Harga Minyak Sawit Senin Berakhir Turun Tertekan Penurunan Pasar Minyak Nabati

64
cpo sawit

(Vibiznews – Commodity) – Harga kontrak berjangka minyak sawit mentah atau CPO untuk kontrak acuan di Bursa Malaysia Derivatives terpantau bergerak konsolidasi pada perdagangan hari ini, Senin (3/8/2026), setelah sempat melorot pada akhir pekan lalu. Kontrak acuan bertengger di kisaran RM4.643 per metrik ton, tertekan oleh rangkaian sentimen negatif yang datang dari pasar minyak nabati pesaing maupun pergerakan harga energi global.

Tekanan utama terhadap harga CPO dunia saat ini berasal dari koreksi harga minyak nabati saingan. Harga minyak kedelai di bursa Chicago Board of Trade maupun bursa Dalian Tiongkok tercatat melemah, sehingga memaksa harga minyak sawit ikut terkoreksi agar tetap kompetitif di pasar global. Pelemahan ini turut diperparah oleh meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menekan harga minyak mentah dunia, sehingga mengurangi daya tarik CPO sebagai bahan baku campuran biodiesel di pasar internasional.

Dari sisi permintaan, minimnya penyerapan dari negara importir utama seperti India menjadi salah satu pemicu utama tertahannya laju kenaikan harga sawit global belakangan ini. Lemahnya permintaan dari pasar Asia Selatan tersebut turut sejalan dengan tren pelemahan harga referensi CPO yang tercatat selama tiga bulan berturut-turut. Meski demikian, pasar sawit dunia masih mendapat penopang dari sentimen jangka menengah, salah satunya rencana implementasi wajib biodiesel B50 di Indonesia yang diperkirakan dapat menyerap hingga 18 juta ton CPO domestik per tahun. Potensi penyerapan besar ini berpotensi mengetatkan pasokan sawit di pasar ekspor global dan menjaga harga agar tidak merosot lebih dalam ke bawah level RM4.000 per metrik ton.

Sementara itu di dalam negeri, Kementerian Perdagangan secara resmi menetapkan Harga Referensi atau HR CPO untuk periode 1–31 Agustus 2026 sebesar US$996,52 per metrik ton, turun US$4,38 atau 0,44 persen dibandingkan HR periode Juli 2026 yang tercatat US$1.000,90 per metrik ton. Penurunan ini menandai koreksi bulanan ketiga secara beruntun dan membuat harga acuan sawit kembali menembus ke bawah level psikologis US$1.000 per metrik ton. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Tommy Andana menjelaskan bahwa penetapan HR CPO Agustus 2026 mengacu pada rata-rata harga selama periode 20 Juni hingga 19 Juli 2026, yakni US$892,96 per metrik ton di Bursa CPO Indonesia dan US$1.100,08 per metrik ton di Bursa CPO Malaysia, mengingat selisih harga dengan Port Rotterdam melebihi US$40 sehingga perhitungan dilakukan dengan metode median sesuai PMK Nomor 35 Tahun 2025.

Seiring dengan penurunan Harga Referensi tersebut, pemerintah turut menyesuaikan besaran pungutan perdagangan luar negeri untuk periode pengapalan Agustus 2026. Bea Keluar atau BK ditetapkan sebesar US$148 per metrik ton mengikuti skema PMK Nomor 68 Tahun 2025, sementara Pungutan Ekspor atau PE dipatok konsisten pada level 12,5 persen dari HR, atau setara US$124,56 per metrik ton. Dengan demikian, total beban ekspor yang harus ditanggung eksportir sawit nasional secara akumulatif mencapai US$272,56 per metrik ton untuk bulan ini.