(Vibiznews-Kolom) Para investor di Wall Street selama ini mempertanyakan bagaimana perusahaan-perusahaan teknologi raksasa akan memperoleh imbal hasil dari belanja besar mereka di bidang kecerdasan buatan (AI). Kini, semakin banyak pelaku pasar yang menilai bahwa komputasi awan (cloud computing) merupakan jawaban paling nyata terhadap pertanyaan tersebut.
Amazon.com, Microsoft, dan Google milik Alphabet sama-sama memiliki bisnis komputasi awan yang berkembang pesat selama ledakan AI. Para pelanggan, mulai dari laboratorium AI hingga perusahaan-perusahaan besar, terus berlomba menyewa akses terhadap chip dan infrastruktur komputasi milik mereka. Tingginya permintaan bahkan membuat kapasitas penyediaan layanan menjadi kendala yang lebih besar dibandingkan minimnya minat pasar.
Berbeda dengan berbagai skema lain yang ditawarkan perusahaan untuk memperoleh keuntungan dari investasi AI, seperti pendapatan iklan chatbot maupun biaya berlangganan model AI, model bisnis komputasi awan dinilai jauh lebih mudah dipahami. Perusahaan teknologi membangun atau menyewa pusat data beserta perangkat komputasinya, kemudian menyewakan kapasitas tersebut melalui layanan cloud untuk mengembalikan investasi dalam beberapa tahun. Walaupun membutuhkan modal sangat besar, model tersebut terbukti mampu menghasilkan margin keuntungan yang tinggi. Pada kuartal kedua, Amazon Web Services (AWS) membukukan margin laba operasional sebesar 39 persen.
Chief Executive Amazon Andy Jassy menjelaskan bahwa AWS merupakan bisnis yang memiliki pertumbuhan sangat cepat sekaligus memberikan tingkat kepastian yang tinggi. Ia mengatakan bahwa investasi pada peralatan komputasi rata-rata mencapai titik impas dalam waktu kurang dari tiga tahun, sedangkan sebagian besar kontrak dengan pelanggan AI memiliki durasi sedikitnya lima tahun. Menurutnya, kondisi tersebut memberikan peluang yang besar bagi Amazon untuk terus menghasilkan keuntungan dari investasi yang telah dilakukan.
Jassy juga menyampaikan bahwa kombinasi pendapatan, arus kas bebas, serta tingkat pengembalian atas modal yang diinvestasikan memberikan prospek yang sangat menarik bagi perusahaan.
Namun, pada fase ekspansi yang sedang berlangsung saat ini, Amazon masih mencatatkan arus kas bebas negatif karena besarnya belanja modal. Dalam beberapa bulan terakhir, pasar cenderung kurang menyukai arus kas keluar yang besar akibat kekhawatiran mengenai kemampuan perusahaan hyperscaler menghasilkan pengembalian dari investasi AI yang nilainya mencapai puluhan hingga ratusan miliar dolar.
Belakangan, pandangan investor mulai berubah. Mereka semakin percaya bahwa pengeluaran besar untuk AI dapat dibenarkan selama perusahaan memiliki bisnis komputasi awan yang mampu mengubah investasi tersebut menjadi sumber pendapatan berulang.
Optimisme itu tercermin pada pergerakan saham Amazon yang melonjak setelah perusahaan melaporkan pertumbuhan pendapatan AWS sebesar 37 persen pada kuartal terakhir, jauh melampaui perkiraan analis yang berada di kisaran 31 persen. Microsoft juga menikmati kenaikan harga saham yang signifikan setelah unit Azure mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 43 persen, lebih tinggi dari ekspektasi pasar. Sejak keduanya merilis laporan keuangan, nilai kapitalisasi pasar gabungan Amazon dan Microsoft telah bertambah sekitar US$950 miliar.
