Harga Minyak Jumat Bergerak Turun Seiring Meningkatnya Pelayaran di Selat Hormuz

58

(Vibiznews – Commodity) – Harga minyak mentah dunia terpantau bergerak melemah lebih dari satu persen pada perdagangan pasar komoditas internasional sesi akhir pekan hari Jumat (31/7/2026). Penurunan harian ini terjadi seiring dengan pulihnya kembali distribusi pasokan fisik di jalur-jalur pelayaran utama, meskipun secara keseluruhan sentimen geopolitik masih sangat membayangi pergerakan pasar energi.

Berdasarkan data perdagangan hari ini, kontrak berjangka minyak mentah acuan global jenis Brent merosot ke kisaran 85,87 hingga 86,99 dolar AS per barel, atau mencatatkan pelemahan sekitar 1,16 persen hingga 1,6 persen. Sementara itu, minyak acuan Amerika Serikat jenis West Texas Intermediate (WTI) jatuh sebesar 1,46 persen ke level 82,37 dolar AS per barel. Sepanjang sesi perdagangan hari ini, WTI terpantau berfluktuasi pada rentang 81,06 dolar AS hingga sempat menyentuh level tertinggi hariannya di 84,32 dolar AS per barel sebelum akhirnya terkoreksi turun.

Meskipun harus menghadapi aksi jual pada penghujung pekan ini, kedua patokan harga minyak mentah global tersebut tetap berada di jalur pencapaian kinerja bulanan yang sangat mengesankan. Secara akumulatif, harga minyak mentah telah mencatatkan penguatan yang signifikan sebesar kurang lebih 20 persen sepanjang bulan Juli 2026. Kenaikan bulanan yang masif ini utamanya ditopang oleh tingginya premi risiko geopolitik yang terus dihitung oleh para pelaku pasar di tengah rentetan konflik di Timur Tengah.

Tekanan jual harian yang menekan pergerakan harga pada sesi Jumat ini dipicu oleh laporan meningkatnya arus lalu lintas kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz. Peningkatan aktivitas pengapalan muatan ini berhasil memperlonggar kekhawatiran jangka pendek pasar terhadap ancaman kemacetan logistik yang sempat memuncak dalam beberapa hari terakhir. Lebih lanjut, upaya koalisi internasional serta optimalisasi jalur pipa darat alternatif yang menghindari perairan Laut Merah, seperti penggunaan pipa tanggap darurat Fujairah, turut meredam kepanikan investor atas ancaman blokade pada titik sempit maritim.

Selain perbaikan pada jalur logistik, arah kebijakan pasokan global juga menjadi faktor penahan reli harga. Para investor di bursa berjangka mulai mengantisipasi dan memperhitungkan realisasi pelonggaran pemotongan pasokan sukarela oleh aliansi negara produsen minyak OPEC+. Pelonggaran kuota produksi ini dijadwalkan akan mulai diimplementasikan secara bertahap pada bulan depan, yang mengisyaratkan akan adanya tambahan pasokan ke dalam pasar global.

Kendati berbagai faktor tersebut memicu aksi ambil untung, penurunan harga minyak hari ini tertahan oleh ketegangan geopolitik yang masih jauh dari kata usai. Penurunan harga tidak berlanjut lebih dalam karena militer Amerika Serikat dilaporkan kembali meluncurkan serangan udara baru terhadap target-target yang terafiliasi dengan Iran di kawasan Timur Tengah. Tindakan ini merupakan respons langsung atas serangan sebelumnya terhadap aset militer Washington. Dinamika ini menjaga premi risiko geopolitik tetap tinggi, mengingat prospek penyelesaian ketegangan melalui jalur diplomasi semakin meredup.

Untuk pergerakan selanjutnya, harga minyak mentah jenis Brent berjangka diperkirakan akan bertemu kisaran resisten di 88,20 – 89,50 dan support di 85,00 – 83,50. Sementara itu, untuk harga minyak mentah WTI berjangka diproyeksikan akan menemui kisaran resisten di 84,10 – 85,80 dan support di 80,50 – 79,00.