkan data tambahan mengenai perangkat lunak video game dan layanan web hosting, sehingga diharapkan mampu memisahkan kenaikan harga perangkat lunak dari pengaruh perangkat keras. Ekonom UBS Alan Detmeister memperkirakan perubahan tersebut akan menurunkan inflasi PCE sekitar 0,1 poin persentase.

BEA juga mengubah metode pengukuran biaya jasa pengelolaan investasi. Selama ini biaya yang dibayarkan investor kepada manajer investasi meningkat ketika nilai aset yang dikelola ikut bertambah akibat penguatan pasar saham. Sebagian ekonom menilai kondisi tersebut lebih mencerminkan peningkatan volume layanan dibandingkan kenaikan harga jasa yang sama.

Stephen Miran, yang sebelumnya menjabat sebagai Gubernur Federal Reserve, pernah menyampaikan bahwa kenaikan biaya tersebut seharusnya tidak sepenuhnya diperlakukan sebagai inflasi karena besarnya aset yang dikelola juga meningkat. Untuk mengatasi persoalan tersebut, BEA akan menggunakan metode baru yang membandingkan pendapatan perusahaan keuangan dengan jumlah pekerjaan yang benar-benar dilakukan dalam industri tersebut. Alan Detmeister memperkirakan perubahan ini dapat menurunkan inflasi sekitar 0,2 poin persentase.

Sementara itu, metode penghitungan biaya jasa hukum juga mengalami perubahan. Selama ini BEA menggunakan data dari CPI, meskipun BLS telah menghentikan publikasi data jasa hukum akibat kendala pengumpulan data. Kini data tersebut akan digantikan oleh indeks harga produsen (Producer Price Index/PPI), yang diperkirakan justru akan sedikit meningkatkan inflasi.

Menurut Vikas Patel dari Employ America, dampak penurunan inflasi akibat perubahan pada komponen perangkat lunak dan jasa pengelolaan investasi kemungkinan akan lebih besar dibandingkan kenaikan yang berasal dari jasa hukum. Dengan demikian, secara keseluruhan revisi metodologi tersebut diperkirakan tetap akan menurunkan inflasi PCE.

Meskipun demikian, penurunan beberapa persepuluh poin persentase dinilai tidak akan mengubah gambaran besar mengenai inflasi Amerika Serikat yang masih berada di atas target 2% Federal Reserve selama lebih dari lima tahun terakhir. Ketua Federal Reserve Kevin Warsh juga pernah menyampaikan bahwa dirinya tidak terlalu mempersoalkan perbedaan angka yang sangat kecil dan lebih memilih melihat kecenderungan inflasi secara keseluruhan.

Namun demikian, ketika para pejabat Federal Reserve masih berbeda pandangan mengenai perlunya kenaikan suku bunga, penurunan inflasi sekecil apa pun tetap berpotensi memengaruhi arah pengambilan keputusan kebijakan moneter.

BEA menjelaskan bahwa revisi metodologi tersebut merupakan bagian dari penyesuaian rutin yang setiap tahun dilakukan bersamaan dengan pembaruan data lima tahun terakhir. Lembaga tersebut juga menegaskan bahwa seluruh perubahan disusun oleh staf profesional untuk menjaga akurasi dan keandalan statistik ekonomi, tanpa mempertimbangkan faktor lain di luar aspek teknis.

Bagaimana dengan Indonesia?

Meskipun Indonesia tidak menggunakan Personal Consumption Expenditures (PCE) sebagai acuan inflasi seperti Amerika Serikat, perubahan metodologi statistik di AS tetap memiliki arti penting bagi perekonomian Indonesia. Jika revisi tersebut membuat inflasi AS terlihat lebih rendah, peluang Federal Reserve untuk menahan atau menurunkan suku bunga akan semakin besar. Kondisi ini dapat mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah, menjaga stabilitas arus modal asing ke pasar keuangan Indonesia, serta menurunkan volatilitas di pasar obligasi domestik.

Di dalam negeri, inflasi diukur menggunakan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang disusun oleh Badan Pusat Statistik (BPS). BPS juga secara berkala memperbarui metodologi, termasuk tahun dasar, pola konsumsi masyarakat, serta komposisi keranjang barang dan jasa agar mencerminkan kondisi ekonomi terkini. Namun, perubahan tersebut umumnya bertujuan meningkatkan akurasi pengukuran, bukan untuk mengubah arah kebijakan atau menurunkan angka inflasi secara administratif.

Bagi Indonesia, yang lebih penting daripada perubahan statistik di Amerika Serikat adalah arah kebijakan moneter yang dihasilkan dari data tersebut. Jika inflasi AS benar-benar melandai setelah revisi metodologi dan Federal Reserve menjadi lebih dovish, Bank Indonesia memiliki ruang yang lebih besar untuk menjaga stabilitas suku bunga sambil tetap mendukung pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, jika tekanan inflasi global tetap tinggi meskipun metode pengukuran berubah, ruang pelonggaran kebijakan moneter di Indonesia akan tetap terbatas karena stabilitas nilai tukar dan arus modal masih menjadi pertimbangan utama.