Saham Alphabet sempat melemah setelah perusahaan meningkatkan anggaran belanja modal tahunannya. Namun, kekhawatiran investor berangsur mereda karena unit cloud Google mampu membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar 82 persen. Dalam satu pekan terakhir, saham Alphabet bahkan berhasil naik sekitar 10 persen sehingga mampu menutup seluruh penurunan yang terjadi sebelumnya.
AI dipandang sebagai pendorong utama pertumbuhan industri komputasi awan. Perusahaan maupun pengembang AI membutuhkan kapasitas komputasi yang terus meningkat, sementara menyewa infrastruktur melalui cloud menjadi pilihan yang lebih cepat dan lebih praktis dibandingkan membangun fasilitas sendiri. Kontrak-kontrak bernilai jumbo juga turut meningkatkan pendapatan dan akumulasi pesanan. Salah satu contohnya adalah kontrak lebih dari US$100 miliar selama sepuluh tahun yang ditandatangani AWS bersama Anthropic pada April lalu.
Selain ledakan AI, terdapat tren lain yang sebenarnya telah berlangsung sejak sebelum era AI berkembang pesat. Semakin banyak perusahaan memindahkan beban kerja komputasi mereka ke cloud dan mengurangi investasi pada infrastruktur teknologi informasi milik sendiri. Survei Piper Sandler terhadap para pemimpin bidang teknologi informasi pada Juni menunjukkan bahwa mereka memperkirakan belanja teknologi meningkat sekitar 5 persen tahun ini. Sebagian besar responden berencana meningkatkan anggaran komputasi awan, sedangkan hanya sebagian kecil yang akan menambah investasi pada perangkat komputasi internal.
Kombinasi kedua tren tersebut membuat target AWS menjadi bisnis dengan pendapatan tahunan sebesar US$1 triliun tidak lagi terdengar sepenuhnya mustahil, meskipun angka tersebut masih jauh dari kondisi saat ini. Berdasarkan proyeksi FactSet, AWS diperkirakan menghasilkan pendapatan sekitar US$170 miliar sepanjang tahun ini.
Persaingan juga semakin ketat. Bisnis cloud Microsoft dan Google telah tumbuh lebih cepat dibandingkan AWS selama beberapa waktu terakhir. Keduanya kini menjadi penantang serius terhadap dominasi AWS di industri yang praktis dibangun Amazon hampir dua dekade lalu. Jika laju pertumbuhan tersebut terus berlanjut, bukan tidak mungkin Microsoft maupun Google mampu melampaui AWS sebelum dekade ini berakhir.
Meski demikian, seluruh proyeksi tersebut tetap bergantung pada keberlanjutan pertumbuhan AI. Apabila gelembung AI benar-benar pecah dan perusahaan seperti Anthropic, OpenAI, maupun pelanggan besar lainnya mengurangi investasi mereka, kontrak-kontrak bernilai besar kemungkinan akan dinegosiasikan ulang dan akumulasi pesanan dapat menyusut. Walaupun demikian, perusahaan-perusahaan cloud masih memiliki model bisnis yang telah terbukti menghasilkan keuntungan jauh sebelum AI menjadi fenomena global.
Keuntungan tersebut tidak dimiliki oleh sejumlah perusahaan AI yang belum mempunyai bisnis komputasi awan sendiri, termasuk Meta Platforms. Saham perusahaan media sosial itu turun sekitar 5 persen setelah laporan keuangannya menunjukkan sedikit kenaikan pada titik tengah proyeksi belanja modal tahun 2026.
Chief Executive Meta Mark Zuckerberg mengatakan bahwa Meta sedang mempertimbangkan untuk membangun bisnis komputasi awannya sendiri. Namun, ia mengakui bahwa apabila langkah tersebut direalisasikan, Meta akan memulai dari posisi yang jauh tertinggal dibandingkan tiga pemimpin industri saat ini.
Dalam upaya membedakan perusahaan AI yang berpotensi menjadi pemenang dan yang berisiko tertinggal, Wall Street kini semakin meyakini bahwa kepemilikan bisnis komputasi awan merupakan faktor pembeda yang paling menentukan.







